Belajar dari Kepemimpinan Vladimir Lenin dan Fidel Castro

Ilustrasi: Seaksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

SAAT ini di Indonesia sangat marak dengan pembahasan, pendiskusian, serta pemberitaan mengenai pemimpin yang cocok untuk menangani masyarakat Indonesia. Diskusi di warung-warung kopi, di kampus, kamar kontrakan, serta di media-media arus utama juga tidak ketinggalan dalam pembahasan mengenai hal ini.

Ada banyak konsep kepemimpinan dan juga tokoh-tokoh yang dianggap sebagai yang tepat dalam memimpin masyarakat Indonesia. Beberapa memilih pemimpin yang kharismatik dan mampu membangkitkan semangat yang berapi-api seperti Soekarno.

Ada pula yang kembali mengingat masa-masa kepemimpinan Soeharto yang otoriter dengan kekuatan militernya yang mampu menertibkan masyarakat walau dengan tembakan dan teror yang menakutkan.

Juga Gus Dur yang berani, konsisten, dan menjadi pengeras suara bagi masyarakat yang tertindas dan termarjinalkan, dan juga kepemimpinan seorang populis seperti Jokowi  yang terlihat ramah, sederhana dan tidak mencerminkan sebagai orang dari golongat elit Negara walaupun akhir-akhir ini terlihat wajah yang otoriter dijalankan oleh rezim Jokowi-JK.

Yang masih hangat di telinga kita, pada pemilihan gubernur di ibukota DKI Jakarta. Pertarungan panas melibatkan ribuan umat Muslim untuk menolak kepemimpinan Ahok yang non-muslim. Bonnie Setiawan dalam Tulisannya mengemukakan analisisnya dalam melihat pertarungan di Jakarta sebagai pertarungan antara borjuis rente dan borjuis birokrat.

Dimana Ahok dianggap mewakili golongan borjuis birokrat dan lawan-lawannya yang mewakili borjuis rente (Bonnie Setiawan: 2017). Dan Ahok dianggap sebagai pemimpin yang mampu melakukan reformasi dalam birokrasi kekuasaan. Di lain pihak, Anies dan Agus Yudhoyono dianggap menjadi perpanjangan tangan dari elit-elit ekonomi dan politik yang telah lama memainkan perannya dalam negeri seperti Prabowo dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Tak hanya itu, ada pula Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai organisasi Islam yang  juga membawa konsep kepemimpinannya sendiri, dengan mempercayai adanya ‘Khilafah’ untuk menjadi seorang pemimpin besar ummat Islam. Akan tetapi, tulisan ini tidak akan membahas panjang lebar mengenai hal ini. Dan yang menjadi pertanyaan, adakah alternatif lain untuk konsep kepemimpinan Indonesia?

Dengan kondisi inilah maka tulisan ini akan sedikit menceritakan mengenai konsep kepemimpinan Lenin dan Fidel Castro. Dengan mempelajari serta melihat konsep kepemimpinan mana yang  cocok dengan melihat kondisi sosial, ekonomi, budaya dan psikologis masyarakat Indonesia.

Lenin dan Kediktatoran Proletariat

Pada awal abad 20, Russia menjadi Negara yang penuh dengan penderitaan. Buruh, tani, dan kaum miskin kota Russia merasakan penindasan dan penderitaan hidup di bawah kekuasaan Tsar Nikolas II. Dalam Novel yang berjudul “Ibunda” karya sastrawan Russia bernama Maxim Gorky, menceritakan bagaimana penderitaan yang dialami oleh Pelagia Nilovna sebagai istri dari seorang buruh di Rusia yang sering melampiaskan kemarahan dan tekanan yang didapatkan dari tempat kerjanya kepada Pelagia.

Baca juga:  Kisah Malcolm X Melawan Diskriminasi Rasial Amerika Serikat

Tak lama kemudian suaminya meninggal dunia dan dia hanya hidup berdua dengan anaknya yang bernama Pavel Vlassov. Terlihat bagaimana Pavel bekerja menggantikan ayahnya demi sesuap nasi. Dan setelah dewasa Pavel menjadi seorang yang tertutup dan diam-diam menjadi seorang aktivis buruh yang bercita-cita untuk menegakkan keadilan.

Ibunda (Pelagia) pun lama-kelamaan mengetahui aktifitas anaknya dan ikut dalam perjuangannya.  Dalam cerita ini terlihat beberapa kali Pavel dan teman-temannya mendapatkan teror dan tindakan represi oleh kerajaan Rusia. Gorky juga memperlihatkan bagaimana hidup pada waktu itu sangat penuh dengan penderitaan.

Leon Trotsky juga menjelaskan mengenai penderitaan yang dialami oleh masyarakat Rusia pada waktu sebelum revolusi. Dimana penderitaan, penindasan, kemiskinan, dan kekerasan telah dirasakan oleh masyarakat miskin Rusia. Dengan kondisi yang sangat parah seperti itulah yang mendorong gerakan buruh bersama dengan pelajar dan kaum miskin lainnya untuk melawan Tsar dan melakukan revolusi.

Akhirnya dengan perjuangan panjang dan penuh dengan pengorbanan, membuahkan hasil. Pada 1917 akhirnya kelas proletariat Rusia berhasil menggulingkan rezim Tsar (Februari 1917) dan mengantikan pemerintahan sementara (Oktober 1917) serta mengambil alih kekuasaan dibawah pimpinan Vladimir Lenin yang pada waktu itu menjadi pemimpin partai Bolshevik.

Pada awal-awal revolusi, kelas proletar menjalankan roda kekuasaan dan Sosialisme terlihat menjadi solusi yang cerah bagi kehidupan. Lenin menjadi pemimpin yang mengkoordinasi dan menjadi pengeras suara kelas proletar. Pemimpin yang tidak membatasi jarak dengan rakyatnya ini berhasil menjalankan Negara. Pengetatan aggaran dilakukan oleh Lenin.

Dalam salah satu pidatonya bahkan mengungkapkan bahwa gaji pejabat pemerintahan harus lebih rendah dari upah kaum buruh. Tentu hal ini sangat langkah di Indonesia dimana pemegang jabatan justru menjadi pihak yang mendapatkan kemewahan dan berbagai tunjangan serta gaji yang jauh lebih besar dari gaji rata-rata buruh.

Kelas Proletar menemui titik terang.
Lenin yang sangat dekat dan memposisikan diri juga sebagai rakyat biasa, hampir terbunuh oleh seseorang yang menembaknya dengan jarak dekat. Akan tetapi Lenin tetap selamat dan kembali menjalankan pemerintahan.

Akan tetapi revolusi bukan tanpa hambatan. Setelah setahun menjalankan Sosialisme di  Russia yang kemudian menjadi Uni Soviet, mantan pasukan Militer Tsar yang dibantu oleh belasan Negara Imperialis melakukan perang terhadap Uni Soviet.

Baca juga:  Baharuddin Lopa, Sang Jaksa Legendaris yang Melawan Korupsi

Perang Saudara inilah yang dikatakan oleh Ken Buddha Kusumandaru sebagai akhir dari sosialisme Uni Soviet, walaupun Uni Soviet baru akan runtuh pada akhir abad ke 20. Hal ini membuat kelaparan kembali melanda Uni Soviet.

Perang antara tentara merah (Tentara Uni Soviet) dengan tentara Putih (Tentara Tsar dan sekutunya) meruntuhkan sosialisme yang ada di Uni Soviet. Perang ini pun berhasil dimenangkan oleh tentara merah dengan menyisakan kehancuran pada tahun 1921.

Disinilah peran Lenin dalam mengembalikan perekonomian Uni Soviet, hal yang menjadi sangat sulit untuk dilakukan.

Lenin mengembalikan sistem perekonomian liberalisme sementara waktu untuk menstabilkan kembali Negara yang setengah hancur ini. Disinilah kejelian Lenin dalam mengeluarkan kebijakan. Walaupun mendapatkan kritikan dari berbagai pihak, Lenin tetap menjalankan kebijakannya demi menyelamatkan kehidupan masyarakat Uni Soviet.

Secara Perlahan, ekonomi Uni Soviet kembali ke jalur yang stabil. Namun, beberapa tahun setelah peristiwa tersebut, Lenin meninggal dunia dan digantikan oleh Joseph Stalin sebagai pemimpin dari jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal Partai.

Di sinilah Uni Soviet mengawali jalannya yang baru dan merubah kediktatoran Proletariat menjadi kediktatoran seorang pemimpin Negara yang jauh berbeda dari kepemimpinan Lenin Sebelumnya. Dengan kepemimpinan Lenin yang peduli dan memperhatikan nasib kaum miskin di negaranya tentu bisa menjadi pembelajaran bagi kita untuk menjadi pemimpin yang tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi semata.

Kepemimpinan Fidel Castro dan Peningkatan Kesejahteraan di Kuba

Fidel Castro adalah seorang pemimpin revolusi Kuba. Fidel berhasil mengambil Alih kekuasaan dengan melakukan perang gerilya bersama rekannya Ernesto ‘Che’ Guevara dan beberapa tokoh gerilyawan lainnya melawan Batista. Gerilyawan dibawah kepemimpinan Fidel Castro berhasil menguasai Kuba pada tahun 1959.

Selama 6 tahun, Fidel Castro dengan beberapa rekan seperjuangannya bergerilya untuk menggulingkan kekuasaan Batista yang dianggap hanya sebagai boneka bagi Amerika Serikat. Sejak bergerilya, Fidel Castro telah memperlihatkan jiwa kepemimpinannya. Bersama Che Guevara, Fidel Castro memimpin pasukan gerilya dengan sangat tegas dan disiplin tinggi.

Kuba saat ini menjadi salah satu Negara yang berhasil menjalankan perekonomiannya dan menjadi salah satu Negara yang memiliki dokter terbanyak di dunia. Pada tahun 2005, Kuba memiliki 627 dokter dan 94 dokter gigi untuk 100.000 warga yang jauh lebih banyak dari Amerika Serikat yang hanya memiliki 225 dokter dan 54 dokter gigi saja untuk 100.000 warga (Tirto.id-2016).

Tak hanya soal jumlah, Kuba juga menjadi Negara yang memiliki sumber daya dokter yang terbaik di dunia. Tirto.id mencatat ada 19.000 pasien mancanegara yang datang berobat ke Kuba. Dengan penghasilan ini Kuba dapat menghasilkan 40 Juta Dollar setiap tahunnya (Tirto.id).

Baca juga:  Gus Dur dan Perjuangan Terhadap Kemanusiaan

Dalam Bidang pendidikan, kuba mampu mengratiskan pendidikannya mulai dari seragam, uang sekolah dan makanan. Keberhasilan Kuba bisa dilihat dari keberhasilannya mencapai peringkat ke 16 dalam semua indeks pembangunan UNESCO dan jauh di atas Amerika Serikat yang berada pada peringkat 25 (Koran Pembebasan).

Pada tahun 1959, Kuba memulai kampanye melek huruf kepada warganya. Program ini mengirimkan pelajar-pelajar menuju ke pedesaan untuk  mengajar penduduk yang buta huruf khususnya bagi petani. Dan dalam dua tahun, tingkat melek huruf di Kuba mencapai 96% sejak diterapkan yang awalnya hanya sebanyak 60% di tahun 1959.

Hal ini membuktikan bagaimana seorang Fidel Castro sangat serius meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat Kuba.

Kuba juga menjadi Negara yang secara sukarela membantu Negara-negara yang membutuhkan bantuan dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Maka dari itu Kuba dianggap sebagai salah sattu Negara yang sangat berjasa pada Negara-negara Afrika dan Negara-negara Latin.

Bersama dengan Hugo Chaves dan Evo Morales, Fidel Castro menjadi pilar dalam kemajuan Amerika Latin. Apalagi ketiganya adalah pemimpin-pemimpin yang mampu menolak segala intervensi Negara Amerika Serikat beserta dengan organisasi-organisasi dunia yang banyak merugikan Negara-negara berkembang seperti IMF, World Bank dan WTO.

Kuba juga mampu berhasil keluar dari Negara miskin sebelum tahun 1959 menjadi salah satu Negara yang mampu mandiri secara ekonomi dan politik. Fidel Castro juga menjadi salah satu penggerak bagi gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin (Michael Lowe).

Fidel Castro juga menjadi pemimpin yang berani dalam menolak dominasi Amerika Serikat di dunia khususnya di Negara dunia ke 3, sehingga Kuba dianggap sebagai Negara yang masuk dalam daftar hitam Amerika Serikat melalui media-media yang dikuasainya.

Dan pada tahun 2008 Fidel Castro mundur dari kursi kepemimpinan dan digantikan oleh adiknya Raul Castro dalam memimpin Kuba. Fidel Castro meninggal dunia di usia 93 tahun pada November 2016 lalu. Dengan melihat riwayat kepemimpinan Fidel Castro, hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia dalam memimpin bangsa ini kelak.

Dan menjadi seorang pemimpin berani dan punya integritas dalam membawa masyarakat Indonesia dan dunia menuju masyarakat yang lebih berkeadilan dan sejahtera.[*]

Penulis: M. Alfian Arifuddin
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.