Dinamika Industri Film Dalam Supremasi Pasar

Ilustrasi: Mukhlis/Jendelapost
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

FILM merupakan media alternatif pemberi pesan yang instan di Era globalisasi ini. Dengan kemudahan mengakses dan syarat yang tidak muluk-muluk, menjadikan film sebagai sebuah kebutuhan yang tidak dinafikkan lagi keberadaannya. Bahkan tidak sedikit orang yang memilih menghabiskan waktunya untuk menikmati film. Di Indonesia sendiri, pada tahun 1920-an merupakan awal kehadiran film. Ditandai dengan deretan gedung bioskop yang berdiri di berbagai kota besar di Indonesia. Dimana pada saat itu, serial yang disajikan merupakan film-film barat. Barulah pada tahun 1927, film berdurasi pendek mulai diproduksi di Bandung. Dimana Serial yang berjudul Rulis Acih dan Lutung Kasarung ini merupakan produksi dua orang Bangsa Eropa, yaitu F. Carly dan G. Kruger. Pada tanggal 30 Maret 1950 serial yang berjudul Darah dan Doa yang disutradarai lansung oleh Usmar Ismail, menjadi film pertama yang diproduksi langsung oleh orang Indonesia. Hal ini menjadi awal dari perkembangan perfilman di Indonesia. Sehingga kini setiap tanggal 30 Maret di Indonesia dikenal sebagai Hari Perfilman Nasional.

Dalam perkembangannya, produksi film Indonesia dengan beragam genre diproduksi secara massal di setiap tahunnya. Mulai dari film bergenre percintaan, sejarah, aksi, komedi, petualangan, horor dan beragam genre lainnya. Hal ini membuat Indonesia berupaya menjadi negara yang tidak mau ketinggalan dalam pengembangan produksi perfilman. Bahkan untuk menanggapi minat para penonton terhadap film, proses produksi perfilman pada akhirnya mengalami proses akumulasi yang berkelanjutan. Apalagi dalam dunia global yang sepenuhnya dikontrol oleh pasar. Hal ini memperlihatkan bahwa adanya peningkatan produksi film yang signifikan dari tahun ke tahun.

Lewat produksi film yang masif, Indonesia menjadi salah satu penyokong produk film dengan jangkauan pasar yang lebih mengglobal. Production House (PH) berupaya memberikan pendekatan yang lebih baru dalam membuat sebuah Film, sentuhan budaya, politik, ekonomi dan agama dimasukkan agar menunjang kualitas film dan tentunya rating sebagai instrumen untuk mendapatkan profit. Eric Sasono dalam pengantarnya di buku Sejarah Film Indonesia 1900-1950, memberikan pertanyaan mendasar tentang konten film. Ia mempertanyakan film idealis dan film komersial. Film komersial sebagai produk industri tentunya menjadikan rating sebagai tujuan utama dalam memproduksi sebuah film, berbeda dengan film idealis dimana ada nilai yang harus disampaikan. Nilai yang seharusnya dimiliki setiap film begitu sulit ditemukan di era saat ini, karena kontrol pasar yang begitu mendominasi sehingga film kehilangan makna yang sebenarnya demi keuntungan yang ingin didapatkan.

Baca juga:  RESENSI FILM: Ilusi Kesejahteraan Buruh di Bawah Kerangkeng Kapitalisme

Saat ini industri perfilman Indonesia menunjukkan kemajuan yang pesat. Hal ini terlihat dalam 5 tahun terakhir, dalam hal kualitas serta minat produsen film dalam memproduksi juga semakin meningkat. Tak hanya film-film yang berskala nasional maupun Internasional, di tingkat lokal ada banyak film-film yang bermunculan. Di Provinsi Sulawesi Selatan misalnya, Film Uang Panai Maha(R)l yang diproduksi oleh 786 Production menjadi puncak dari kesuksesan film lokal dibawah bayang-bayang film ibukota. Film ini menembus 500.000 penonton. Selain film tersebut, film Silariang: Cinta yang (Tak) Direstui juga mencapai kesuksesan dalam hal jumlah penonton. Film yang diproduksi oleh Makkita Cinema Production ini menembus angka 100.000 penonton dalam seminggu tayang (bintang.com). Tentu jumlah ini terbilang sedikit jika membandingkannya dengan film-film nasional. Apalagi kedua film ini hanya tayang di Sulawesi Selatan saja.

Selain film yang bernuansa lokal, film-film yang mengangkat tema berbeda juga banyak diproduksi dengan mengikuti pola-pola produksi film mayor. Seperti dalam hal pengambilan adegan sampai pada pemasaran film. Film Istirahatlah Kata-kata (2017) mungkin salah satu contohnya. Film yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen ini bercerita tentang Wiji Thukul, seorang penyair yang berani bersuara lantang di masa Orde Baru yang sangat mencekam. Film ini mungkin tak menyerap jumlah penonton yang signifikan. Tetapi film ini mendapat banyak penghargaan, mulai dari tingkat nasional hingga Internasional. Film ini menunjukkan kesuksesan sebuah film tidak didasari oleh seberapa besar jumlah penonton, atau jumlah profit yang diserap. Tetapi tetap dengan mengedepankan subtansi dari film yang oleh Effendi (1986) merupakan sebuah hasil budaya dan alat ekspresi kesenian masyarakat.

Film—sebagaimana kesenian lainnya—harus berangkat dari kondisi sosial serta fenomena yang terjadi di masyarakat. Lewat film tersebut, sosok Wiji Thukul yang berjuang melawan ketidakadilan semakin dikenal khalayak luas. Film yang merupakan pengambaran realitas seharusnya menampilkan konten yang memiliki pesan dan kritik sosial, sebagaimana yang diproduksi oleh kebanyakan film Bollywood saat ini. Film memiliki peran yang sangat besar dalam kebudayan serta turut dalam merubah pola pikir masyarakat. Penggambaran kondisi saat ini sangat penting dimasukkan ke dalam konten film sebagai unsur yang dapat memberikan kita perpektif alternatif tentang realitas yang sebenarnya tidak baik-baik saja.

Namun kurangnya minat masyarakat untuk menonton film yang berangkat dari kondisi realitas masyarakat maupun film yang menyampaikan kritik sosial,  justru memperlihatkan budaya tontonan masyarakat saat ini. Film yang bergenre fiksi sejarah serta kritik sosial tenggelam dibawah bayang-bayang film yang bergenre komedi, action, romantis, horor, dan film-film yang bernuansa religi. Kita bisa melihat dari minat tontonan masyarakat sejak tahun 2013. Di Tahun 2013, film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck menjadi film terlaris tahun itu yang menarik penonton sebanyak 1.724.110 dan disusul oleh 99 Cahaya di Langit Eropa dengan 1.189.709 penonton, kemudian film Soekarno: Indonesia Merdeka, dengan 960.071 penonton. Setahun setelahnya, film Comic 8 menjadi yang terlaris dengan jumlah penonton sebanyak 1.624.067, disusul The Raid 2: Berandal dengan 1.434.272 jumlah penonton, dan Marry Riana: Mimpi Sejuta Dollar sebanyak 715.671 penonton di peringkat ketiga. Di tahun 2015 film Surga yang Tak Dirindukan menduduki peringkat pertama dalam hal jumlah penonton yang ditonton oleh 1.523.617, Single dengan penonton sebanyak 1.351.324, dan disusul oleh film Comic 8: Casino Kings Part 1 yang berjumlah 1.211.820 jumlah penonton (filmindonesia.or.id).

Baca juga:  RESENSI FILM: "Gabbar", Merawat Kebencian Anak Muda untuk Melawan Korupsi

Tetapi, di tahun 2016 jumlah peminat film meningkat secara drastis. Angka tertinggi di tiga tahun terakhir yang berada dikisaran 1.700.000 penonton, naik secara signifikan dengan penonton film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang menembus 6.858.616 jumlah penonton dan menjadi film Indonesia yang menyerap jumlah penonton terbanyak satu dekade terakhir, disusul film Ada Apa Dengan Cinta? 2 yang menembus 3.665.509 penonton, dan di tempat ketiga adalah film My Stupid Boss yang memiliki jumlah penonton sebanyak 3.052.657. Di tahun ini juga menjadi tahun bagi film yang bergenre komedi. Dari 10 besar film teratas dalam jumlah penonton di tahun 2016, 6 diantaranya adalah film komedi dengan total jumlah penonton sebanyak 18.874.059. Bahkan peringkat teratas dalam tiga tahun sebelumnya apabila dibandingkan dengan film-film di tahun 2016, masih berada di bawah Comic 8: Casino Kings Part 2 yang memiliki jumlah penonton sebanyak 1.835.644 di peringkat 8 (filmindonesia.or.id).

Di tahun 2017, film horor berjudul Pengabdi Setan menjadi film yang menyerap penonton terbanyak dengan 4.206.103 jumlah penonton. Film ini membawa film bergenre horor kembali mencuat. Walaupun jumlah penontonnya yang masih kalah jauh dari film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, tetapi angka yang menembus 4,2 juta penonton tentu bukan jumlah yang sedikit. Budaya tontonan yang meningkat sejak tahun 2016, masih memperlihatkan angka yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan bagi produsen film, baik produsen lokal, nasional hingga produsen Internasional. Di bawah film Pengabdi Setan, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2 menyusul dengan jumlah penonton sebanyak 4.083.190, kemudian diperingkat ketiga adalah film Ayat-ayat Cinta 2 yang mengangkat tema Romansa-Religi dengan 2.840.159 jumlah penonton. Bahkan diawal tahun 2018, salah satu film yang diangkat dari cerita novel karya Pidi Baiq, yang berjudul Dilan 1990 telah menembus angka 6.314.986 jumlah penonton (filmindonesia.or.id). Cerita yang berlatar percintaan remaja di tahun 90-an yang sempat viral di berbagai pembicaraan publik di media sosial.

Baca juga:  RESENSI FILM: Asimetris, Pembangunan Untuk Siapa?

Jumlah penonton yang tinggi menunjukkan bahwa penonton Indonesia saat ini sangat tertarik pada film-film yang—selain genre-genre populer seperti komedi dan percintaan—mengajak masyarakat untuk mengingat memori-memori masa lalu. Film Dilan 1990 tentu termasuk dalam hal ini. Kisahnya yang berlatar tahun 90-an mengingatkan orang-orang pada romantisme masa lalunya. Penonton, khususnya yang berusia diatas 20 tahun seakan merasakan masa-masa percintaan remaja mereka. Selain Dilan 1990, Film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! juga menjadi film yang mengajak masyarakat pada romantisme masa lalu. Bukan pada pengalaman masa lalu pribadi si penonton, tetapi dengan memanfaatkan popularitas DKI (Dono, Kasino, Indro) yang jaya di masa lalu. Ada juga film Benyamin Biang Kerok (2018) yang juga melakukan remake terhadap film masa lalu. Film Ada Apa Dengan Cinta? juga tak bisa dikesampingkan. Film ini kembali diproduksi di tahun 2016 dengan judul Ada Apa Dengan Cinta? 2. Walaupun hanya melanjutkan cerita dari seri pertama, tetapi dengan membangkitkan kembali film ini tentu saja membuat penonton kembali mengingat cerita kejayaan film ini di masa lalu. Apalagi film ini hadir kembali dalam waktu yang cukup lama, yakni selama rentang waktu 14 tahun sejak sekuel pertama dirilis pada tahun 2002. Dan film Ada Apa Dengan Cinta? 2 dirilis pada saat konsumerisme masyarakat terhadap tontonan sedang mencapai puncaknya. Perlu kiranya lebih mengkaji lebih dalam lagi bagaimana dinamika perfilman Indonesia yang semakin mengarah pada apa yang diinginkan oleh pasar.[*]

 

Baca juga editorial Redaksi Jendela POST lainnya atau baca artikel terkait
(jendelapost.com – Editorial)

Penulis: Redaksi Jendela POST
Editor: Suherman JF, Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.