DEMA FEBI Menggelar Diskusi Soal Reforma Agraria yang Berkeadilan Gender

Suasana diskusi yang digelar oleh DEMA FEBI UIN di LT UINAM, Samata, Gowa, (19/11/2018). (doc.jendelapost/feo)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

JENDELAPOST.COM, GOWA – Dewan Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) menggelar Seminar di LTUINAM, di kampus 2 UINAM, Gowa, Senin (19/11/2018). Kegiatan ini dilaksanakan guna menjahit hubungan silaturahmi dan mengajak kawan mahasiswa melihat ketimpangan ekonomi. Substansi dari kegiatan ini untuk melihat kasus perampasan ruang hidup yang semakin kompleks, dan semakin timpangnya penguasa lahan.

Abrisal selaku moderator mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kontribusi mahasiswa sangat kurang dalam gerakan sosial yang menyangkut problem agraria dan hanya sibuk dalam permasalahan-permasalahan dalam kampus. Acara yang dikemas dalam bentuk seminar ini, mengangkat sebuah tema “Reforma Agraria berbasis keadilan gender: Upaya meretas ketimpangan ekonomi menuju pembangunan ekonomi inklusif”. Yang menjadi pemantik dalam seminar ini adalah perwakilan dari Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Sulsel, Imammul Hak, Ketua BEK Solidaritas Perempuan AngingMammiri (SPAM), Musdalifah Jamal, dan Akademisi FEBI UINAM, Andi Faisal Anwar.

Dalam diskusi ini, Imammul Hak sebagai Kadep Advokasi KPA Sulsel bercerita mengenai masalah ketimpangan-ketimpangan yang ada di Indonesiadan melihat konflik Agraria. “Banyak masyarakat yang mengalami perampasan ruang hidup dan lebuh menprioritaskan sektor industri membuat masyarakat banyak kehilangan lahan, yang membuat pendapatan masyarakat mulai berkurang. Dari hasil pengembangan industri banyak masyarakat kemudian beranjak ke kota untuk mencari pekerjaan”, jelas Immamul Hak.

Salah satu narasumber, Andi Faisal Anwar beranggapan bahwa kemiskinan di Sulsel jauh lebih banyak di kota dari pada didesa, karena masyarakat desa sudah tidak mempunyai sarana produksi. “Maka untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dia akan ke kota untuk mencari pekerjaan”,ujar Faisal.

Narasumber lainnya, Musdalifah Jamal mengemukakan  bahwa “perempuan dalam konflik agraria masih banyakmengalami diskriminasi. Perempuan memiliki peran penting dalam pertanian dankemampuan perempuan dalam mengelolah tanah dan membudidayakan tanaman”, ujar Musdalifah.

Baca juga:  Hari Tani Nasional, Aliansi Petani Pemuda dan Mahasiswa Pinrang Tuntut Segera Laksanakan Reforma Agraria Sejati

“Konflik agraria secara tidak langsung juga berdampak pada tindak kekerasan dalam derajat yang berbeda. Dalam banyak kasus, karena perempuan dianggap lemah secara psikologis, perempuan seringmenjadi sasaran intimidasi dan diskriminasi”, lanjutnya.

Lebih lanjut, Musdalifah menjelaskan bahwa penafsiran tentang reforma agraria harus didistribusi secara intens. Ia mengapresiasi diskusi ini karena menganggap wacana reforma agraria yang berbasis gender masih minim di Indonesia khususnya di Sulawesi Selatan. “Hal yang langka jika kita berbicara persoalan reforma agraria apa lagi penguatannya dengan analisis gender”, tutupnya.(*)

 


Reporter: Anugrah Majid
Editor: M Alfian Arifuddin


 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.