Bertahan Hidup Di Antara Sisa-sisa Rumput Laut

Ilustrasi: Salifah sedang mencari sisa-sisa rumput laut yang terdampar di antara bebatuan dan karang di pinggir pantai Pabiringa, Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

DI SEPANJANG pesisir pantai Jeneponto tepatnya di kelurahan Pabiringa, terlihat orang-orang yang sedang bekerja mengikat bibit rumput laut dengan tali. Sebagian ada yang menjemur, sebagian lainnya terkhusus laki-laki menuju ke laut dengan perahu yang membawa hasil rumput laut yang telah siap di tanam dan dikembang biakkan.

Semenjak hadirnya rumput laut ditengah-tengah masyarakat yang dulunya memiliki aneka macam profesi seperti nelayan, petani sawah, saudagar, supir angkot dan lainnya, banyak yang beralih profesi menjadi petani rumput laut.

Angin laut di sore hari terasa sebuah kondisi  yang mengundang kedamaian dan kenyamanan dengan angin sepoi-sepoi. Terlihat sosok ibu di bibir pantai Pabiringa yang sedang berdiri memperbaiki sapu tangan karet yang sebagian telah menempel di jari-jari tangannya dengan pakaian kerja yang kumal. Ibu itu terlihat siap untuk mencari rumput laut di sela-sela tanggul yang runtuh menjadi bebatuan.

Sosok ibu tua  yang bekerja sebagai pemulung rumput  luat atau kita kenal dalam bahasa Jeneponto sebagai pa’abo-abo, kondisi kerjanya sebagai pemulung rumput laut sangatlah rentan. Di tanggul runtuh inilah biasanya ibu tersebut mencari rumput laut yang terseret ombak dari tengah laut. Di tanggul ini pula orang biasa membuang sampah, pecahan kaca bahkan masyarakat juga biasa menjadikan tanggul ini sebagai tempat buang air (kecil maupun besar).

Banyak terlihat di sekitar tanggul tersebut kotoran manusia. Sangat susah mencari rumput laut disela-sela bebatuan. Pecahan kaca bisa saja menggores kaki atau tangan disaat mencari rumput laut.  Belum lagi batu yang licin yang di penuhi lumut bisa membuat kita terjatuh.

Ia bernama Salifa (68 tahun), usia yang cukup tua untuk bekerja sebagai pa’abo-abo. Pekerjaan yang sepunuhnya menggunakan tenaga. Salifa berangkat mencari rumput laut pada jam 10 pagi sampai jam 6 sore. Biasanya masyarakat yang penghidupannya di laut, nelayan atau petani rumput laut membawa perbekalan makanan dari rumah, karena mereka menghabiskan seharian waktunya di tempat ini. Tetapi Salifa tidak demikian.

Baca juga:  Bulu’ Tallua, Tanah Orang-Orang Terusir

Salifa jarang membawa bekal dari rumah. Padahal pekerjaan yang dilakoni oleh Salifa itu sepenuhnya mengerahkan tenaga untuk mencari rumput laut. Kekurangan ekonomi membuat dia harus menahan lapar di sela-sela pekerjaannya.

Rumah Salifa dari lokasi pencarian rumput laut lebih dari 1 km yang ditempuh dengan berjalan kaki. Salifa memiliki 10 anak, diantaranya 4 laki-laki dan 6 perempuan. Semua anaknya pergi merantau di berbagai daerah. Ada yang ke negeri jiran, Jakarta, Kalimantan, Gowa, Papua dll. Semuanya rata-rata bekerja sebagai buruh upahan. Lagi-lagi faktor ekonomi yang mengusir keluarga Salifa dari tanah kelahirannya dikarenakan Salifa sudah tidak lagi memiliki sarana produksi berupa tanah untuk digarap. Satu-satu yang di miliki adalah tenaga yang harus jual, sehingga mereka mampu bertahan hidup.

Sebelum masuknya rumput laut sebagai mata pencaharian masyarakat di pesisir pantai Pabiringa, sekitar tahun 2003 Salifa memiliki lahan yang cukup luas. Lahan itu di jadikan sebagai empang kepiting hitam yang harganya cukup mahal. Kehidupan Salifa waktu itu cukup sejahtera dan tidak semelarat sekarang.

Pantai tempat Salifa mencari rumput laut, dulunya adalah tempat pacuan kuda dan sebagai lokasi empang yang tidak terlalu jauh di sekitar pinggiran pantai.Waktu itu sebelum masuknya rumput laut dan dibangunnya sebuah hotel di sekitar pantai. Sekitar tahun 2000-an banyak hal-hal yang dirombak oleh pemerintah daerah yang bekerja sama dengan pemodal swasta. Sehingga pelepasan lahan besar-besaran di masyarakat kususnya masyarakat yang memiliki empang, terpaksa harus menjual tanahnya terhadap pemodal yang ingin membangun hotel di bibir pantai yang sekarang berdiri, yang bernama hotel Bintang Karaeng. Salah satu korbannya adalah Salifa yang harus kehilangan tanah dan mata pencariannya.

Baca juga:  Sebuah Catatan: Mereka yang Terusir

Sebelum suami Salifa sakit, suaminya bekerja sebagai nelayan. Saat itulah titik awal kehidupan cukup berat yang di jalani Salifa. Suaminya menderita penyakit mata selama 4 tahun. Perahu yang digunakan untuk mencari nafkah harus dijual untuk membiayai pengobatan suaminya. Akan tetapi nyawa suaminya tidak bisa di selamatkan. Sepeninggalan suami, Salifa sendirilah yang mencari nafkah.

Sementara banyak anak-anaknya yang pergi merantau meninggalkan Salifa di Jeneponto, dengan di temani dua orang cucu yang bernama Sulkifla dan Sakir. Ibu dari dua orang anak ini ada di papua untuk bekerja. Anak-anak Salifa sampai sekarang sudah lama tinggal di daerah perantauannya masing-masing dan jarang pulang. Salifa juga jarang meminta uang kepada anak-anaknya kecuali Salifa dalam keadaan sakit.  Sering anak-anak Salifa memanggilnya untuk  ikut bersama ke perantauan, tetapi Salifa enggan untuk pergi. “Untuk apa saya pergi ke tempat lain sedangkan saya punya rumah sendiri”, ungkap Salifa kepada anaknya.

Dalam sehari Salifa mampu mengumpulkan rumput laut sebanyak 2 sampai 3 kilo. Setelah mencapai 15 kilo, shalifa baru menjual rumput lautnya ke pengepul, itu pun ada diskriminasi yang dilakukan oleh pengepul kepada Shalifa. Biasanya petani rumput laut yang memiliki lahan, dan menjual hasil rumput lautnya ke pengepul dengan harga normalnya antara Rp. 10.000-12.000 per kilogram. Sedangkan Salifa ketika menjual rumput laut yang dikumpulkannya hanya dibeli dengan harga antara Rp. 8.000-9.000 per kilogram. Rumput laut yang dijual Salifa tidak dibeli dengan harga normal, dengan alasan yang tidak rasional.

Pengepul beralasan bahwa rumput laut yang dijual Salifa, tidak mengeluarkan modal (finansial) sehingga harganya turun. Padahal ada curahan keringat dan tenaga yang lebih besar dikeluarkan setiap harinya oleh Salifa.

Baca juga:  Politik Hutan dan Praktik Perampasan Tanah Petani di Desa Belapunranga

Di sela-sela percakapan dengan Salifa, tiba-tiba si pengepul datang dengan mobil pengangkutnya untuk membeli hasil panen masyarakat. Kebetulan waktu itu terlihat proses jual-beli antara petani dan pengepul.Terlihat Ibu yang baru saja menjual hasil panennya sebanyak 16 kilogram dengan harga Rp. 110.000. Setelah membeli ke petani, pengepul rumput laut akan menjual rumput laut tersebut kepada pedagang besar di kota Makassar dengan harga yang mencapai tiga kali lipat atau mencapai Rp. 30.000 per kilogram.

Kita bisa melihat bagaimana pengepul mampu memainkan harga dan tentu hanya menguntungkan bagi pengepul saja. Dan yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari pekerjaan bertani rumput laut ini adalah si pengepul dan bukan si petani. Padahal petani yang bekerja keras. Mulai dari membibit dan menjaga selama 40 hari sekaligus memanen tetapi yang menentukan harga jualnya adalah pengepul yang belum tentu tahu bagaimana proses bertani rumput laut dan mampu mengerjakannya sendiri.

Biasanya Salifa istirahat sekitar pukul 16:00. Lalu kembali melanjutkan mencari rumput laut hingga pukul 18.00 atau setelah mendengar adzan Magrib. Salifa pulang dengan berjalan kaki dengan menjunjung karung berisi rumput laut yang masih basah menuju ke rumah yang jaraknya lebih dari 1 kilometer perjalanan.(*)

 


Reporter: Ahmad Fandi
Editor: M. Alfian Arifuddin


Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.