Cerita Lain, Jejak Benda Tulisku

Ilustrasi: Ilyich Minorink
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

SEMUA BARANG yang ada di kelas boleh disembunyikan, kecuali alat tulis. Kata-kata di sekolahku SMART ILC kampung Inggris. Alat tulis adalah tongkat sihir di sekolahku. Di SMART aku bertemu dengan banyak murid yang gilanya tak tertolong. Keusilan mereka tak bisa terduga. Aku pun ikut dengan mereka. Apapun kami lakukan agar bisa mengerjai teman pendiam dikelas. Menjadi pendiam itu berbahaya di sekolah kami. Keusilan kami jika sudah pusing terhadap materi yang diberikan di kelas, salah satunya menyembunyikan barang teman seperti sandal yang dibuang entah kemana yang penting dibuang jauh. Terkadang ke atas genteng hingga temannya pulang nyeker dari sekolah ke asrama. Hingga hal minuman pun kami bisa membuat keusilan yang tak terduga-duga. Dengan menambahkan cabe atau tembakau di minuman.

Kami bisa melakukan apapun asalkan tidak berkenaan dengan alat tulis. Alat tulis adalah bagian terpenting saat di kelas. Pulpen dan buku menjadi yang paling utama di dalamnya. Karena mencatat materi adalah keutamaan belajar.smartphone yang bisa dibilang alat multifungsi, kalah dengan buku dan pulpen. Di sekolahku ini kami dilarang memotret catatan yang ada di papan tulis, benar-benar sekolah kebangetan jadulnya. Telepon genggam pun tak ada apa-apanya dibanding dengan pulpen dan buku tersebut. Peraturan tetap peraturan. Peraturan sangat dihormati di sekolahku. Kekuatan tulisan yang ditulis oleh sesorang menggunakan jarinya bisa merekam kegiatan pembelajaran di kelas. Pulpen yang menari itu berkarya dengan kekuatan jari-jari yang luar biasa. Satu lagi warna-warna dari pulpen melatih ketelatenan kita sebagai penulis.

Di sekolah murid-murid berusaha untuk menulis dengan rapih serta warna yang dipakai menjadi acuan untuk mudah memahami isi tulisan. Jadi, saat menulis kami pun berfikir warna apa yang digunakan ketika definisi warna hitam, contoh warna biru, rumus warna merah, catatan kecil warna biru dan lain lain. Hal itu melatih untuk belajar terampil. Buku tulis memperkuat perekaman posisi dimana catatan itu berada. Buku akan hidup ketika diisi dengan tulisan yang dirasai oleh si penulis. Akan terasa berbeda ketika melihat catatan di buku teman. Cukup sulit dimengerti, karena bukan jari-jari sendiri yang berkarya. Rekaman yang sangat kuat ditangkap oleh mata sehingga sangat mudah untuk mengingat materi. niat murid untuk belajar bisa dilihat dari kelengkapan alat tulis mereka.

Baca juga:  Teras Jagong Vs Cafe Nongkrong

Berbeda dengan cara menulisku ketika di sekolah dasar hingga menengah. Buku dan pena menjadi acuan untuk kerapihanku dalam menulis. Pada awal semester para pedagang buku bermunculan. Tak hanya buku, perlengkapan alat sekolah pun mereka jual. Seperti pulpen, pensil, tas, crayon, penghapus, sampul buku, tempat pensil dan lainnya. Macam-macam dari mereka pun berbeda. Misalnya pulpen dan pensil yang sering digunakan setiap waktu, berbagai bentuk unik disediakan di sana. Dari tintanya hingga warna atau gambar yang mencolok untuk pelajar. Yang menjadi acuan untuk rapih adalah sesuatu yang baru ditambah unik. Ketika aku SD, sekolah melarang bagi anak kelas 1-3 menggunakan pena. Kelas 4 SD aku mulai memakai pulpen. Suatu kebanggaan ketika bisa menulis dengan pulpen. Menggunakan pensil hanya ketika belajar menulis huruf tegak bersambung. Menulis tegak bersambung melatih murid untuk telaten dalam menulis. Aku sangat suka dengan pelajaran itu, bagiku itu seperti pelajaran menggambar. Hanya butuh ketelatenan tanpa berfikir keras seperti pelajaran matematika.

Aku sering membeli pulpen bergambar ketika awal semester. Gambar yang aku pilih yaitu hello kitty karena warnanya pink. Setiap awal semester aku diajak ibuku ke toko buku dadakan di pasar untuk memilih jenis pulpen yang ku suka. Pena itu hanya bertahan dalam waktu satu minggu atau lebih sedikit. Entah itu karena hilang, maupun dipinjam teman. Masa-masa SD terpenuhi dengan alat tulis bergambar. Kebosanan menjadi hal yang wajar bagi anak-anak. SMP, aku lebih suka memilih pena yang polos dan merek yang sering dipakai pada umumnya.

Begitu pula dengan buku, berbagai merek, kualitas kertas, dan gambar yang disediakan toko. Tak kalah dengan berbagai sampul yang menarik. Gambar menjadi pilihan nomor satu. Menjadikan buku tertata sempurna di almari. Harum buku menambah semangat dalam belajar. Apalagi pada saat awal semester. Akan ada hal yang berbeda jika melakukan sesuatu sendiri. Semangat bertambah ketika aku duduk di kelas 5 SD, aku mulai bisa menyampul bukuku sendiri . Tak hanya semangat dalam belajar, sekarang ketika setelah membeli buku saja, harum novel menambah semangatku untuk membaca dan menghabisinya. Semakin disuka buku dan pena bagiku, semakin rapih tulisanku. Biasanya itu hanya bertahan dalam sebulan atau 10 sampai 15 lembar awal pada buku ku. Lalu aku akan bosan. Harum dari buku hilang. Semangat belajar pun hilang. Buku yang disampul kertas dan plastiknya rusak, robek. Entah kemana perginya.

Baca juga:  Keabstrakan Sebuah Simbol dan Matinya Nilai Guna dalam Simbol

SMA, ada hal yang lebih menarik. Ibuku membelikanku buku lebih besar dari sebelumnya. Catatan di bangku SMA lebih banyak dari pada di  SD dan SMP. Semangat pun berbeda, tapi tetap bertahan hanya 1 bulan. Hingga di SMA pun aku tak pernah meyadari apa itu mencatat. Tak peduli apa peranku dalam mencatat. Mengabaikan fungsi catatan. Catatanku menjadi terbatas ketika sudah lulus dari sekolah. Apalagi setelah berlangsungnya ujian, catatan menjadi barang rongsokan. Catatan tak terikat dengan aku sebagai penulis. Menulis hanya menulis. Aku tak pernah menyadari apa hubungan antara pena, buku, dan penulis. Begitu erat ketiga peran mereka. Penulis menjadi bagian utama karena penulis adalah pengikat.

“Tulisanmu jelek banget, gak rapih”, seorang lelaki datang dan menegurku ketika 2 bulan aku belajar di Pare. Kalimat itu menyentak di pikiranku sekaligus membuatku malu sebagai perempuan. Komentar tulisan menimbulkan kegelisahan. Acak-acakan sekali ditambah tidak lurus. Malu semalu-malunya. Di sekolah guru menulis di papan tulis sangat rapih, jelas dan mereka laki-laki. Sangat jarang aku menemukan laki-laki dengan tulisan rapih. Seperti tulisan di buku nikah. Tulisan berkaitan dengan gender. Perempuan dipandang kerapihan dan ketelatenan mereka. Waktu menggiring untuk memahami arti dari tulisan. Aku belum mengenal arti dari mencatat. Sebulan kemudian aku memulai memakai warna walaupun masih terbilang tak rapih. Semakin tinggi levelku semakin malu aku melihat tulisanku. Sebulan kemudian aku naik ke level lebih tinggi.

Dan level membuatku melangkah dalam mencatat. Aku belajar kerapihan dalam mencatat. Belajar menata tulisan dengan warna sesuai dengan kebutuhan arti catatan masing-masing. Pelan, sabar, seperti membatik atau mengukir. Seberantakan penampilan kami ke sekolah tak akan berpengaruh ke dalam tulisan. Di sekolah, sangat memalukan ketika tulisan tidak rapih. Apalagi tak bisa dibaca. Level dalam kelas pun menjadi acuan untuk adik kelas atau disebut junior. Aku sangat bahagia mendapat kesempatan mempelajari kekuatan dalam tulisan tangan bagi penulis. Tangan berkarya bebas sesuai keajaiban jari-jari ini. Al-Imam Al-Syafi’i pun menasehatkan kita dengan syairnya. Berikut kutipannya: “Ilmu itu buruan dan tulisan atau catatan itu adalah pengikatnya / Ikatlah buruanmu itu dengan tali yang kuat / Diantara salah satu kebodohan adalah engkau berburu kijang sedangkan engkau melepas binatang buruan yang lain/.” Buruan, tali, dan pengikat. Menyelamatkan ilmu atau pelajaran di dalam kelas menjadi hal yang utama.

Baca juga:  Ketimpangan Dalam Kebijakan Negara

Pentingnya catatan yang harus diikatkan dengan tulisan-tulisan kita yang rapih serta dimengerti. Tali yang kuat merupakan tangan yang harus berusaha untuk menjadi pengikat antara pena dan buku. Warna menjadi pegikat kuat. Warna-warna yang berpadu dalam tali tambang besar yang pernah ada. Ikatan akan semakin kuat untuk mengikat buruanmu agar kijangmu tak lepas. Berbeda dengan mengetik. Mengetik masih dikatakan lemah. Kerapihan hilang dalam diri pencatat. Apalagi bagi murid yang mencatat di dalam kelas. Walaupun jari-jari ikut berperan, tapi hati dan jiwa tak berperan. Hanya ide yang bisa diungkapkan penulis. Kekreatifan dalam menulis hilang. Kerapihan pun tak terlatih. Kebodohan melanda dalam mencatat. Ujian semester menjadikan catatan terbatas. Catatan yang dilakoni selama semester tak pernah disentuh sehingga tak pernah hidup. Sebelum ujian, catatan akan dipelajari sampai-sampai dihafalkan. Harus dilengkapi jika ada yang kurang. Lalu, setelah ujian catatan disimpan. Buruan yang dicari selama berbulan bulan dilepaskan begitu saja karena tak ada tali untuk mengikat.

Dulu, ketika duduk di bangku SMP kelas satu, salah satu temanku menggunakan pena bertinta merah untuk mengerjakan soal. Soal pun dikumpulkan ke meja guru untuk diperiksa. Pak guru kaget akan tinta merah yang ada di lembar jawaban. Maka guruku berkata, “kamu ingin jadi guru? Ingin ngelawan saya memakai tinta merah?” Itu kata-kata yang masih ku ingat pada waktu itu. Warna pun menjadi terbatas ketika menjadi murid formal. Ternyata warna merah hanya untuk guru ketika mengoreksi jawaban muridnya.

Konyol sekaligus kaget akan hal itu. Padahal jika kita kembali pada syair Al-Imam Al-Syafi’i warna dalam pena mendukung si penulis untuk memperkuat tali tersebut. Warna akan menciri-khaskan catatan dan mempererat si pengikat. Berbeda sekali ketika mengerti tentang warna. Aku, pena, dan buku menjadi 3 hal yang tak bisa terpisahkan serta saling melengkapi. Tak ada warna yang mati, mereka hidup dimana-mana. Hidup tak akan menarik ketika warna hanya hitam dan biru. Aku ingin terus berpetualang dengan warna. Lalu membuat pengalaman sebanyak-banyaknya.***

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.