Dalil dan Etika Terhadap Lingkungan

Sumber Gambar: thinkprogress.org
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

ILMUAN dan para filsuf sebelumnya getol mengungkap bahwa manusia adalah faktor utaman dalam mengganggu keseimbangan alam semesta. Mengusik secara sengaja atau tidak dalam ekosistem bumi, dengan merusak dan mengacak-acak urutannya yang sempurna. Demikian, tampaknya manusia benar-benar menggosok wajahnya dan memotong sebelah rupanya, hingga pada babak dimana manusia mesti mengakui bahwa ia korban dari kerusakan alam tersebut.

Bahaya besar yang ditakutkan jauh sebelumnya kini benar terjadi, polusi udara, air, tanah, dan lainnya. Eksploitasi sumber daya lingkungan yang tidak rasional, dan distribusi pemukiman manusia yang tidak konsisten. Semua faktor ini telah menyebabkan masalah yang berbeda, yang semuanya ditandai oleh gangguan keseimbangan alam. Populasi perkotaan yang terkonsentrasi di kota-kota, yang kerap muncul berdekatan dengan satu atau lebih sumber daya alam seperti Air, Minyak, Laut, dan lainnya. Demikian menciptakan gangguan begitu nyata bagi keseimbangan alam.

Meningkatnya pambangunan, pembuangan dan produksi limbah manusia demikian pun industri. Eksploitasi sumber daya dan kepadatan penduduk. Mesti diakui bahwa klaim manusia tentang lingkungan telah melampaui batas dalam banyak kasus, menciptakan gangguan pada keseimbangan alam, berbagai sistem hayati dan ekosistem di seluruh dunia. Perilaku yang tidak bertanggung jawab ini telah menyebabkan penipisan kebaikan yang sempurna dan ini merupakan ancaman terbesar bagi manusia dan alam.

Kenyataan yang terus terjadi, begitu rasional dihadapan manusia, ketika hutan dihilangkan, gurun dirambah dan begitu banyak spesies seperti tanaman dan hewan dengan waktu yang singkat menghilang dari permukaan bumi. Akibatnya, semua ini akan terintegrasi secara merata di seantero bumi ini.

Iklim yang terus berubah, tak pelak akibat dari tidak bijaksananya aktivitas manusia. Namun, pada sisi yang lain secara alami perubahan iklim demikian yang tidak semestinya diabaikan akibat dari alam itu sendiri (non-manusia), seperti pola rotasi bumi di sekitar matahari dan ledakan vulkanik. Pada dimensi ini, polah manusia cenderung menjadi dampak terbesar dari perubahan iklim menjadi lebih buruk pada alam dan isinya. Pemindahan tanah padang rumput yang berlebihan, penggunaan kayu yang berlebihan dan penggundulan hutan yang menghancurkan dan memusnahkan besarnya vegetasi bumi, yang kesemuanya ini sesungguhnya sangat berperan dalam meningkatkan penyerapan matahari oleh bumi.

Baca juga:  Ketimpangan Dalam Kebijakan Negara

Ada pula penggunaan energi yang lebih tinggi di atas kebutuhan manusia, demikian penggunaan sumber daya yang berlebihan, seperti minyak, batu bara, dan gas alam, yang sebenarnya semakin mendukung pemburukan dan peningkatan karbon dioksida di atmosfer secara terus-menerus, hingga pada gilirannya akan meningkatkan suhu dan menjadi lebih buruk bagi alam dan isinya.

Pesawat yang terbang di udara, gas, polusi udara dari pabrik dan asap yang dikeluarkan dari pupuk nitrogen, dan lainnya. Bisa dibayangkan ketika kita menyadari sampai sejauh mana bumi akan terkena lebih banyak sinar karsinogenik. Iklim akan berubah di seluruh dunia, memusnahkan hutan yang begitu lebat, mengurangi hasil pertanian dan membunuh sebagian besar makhluk hidup. Angin kencang menjadi lebih parah, tanah tersapu, kekeringan, humus menyusut, air hujan mengalir deras, suhu berfluktuasi.

Pada tahap yang relatif, kesadaran manusia kian bermunculan, sampai ketika manusia menciptakan sebuah alasan untuk memperbaiki kondisi yang buruk ini pada tumbuhan, demikian pertanian. Dengan menciptakan pestisida, sebagai upaya penyelamatan tumbuhan dari pemburukan yang kian terjadi, mengendalikan hama yang merugikan. Upaya relatif ini jelas tidak memperbaiki apa-apa, kenyataanya, pada susunan waktu yang lebih panjang, pestisida dan racun lainnya justru mengusik ekosistem dan lebih dari memiliki konsekuensi destruktif, muncul secara meluas di semua lapisan atmosfer, air, tanah, demikian uadara diatas permukaan bumi.

Dampak yang serupa dari limbah yang dipompa ke dalam air dan tanah oleh pabrik, racun yang dikeluarkan ke udara dan polusi radioaktif. Upaya lainnya, manusia kembali menciptakan racun mematikan yang ia hirup atau minum dan makan melalui tanaman, daging dan produk susu dan lainnya. Upaya pembaikan namun menuai hasil yang makin memperburuk, demikian pada waktu yang cukup panjang.

Baca juga:  Keabstrakan Sebuah Simbol dan Matinya Nilai Guna dalam Simbol

Etika Lingkungan dan Dalil Pemburukan Alam

Dalam Islam, hubungan manusia dan alam merupakan bagian dari eksistensi sosial. Dalam ibadah, misalnya, bukan hanya praktik ritual, karena ritual adalah bentuk manifestasi manusia secara simbolik dan penyerahan diri kepada Allah. Pengabdian yang sebenarnya adalah tindakan, yang dapat dilakukan oleh semua makhluk di bumi. Terlebih lagi manusia bertanggung jawab atas kelangsungan hidup makhluk lainnya.

“Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” (Q.S. Al-Baqarah: 205)

Kekayaan alam yang disimpan oleh Allah untuk kepentingan umat manusia telah rusak. Keegoisan dan keserakahan menguasai umat manusia, mereka telah menjadi perusak bumi. Demikian Al-Qur’an memberi peringatan kepada manusia:

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Q.S. Ar-Rum: 41)

Kerusakan dan pemburukan di darat dan di laut jelas dari campur tangan manusia yang cenderung tidak waspada dengan hukum alam dan sistem lingkungan, pada akhirnya bertentangan dengan kepentingannya sendiri. Polusi lingkungan, gangguan keseimbangan alam, adalah bentuk utama.

Ketika Allah menciptakan manusia di bumi, dan memutuskan manusia harus memelihara habitatnya. Dia memberi manusia hak berinvestasi di dalamnya dan mendapat manfaat darinya. Ia memerintahkan manusia untuk tidak menyebabkan kerusakan di mana pun. Demikian ia perintahkan kepada siapa pun yang mungkin berpikir mengganggu keseimbangan alam, keseimbangan duniawi, atau menimbulkan ketidakadilan. Dari Allah, dalam Al-Qur’an diterangkan:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Q.S. Al-Qashash: 77)

Islam dan umatnya tidak memandang alam dan objek kosmik sebagai dewa, tetapi pada kesadaran yang sama, tidak untuk merusaknya. Hubungan antara Muslim dan alam semesta adalah salah satu faedah dan proses yang harmonis. Ketika Allah bersumpah kepada beberapa makhluk, ia menarik perhatian pada fakta bahwa manusia harus mengakui nilai mereka dan merawat segalanya dari dan untuk mereka.

Baca juga:  Emansipasi Wanita ala Kapitalisme

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya” (Q.S. Asy Syams: 1-6)

“Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan” (Q.S. Al-Lail: 1-3)

Pada dasarnya, untuk menghidupkan kembali pandangan holistik Islam yang berpijak pada gagasan harmoni dan keadaan alam, dalam menghormati keseimbangan dan proporsi sistem alam semesta, pandangan ini memberikan dimensi etis dan anjuran bagi semua manusia untuk menghormati alam dan semua bentuk kehidupan di dalamnya. Sedemikian rupa kerusakan keseimbangan alam dan isinya, akibat polah manusia yang menghasilkan konsumsi berlebihan, eksploitasi berlebihan dan penggunaan sumber daya yang berlebihan.

Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko krisis lingkungan dan memahami dampak perubahan iklim, dari perspektif Islam yang ditopang dengan definisi peran manusia sebagai wali dan pemimpin (khalifah). Nilai-nilai Islam memanggil manusia secara sadar untuk menyelamatkan dan melindungi keragaman semua bentuk kehidupan. Demikian krisis ekologis terkait dengan etika dan nilai-nilai manusia. Perilaku dan etika manusia sesungguhnya menyertakan tanggung jawab atas krisis ekologi global tersebut.[*]

 

Penulis: Ahmad Mukhlis .H
Editor: Suherman JF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.