Bincang Buku “Ekonomi Revolusi Che Guevara”

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Che Guevara membangun industri yang dikelola oleh pekerja dengan sistem upah yang dihitung dari jumlah waktu kerjanya.

Sesaat Imamul Haq (pegiat kajian ekonomi politik, Carabaca Institute) sebagai pembicara, sedang mengurai Buku “Ekonomi Revolusi Che Guevara” karya Helen Yafee, di moderatori oleh Surahmat Tiro (redaksi Jendela Post), di pelataran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Alauddin Samata, Gowa. Jum’at (24/11/2017). (jendelapost/ibeng)
JENDELAPOST.COM, GOWA – Setelah ibu kota berhasil direbut, Fidel Castro segera mengibarkan bendera
revolusi di hadapan ribuan massa. Maka sejak saat itu rakyat Kuba telah
terbebas dari rezim diktator Fulgencio Batista yang merupakan kaki tangan imperealisme Amerika Serikat.
Fidel castro yang dimandat oleh rakyat memimpin Kuba, membangun sebuah Negara
yang berwatak sosialisme. Ernesto
Guevara de La Serna atau dikenal dengan Che Guevara, rekan seperjuangan Fidel
yang kemudian diangkat sebagai menteri
perindustrian dan juga sebagai presiden Bank Nasional Kuba.
Rekam jejak Che Guevara sebagai menteri perindustrian jarang kita temukan. Kebijakan
politik dan ekonominya pun demikian. Bahkan
tidak pernah kita jumpai dalam diskursus akademik. Kita hanya mengenalnya
sebagai tentara gerilyawan Kuba. Hal inilah yang mendorong HMI
Komisariat Ekonomi dan Bisnis Islam bersama Carabaca Institute dan redaksi
Jendela Post menggelar diskusi mengenai peran Che Guevara dalam menegakkan
sosialisme di Kuba.
Sosialisme kerap kali dianggap sebagai cita-cita yang utopis sebagaimana seringkali dilontarkan
oleh beberapa pemikir. Akan
tetapi Che Guevara membuktikan bahwa
sosialisme sebagai teori ilmiah dapat digunakan sebagai instrumen dalam
merumuskan sebuah kebijakan ekonomi politik,” ungkap
Imamul Haq sebagai pembicara dalam bedah buku Ekonomi Revolusi Che Guevara karya Helen Yafee yang dilaknasakan di pelataran Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Alauddin Samata, Gowa, Jum’at (24/11/2017).
Diskusi ini dihadiri oleh setidaknya 20 orang mahasiswa dari beberapa
Fakultas di UIN
Alauddin Makassar. Dengan mengumpulkan arsip Che Guevara,  Helen Yaefe menceritakan jejak politik Che Guevara pada saat
menjabat sebagai menteri perindustrian. “Che Guevara menilai, revolusi
sosialisme yang terjadi di Uni Soviet tidak bisa direplikasi di Kuba karena
perbedaan kondisi sosial di Kuba,” sambung Imam, pegiat kajian ekonomi politik di Carabaca Institute.
Imam menambahkan bahwa, Che Guevara membangun industri yang dikelola oleh pekerja dengan sistem upah yang dihitung dari jumlah
waktu
kerjanya. Hal tersebut berbeda dengan sistem upah
dibawah corak produksi kapitalistik yang melakukan pencurian nilai lewat kerja
lebih.
Di akhir diskusi pembicara mengajak kita untuk sering-sering melakukan
aktivitas intelektual
seperti dialog, bedah buku ataupun bedah film, untuk mengasah kemampuan
mahasiswa membaca kondisi sosial yang terjadi. Diskusi ditutup oleh moderator Surahmat Tiro, yang
menyimpulkan bahwa kebijakan Che Guevara di Kuba dapat dijadikan bantahan
terhadap postulat yang mengatakan bahwa belajar Marxisme-sosialisme sama dengan
anti terhadap pembangunan, padahal,  yang dilakukan
oleh Che Guevara di Kuba sama sekali tidak demikan. Sosialisme tidak anti
terhadap pembangunan, melainkan anti terhadap penindasan manusia atas manusia
lainnya.(*)

Baca juga:  (Solidaritas) STOP! Kriminalisasi Petani, Bebaskan Sahidin, Sukardi dan Jamadi

Reporter: M. Fajrin Kasdi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.