Apakah Seni itu Bebas?

Ilustrasi: Ilyich Minorink
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

SENI adalah ekspresi yang bergema dari dalam jiwa, tidak lebih dan cenderung mencerminkan perasaan, aspirasi, dan kerangka pikiran terdalam. Demikian merupakan praktik ekspresi yang radikal, ia muncul dari lingkungan sosial yang berbeda-beda.

Gagasan bahwa seni mampu berdiri di luar atau di atas masyarakat adalah kontradiksi yang cukup jelas. Sesungguhnya, seni, sastra, dan musik memiliki hukum dan cara sendiri yang bahkan tidak dapat menyatu menjadi suatau ekonomi, sosiologi, atau bahkan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat.

Seni adalah bentuk komunikasi. Tidak ada seorang pelukis yang gambarnya tidak ingin dilihat orang lain, tidak ada penulis yang menulis novel atau puisi hanya untuk konsumsi pribadi mereka, dan demikian juga artis. Seni atau sastra mesti memiliki sesuatu untuk disampaikan, agar ia bertindak sebagai pengirim pesan. Demikian, bahwa seni menghubungkan sesuatu yang khusus dengan yang umum.

Alan Woods menjelaskan bahwa gagasan yang hingga kini masih tumbuh, seperti bahwa cendikiawan atau artis itu bebas, namun kecenderungan ini bermula dari kesalahpahaman filosofis. Apa yang disebut kehendak bebas tidak pernah ada kecuali dalam filsafat dan agama idealis (yang pada dasarnya sama dengan hal yang sama). Seorang filsuf Jerman, Gottfried Wilhem Leibniz, beranggapan bahwa jika jarum dapat berpikir kemudian jarum tersebut menunjuk ke utara, itu adalah pilihan bebasnya.

Pada bagian yang lain, Sigmund Freud menghancurkan pahaman-pahaman bahwa pikiran dan tindakan manusia itu bebas. Pada penelitian berikutnya, menjelaskan bahwa cara kerja otak akhirnya telah menghancurkan mitos kehendak bebas tersebut. Semua tindakan kita dikondisikan, meskipun pada dasarnya kita tidak menyadarinya. Produksi intelektual cenderung dikondisikan oleh lingkungan sosial dan budaya, di mana mereka terbentuk.

Pada mulanya, dasar mazhab seni atau satra, naik dan turunnya, kerap berjalan rahasia dalam ajarannya, demikian terpisah dari suasana hati, begitu pun coraknya. Hal tersebut secara terpisah menciptakan cara berpikir dalam menentukan modenya. Babak tersebut menerangkan, sesuatu yang mustahil untuk memahami psikologi secara ijmal dari periode-periode keterasingan, faktor sosial dan historis, juga dari dasar mazhab seni atau satra tersebut.

Kelihatnya corak tersebut begitu dipengaruhi oleh perkembangan produksi manusia, atau perjuangan antar kelas dan kelompok yang berbeda dalam masyarakat, seperti hukum, agama, moral atau gaya filosofis yang terus mengalir.

Seni Untuk Siapa?

Baca juga:  Pelanggar HAM dan Perjuangan Merebut Ruang Kota

Sejak manusia memulai hidup dengan bekerja, secara sengaja manusia menghasilkan hal-hal yang indah, demikian dengan cara yang berbeda-beda. Yang kini kerap ditemui bahkan menjadi estetika keabadian yang nyata ditiap perjalanan manusia. Seperti arkeologi, lukisan dalam gua, guratan bergambar pada tiang dan dinding rumah kayu kuno atau manik-manik berukir, menunjukkan bahwa seni lahir berbarengan dengan corak pikir dan perkembangan produksi manusia. Bahkan jauh sebelum seni itu menjadi nilai tukar yang sangat berharga, seperti sekarang ini.

Umumnya, arkeologi, lukisan dalam gua, kalung, dan manik-manik berukir tidak memiliki nilai intrinsik selain dari kebutuhan elok manusia, setidaknya ini dari sudut pandang orang modern yang melihatnya. Pada babak manusia selanjutnya, manusia kerap mengklasifikasikan objek-objek tersebut dan bukan pada bentuk maupun warna pada sisi guratan atau lukisan tersebut, atau tombak sebagai tanda seni pada zaman kuno.

Kita mesti percaya bahwa benda-benda tersebut diproduksi untuk memenuhi keinginan mujarad manusia untuk menciptakan keindahan. Pada sisi yang lain, beberapa objek ini membutuhkan banyak upaya untuk dihasilkan.

Beberapa anggapan relatif tentang sekian banyak seni diciptakan, sebagai contoh, untuk menarik perhatian pasangan, beberapa manusia menghabiskan banyak energi untuk mengumpulkan benda-benda artistik atau membenahi bagian-bagian tubuh yang tampak buruk seperti rambut atau bagian tubuh lainnya. Dalam teori evolusi, ini adalah seleksi seksual. Namun perilaku tersebut justru keliru jika berada pada tubuh seni secara mutlak atau bentuk dari (hasil) seni.

Para antropolog telah memadati penelitian tentang perilaku-perilaku tersebut, menarik pasangan hanyalah satu dari banyak motif untuk produksi artistik atau corak dari proses penciptaan dan perkembangan seni. Jadi tidak mungkin seni berkembang melalui seleksi seksual.

Seni dalam masyarakat primitif selalu dikaitkan dengan praktik ritual, hal ini bermaksud untuk memastikan kesejahteraan para praktisi dan komunitas mereka, demikian dengan berbagai cara. Seperti halnya seni prasejarah, banyak diantaranya menganjurkan mode yang sama, misalnya sebagai motivasi.

Sebagai contoh, lukisan dalam gua yang dibuat sebagai praktik magis dalam upaya untuk membuat mereka lebih mudah dalam berburu binatang yang mereka lukis. Tetapi banyak binatang yang mereka lukis adalah predator, bukan binatang buruan mereka. Seperti yang telah ditemukan di Kutub Totem, Pesisir Barat Laut Amerika Utara.

Baca juga:  Keabstrakan Sebuah Simbol dan Matinya Nilai Guna dalam Simbol

Upaya penduduk Totem untuk mendapatkan binatang buruannya dengan membuat sejumlah lukisan atau patung dengan ciri-ciri binatang buruannya tersebut, seperti beruang yang tangguh, singa yang ganas dan elang dengan mata yang tajam. Penduduk Totem juga membuat simbol persatuan atau bentuk integrasi sosial sebagai identitas sesama suku.

Demikian membuktikan bahwa tidak ada seni primitif yang diproduksi untuk kepentingannya sendiri. Orang primitif bahkan tidak punya kata untuk seni. Apa yang kita sebut sebagai produksi artistik yang erat kaitannya dengan budaya secara umum, bagaimana orang mengatur bersama dan melakukan hal-hal untuk bertahan hidup dan bereproduksi.

Jelas, bahwa gagasan borjuis konvensional tentang seni sebagai sesuatu yang terpisah dari kenyataan yang lain, tidak masuk akal sama sekali dalam masyarakat tersebut.

Seni Dalam Masyarakat Kapitalis

Masyarakat terbagi menjadi kelas-kelas antagonistik. Hal ini memunculkan ideologi yang saling bertentangan, dan mencerminkan kepentingan kelas yang berbeda. Ide moderen, gaya hidup dan arus filosofis, moral, religius dan politik, memberikan efek yang kuat pada tiap perkembangan pemikiran manusia.

Setiap masa memiliki cita-cita budaya dan estetika yang melekat, dan berbeda. Model-model artistik dari satu masa tidak pernah dapat diulang secara memuaskan di masa lain yang berada di bawah pengaruh kelas-kelas yang berbeda dengan psikologi dan rasa estetika yang berbeda pula.

Pada sisi yang lain, ketika nilai seni yang sesungguhnya mati dan menghilang, manusia secara bersamaan pun meninggalkan residu dan tradisi yang pernah ada, dan pada gilirannya akan mengkondisikan generasi seniman selanjutnya.

Seni tidak lagi dimulai pada setiap generasi, atau secara ekonomi, filsafat, ilmu pengetahuan atau teknologi, setiap periode harus berdiri di atas bahu generasi sebelumnya. Seperti halnya musik atau sastra berkehendak terhubung dengan yang lain.

Sebagai contoh, sebuah sekolah seni berkehendak mengulang atau menerapkan corak seni yang pernah ada sebelumnya, namun sekolah seni tersebut juga dapat berkehendak lain, seperti dengan mengembangkan bentuk-bentuk baru. Akan tetapi, demikian pun bentuk beru sekolah seni tersebut sebenarnya dikondisikan oleh pola yang lama. Seperti halnya musik atau artis, pelukis dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentunya kita memahami hukum tarik-menarik dan saling dorong yang dialektis.

Dalam masyarakat pra-kapitalis, seni memiliki beberapa tujuan yang sama dan beberapa tujuan yang baru. Seperti uraian sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan bahwa seni hidup dan mati adalah bagian dari manusia, manusia bekerja untuk bertahan hidup, meski pada sisi yang lain untuk menumpuk kekayaan secara pribadi. Akan tetapi, bagi masyarakat pekerja, seni adalah nilai dari proses kerjanya, seperti halnya pemahat kayu atau pembuat sepatu. Ketika proses produksi berjalan, eskpresi dan pikiran akan tertumpah, dan seni akan lahir darinya.

Baca juga:  Melihat Dampak Pertambangan, Dema Fakultas Adab dan Humaniora Gelar Bedah Film Sexy Killers

Feodal Eropa pada abad pertengahan, misalnya, hampir semua pelukis dan musisi profesional bekerja untuk raja, bangsawan, dan terutama gereja. Seni religius khususnya tidak dibuat untuk ekspresi diri para seniman, beberapa di antaranya untuk mendidik masyarakat yang buta huruf dalam doktrin agama dan untuk mengikat orang percaya ke gereja sebagai bagian dari ritual.

Di sini kita melihat kesinambungan antara praktik-praktik ritual masyarakat yang lebih primitif. Tetapi dalam hal ini, seni justru membantu peran gereja sebagai kepala propagandis untuk kelas kapitalis di mana monarki dan ketuhanan disucikan.

Menciptakan seni sebagai konsumsi kelas bangsawan, atau hukum, religius dan kekuasaan. Demikian menunjukan bahwa seni seolah diciptakan untuk kepentingan sendiri, yang juga tidak luput dari kepentingan borjuis.

Kemegahan bangunan dan artistik istana Kaisar Frank Charlemagne pada awal abad kesembilan, misalnya. Semata-mata diciptakan untuk menujukan kemewahannya, dan membuat kagum setiap orang yang mengunjungi istananya. Sementara itu adalah seni rakyat yang dibuat oleh kaum tani yang dikuasai oleh penguasa feodal Eropa saat itu. Dalam riwayatnya, ini memiliki tujuan magis dan praktis, yang cenderung sama seperti mode sistem ekonomi primitif.

Friedrich Engels menjelaskan bahwa dalam masyarakat di mana seni, dan sains di monopoli segelintir orang, secara sengaja segelintir orang tersebut akan memanfaatkan dan menyalahgunakan posisinya untuk kepentingannya sendiri. Dan ini akan selalu menjadi masalah, selama masyarakat dipaksa bekerja berjam-jam demi untuk mendapatkan kebutuhan-kebutuhan dasarnya.

Dalam masyarakat kapitalis, seni dibentuk sedemikian rupa untuk memisahkan masyarakat dan memindahkan mereka kedalam kelas miskin, tidak hanya dalam bentuk materi namun juga dalam bentuk spiritual. Selama kontrol dan kekuasaan ini terus ada, masyarakat akan terus terbelah secara antagonis. Dengan demikian, sosialisme mendorong manusia memiliki akases bebas atas seni dan budaya.[*]

 

Penulis: Ahmad Mukhlis .H
Editor: Suherman JF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.