Emansipasi Wanita ala Kapitalisme

Ilustrasi: Seaksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

SUATU MALAM saya melihat sebuah program acara di TV yang isinya mayoritas perempuan. Tak usah kusebut channel-nya, sebab akan berpotensi mempromosikannya, ataupun dicegat karena mencemarinya. Perempuan disebutkan menjadi subjek utama program tersebut, sebab program tersebut adalah program yang menghendaki kompetisi kecantikan.

Lazimnya orang mengetahui program tersebut adalah pintu untuk mengakses dunia modeling yang konon penuh warna-warni dan kemewahan hidup. Dengan demikian, program ini dipenuhi dengan wajah-wajah yang menghiasi layar kaca dengan keeksotisan, kecantikan, dan tentu yang sering kita sebut keseksian.

Tulisan ini tidak bermaksud menunjukkan tipikal paradigma yang bias gender, namun justru berusaha memahami dimana letak pembiasan gender pada program yang seolah-olah membebaskan perempuan dengan memanfaatkan kemolekan, kecantikan, keberanian tampil terbuka, dan kesiapan mereka sebagai perempuan menerima tantangan dari para penyeleksi.

Para calon modeling itu diseleksi dari berbagai negara yang berada dalam ruang lingkup tertentu. Khusus yang kusaksikan malam itu, para calon model itu mengikuti kompetisi yang bisa digolongkan cukup luas, sebab kompetisi ini diakses oleh semua negara di kawasan benua Asia. Alhasil, saya begitu senang melihat saudari-saudari sebenua yang cantik jelita, dengan lirikan mata tajam mereka yang masing-masing selalu siap menyergap lalu mengiris siapapun pria yang memandanginya serius.

Di saat yang bersamaan, percabangan pikiran timbul dalam kepala kita: cabang yang satu disokong oleh moralitas yang diambil dari sari-sari pati ajaran Nabi dan cabang yang satunya lagi disuplai kekuatan nafsu yang dikirim dari neraka oleh iblis.

Moralitas menggiring pikiran agar mengasihani para perempuan itu yang sedang terhisap tubuh dan kecantikannya hanya untuk mengenalkan merk mobil tertentu di hadapan kamera, sementara kekuatan nafsu menjadi opium yang menggoda isi kepala berpesta pora dengan rencana-rencana imajiner membawa salah satu perempuan itu ke sebuah motel terdekat sesegera mungkin.

Sebenarnya cukup naif mengatakan bahwa perempuan adalah subjek utama program tersebut. Pantasnya, perempuan dalam program tersebut boleh dikata lebih terlihat sebagai objek pasif yang terperintah oleh aneka ragam syarat-syarat yang telah tersusun sebelum mereka mengaksesnya.

Baca juga:  Ketimpangan-ketimpangan Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia

Selain itu, para perempuan yang mengikuti kompetisi kecantikan itu, lebih sering menjadi objek imajiner yang negatif, melihat tampilannya yang memang dipaksakan mengundang hasrat binal. Hal itu bahkan disyaratkan sebagai salah satu penentu untuk memenangi kompetisi, di lain sisi menjadi penarik perhatian khalayak yang banyak, dengan demikian kelak sangat berpotensi diupah untuk mempromosikan produk tertentu.

Di sini kita dapat melihat betapa perempuan menjadi sosok yang berharga di luar rumah untuk dunia yang mengeksploitasinya dengan dalih emansipasi yang sesungguhnya salah arah.

Para perempuan kebanyakan mendobrak belenggu-belenggu yang membatasinya dengan semangat emansipatoris, menghunus belatinya setajam mungkin untuk memutus rantai patriarki. Namun pada akhirnya semangat itu justru membabi buta dan menjadi kabur, lalu berbalik menyerang dirinya sendiri.

Mereka tentu jenuh diperlakukan atau digolongkan menjadi yang ke-dua dalam beberapa hal. Hal tersebutlah yang menjadi sumbu awal semangatnya. Namun banyak yang tidak menyadari, ada hal yang berupaya memanfaatkan situasi yang demikian itu. Ada hal yang berpotensi besar menyabot situasi yang katanya emansipatif itu.

Sehingga seberapapun para perempuan itu menganggap dirinya kini telah terbebas dari belenggu patriarki yang menghujam para ibu-ibu di masa silam, sesungguhnya ia tetap menjadi objek yang sama. Lalu apakah yang menyabot emansipasi para perempuan ini?

Seperti yang sedikit-banyaknya kita tahu, kapitalisme adalah sistem dunia yang sangat membutuhkan pekerja yang murah, yang upahnya bisa dinego dengan mudah, dan yang potensi berontaknya jauh lebih rendah. Dan yang memenuhi syarat-syarat itu dalam tatanan dunia yang kapitalistik adalah perempuan.

Seringkali kita mendengar perempuan yang bertutur dengan penuh kebanggaan, bahwa ia adalah seorang yang mandiri. Seorang yang merdeka, bebas, dan karenanya mereka sering menjuluki diri sebagaimana sering kita dengar; perempuan karir atau wanita karir. Dan karenanya kapitalisme sangat beruntung dengan kesadaran perempuan jenis ini. Sebab kapitalisme hanya akan mengupah perempuan sebagai pribadi mandiri yang tidak memiliki banyak tunjangan.

Baca juga:  Pelanggar HAM dan Perjuangan Merebut Ruang Kota

Berbeda dengan pria yang harus dibayar lebih, sebab ia menanggung hidup anak dan istrinya. Bahkan jika perempuan telah memiliki anak dan bersuami, ia tetap dihitung sebagai pribadi yang tunggal dan mandiri. Jadi, alih-alih mengemansipasi diri, perempuan kebanyakan justru salah langkah, dimulai sejak memaknai emansipasi itu sendiri.

Perempuan berusaha keluar dari penomor-duaan yang menyesakkan dan memarjinalkan mereka. Dimulai dari lingkungan kerja, di muka hukum, di dalam lembaga-lembaga, hingga di rumah tangganya sendiri. Namun tatkala mereka sedang merasa telah menghirup udara segar, sambil lalu mereka telah direkrut kapitalisme yang tengah merajalela.

Di dalamnya para perempuan tak mendapat posisi yang seharusnya. Seperti halnya dalam kasus modeling, kecantikan, kemolekan, dan lekuk tubuh perempuan menjadi jualan yang siap dijarah industri tertentu untuk memasarkan produknya guna membangun relasi sosial yang kapitalistik. Para model tersebut memang kadang kala selalu tampil dengan aneka busana mahal yang membuat cantik dirinya sehingga tampak tajir dan menawan.

Namun adakah yang mempertanyakan, jikalau yang dikenakannya saat berjalan di panggung catwalk modeling itu adalah miliknya? Tentu saja itu milik desainer yang siap dijual dengan harga yang membuat model itu sendiri menganga.

Lalu ada yang mengatakan para model itu menjelma menjadi perempuan yang betul-betul kaya secara finansial. Hal ini memang bisa kita saksikan sendiri pada mereka yang bekerja pada industri infotainment. Tawarannya bukan main: kehidupan mewah dan glamour. Namun kita mesti memahami bahwa kapitalisme tidaklah harmonis pada siapapun.

Kapitalisme justru menciptakan gaya hidup yang siap memiskinkan siapapun. Para model tersebut bisa menghasilkan kondisi finansial yang surplus dalam beberapa saat setelah memamerkan tubuh untuk keperluan produktivitas beberapa industri tertentu yang mengontrak jasa dan tubuhnya. Namun dalam sekejap akan lenyap ditelan habis oleh kehidupan glamour, riuh pesta pora, dan perilaku hedonistik itu sendiri yang telah menjadi ciri khas masyarakat kapitalistik.

Baca juga:  Mahasiswa Yang Terjerat Rumus

Hal tersebut akan menjadi siklus yang berulang sampai saat tubuh yang gemilang itu telah kusut, berkeriput, dan tidak lagi menawan. Dan pada akhirnya kita akan menjumpai beberapa berita populer di media dengan judul yang menyedihkan seperti “Mantan Model Ternama Yang kini Menjadi Pengemis Di Jalan-Jalan Amerika.”

Dalam kasus modeling tubuh adalah jarahan utama. Salah satu bentuk eksploitasi terhadap perempuan yang berlebihan. Itu hanya salah satu contoh kasus dimana profesi yang eksploitatif di bawah kapitalisme menunjukkan perempuan sekedar tontonan dan objek yang termarginalkan. Pada profesi-profesi lain di mana perempuan bekerja, kerap kali mereka diperhadapkan pada ketimpangan kebijakan yang mengintimidasi.

Sasarannya adalah mentalitas mereka secara psikologis guna intensitas kerja yang maksimum di bawah pimpinannya. Perempuan yang terlanjur dianggap lemah, baik secara fisik atau pun mentalitas, dimanfaatkan untuk efektivitas dan efisiensi korporasi dalam mengejar profitabilitas yang konsisten dan akumulatif.

Emansipasi yang melenceng ini harusnya diluruskan lagi oleh perempuan-perempuan yang revolusioner. Gerakan emansipatoris yang seharusnya adalah gerakan yang secara sadar mencari posisi yang ideal dalam membendung relasi-relasi yang membuat perempuan terpojok. Relasi-relasi yang kapitalistik seolah memberi pengharapan bahwa didalamnya-lah perempuan dapat berkarir, berdedikasi, berkarya, dan berkreasi, namun sesungguhnya makin memapankan kondisi yang patriarkal dengan menjadikannya tetap sebagai second human.

Emansipasi yang sungguh-sungguh adalah langkah revolusioner yang menghancurkan tatanan sosial yang kapitalistik. Para perempuan harus menyadari sebab-sebab struktural maupun kultural yang mengeksploitasi, mengalienasi, dan memarjinalkan perempuan. Dan satu-satunya yang mesti diruntuhkan adalah kapitalisme itu sendiri.[*]

 

Penulis: Suherman JF
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.