RESENSI FILM: “Gabbar”, Merawat Kebencian Anak Muda untuk Melawan Korupsi

Film: Gabbar is Back
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Film: Gabbar is Back
Sutradara: Krish Jagarlamudi
Diproduksi Pada: 1 Mei 2015

KORUPSI adalah kata yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Nyaris semua orang membenci tindak korupsi. Ada banyak upaya yang telah dilakukan untuk mencegah tindakan ini. Namun, tindak korupsi tetap saja ada, dan justru semakin meramaikan pemberitaan di layar kaca dan di berbagai media. Apakah yang menyebabkan korupsi masih tetap eksis? Bagaimanakah cara yang efektif untuk menghentikan tindakan ini? Tentu ada beragam jawaban yang diberikan. Film ini bisa saja menjadi salah satu dari sekian banyak jawaban dan pilihan untuk memberantas korupsi.

Film ini menceritakan mengenai seorang tokoh bernama Professor Aditya diperankan oleh Akhsay Khumar, yang berprofesi sebagai dosen bersama pelajar dan alumni dari National College India yang melakukan aksi penculikan dan diakhiri dengan pembunuhan. Menariknya, korban-korbannya adalah petugas-petugas yang terlibat dalam kasus korupsi. Korban biasanya dibunuh dan digantung pada tempat-tempat yang dapat dilihat oleh masyarakat umum seperti di tiang-tiang, di atas gedung tinggi, dan di monumen-monumen.

Semua korbannya digantung bersama dokumen-dokumen bukti korupsinya dan diselipkan pada rekaman disk yang berisi pesan suara dari kelompok tersebut. Disinilah teror yang dilakukan kelompok ini kepada koruptor-koruptor yang merajalela di India.

Film yang disutradarai oleh Krish Jagarlamudi ini sangat mencengangkan. Film ini seakan memperlihatkan kondisi sosial India yang penuh ketimpangan dan memiliki masalah korupsi yang harus diselesaikan. Film ini menceritakan seorang dosen dari National College bernama Aditya memutuskan untuk membongkar kasus korupsi di India. Namun, Aditya dan kelompoknya memutuskan untuk mengambil jalan pembunuhan untuk memulai gerakannya.

Jalan ini dipilih karena ingin menebar rasa ketakutan terhadap para koruptor yang semakin merajalela. Gerakan ini bernama Gabbar, yang digambarkan dengan seorang tokoh misterius yang meneror petugas negara yang korup agar menghentikan tindak korupsi yang justru merugikan masyarakat kecil.

Baca juga:  RESENSI FILM: Asimetris, Pembangunan Untuk Siapa?

Aditya yang menjadi memimpin gerakan tersebut percaya bahwa kekuatan pemuda mampu mengubah dunia dengan mengutip Swami Vivekananda, bahwa: “Beri aku 100 hati dan energi pemuda maka aku akan merevolusi seluruh negeri”. Kutipan tersebut seakan seperti dengan harapan Sukarno kepada kekuatan pemuda yang disampaikan dalam pidatonya: “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan ku guncangkan dunia”. Inilah yang mendasari Aditya untuk melakukan perjuangannya dengan bekerja sama dengan pemuda/mahasiswa di India untuk melawan ketidakadilan termasuk memberantas tindak korupsi di negerinya.

Salah satu adegan menarik dalam film ini ketika Aditya membongkar intrik yang dilakukan oleh rumah sakit. Terlihat beberapa petugas rumah sakit—termasuk dokter, suster, apoteker, dan petugas administrasi—melakukan drama dan mengambil uang pasiennya untuk meraup keuntungan lebih. Rumah sakit memanfaatkan pasien yang terlihat sangat butuh pertolongan.

Selama pasien mampu membayar, maka rumah sakit akan melayaninya. Pasien harus membayar biaya rumah sakit yang mahal jika ingin menikmati fasilitas rumah sakit tersebut. Kondisi rumah sakit yang diceritakan dalam film ini tidak beda jauh dengan rumah sakit yang ada di Indonesia. Ada banyak masyarakat yang sulit untuk mengakses kesehatan akibat mahalnya biaya kesehatan. Rumah sakit seakan menolak kehadiran orang miskin.

Pada Maret 2016 lalu, seorang wanita bernama Shopia (49) mendatangi BPJS kesehatan kota Depok dikarenakan kartu BPJS suaminya dinonaktifkan akibat tunggakan iurannya. Suaminya terpaksa dipulangkan dari rumah sakit walau masih dalam keadaan sakit (Bisnis.com, 18 Maret 2016). Tiga tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 2013 seorang bayi berusia dua bulan anak dari Mustari dan Nursia asal kabupaten Pinrang mengalami sesak nafas dan membawanya ke rumah sakit.

Di kutip dari Merdeka.com, Mustari merasa anaknya harus segera dirawat, justru dipersulit dengan mengurus segala persyaratan administrasi untuk membuktikan bahwa ia adalah keluarga miskin. Tak pelak, putrinya meninggal ditengah proses pemenuhan persyaratan tersebut (Merdeka.com, 25 Januari 2014). Hal ini memperlihatkan bahwa rumah sakit saat ini tidak lagi menjalankan tugas mulianya. Rumah sakit telah berubah menjadi tempat untuk meraup keuntungan.

Baca juga:  RESENSI FILM: Pendidikan Alternatif itu Ada Bung!

Selain memperlihatkan proses kerja rumah sakit di India dalam menambah pundi kekayaannya, di film ini juga memperlihatkan bagaimana sosok Digvijay Patil, seorang kapitalis India yang mampu menguasai lembaga pemerintahan. Ia juga menguasai berbagai sarana publik seperti rumah sakit dan property. Dyigvijay terlihat sering melakukan penyuapan demi memuluskan bisnisnya.

Hal ini mempertegas, bahwa korupsi sangat erat dengan kepentingan korporat. Apalagi India termasuk negara yang memiliki tindak korupsi yang tinggi. Hasil survey lembaga Transparency International (TI) menyatakan India sebagai negara terkorup di Asia. TI mencatat tingkat penyuapan di India sebesar 69%. Kondisi India tidak beda jauh dengan Indonesia.

Menonton film ini seakan melihat kondisi Indonesia yang juga menjadi negara yang memiliki tingkat korupsi yang tinggi. Agustus lalu, Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat, ada 266 kasus korupsi dalam rentang waktu 1 Januari hingga 30 Juni 2017. Seluruh kasus tersebut melibatkan 587 orang dan merugikan negara sebesar Rp. 1,83 triliun serta nilai suap sebesar Rp. 118,1 milliar.

TI bahkan menempatkan Indonesia di peringkat ke 90 dari 176 negara yang di survei  sepanjang tahun 2016 dengan tingkat Corruption Perceptions Index (CPI) sebesar 35. Peringkat Indonesia turun 2 peringkat dari tahun lalu yang berapa pada peringkat 88 dengan skor CPI 36. Dua sektor publik yang menjadi area utama korupsi adalah sektor peradilan dan pelayanan publik. Dengan dua data yang dikeluarkan oleh ICW dan TI, dapat disimpulkan bahwa Indonesia menjadi ladang subur bagi pelaku korupsi.

Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan mengingat Indonesia masih memiliki angka kemiskinan yang tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia  pada maret 2017 mencapai 27,77 juta orang.

Baca juga:  Melihat Kembali Orientasi Perfilman Indonesia Lewat Diskusi di Hari Film Nasional

Gabbar setidaknya membangkitkan kembali semangat untuk menegakkan keadilan khususnya dalam pemberantasan korupsi. Apa yang dilakukan Gabbar dalam film ini cukup menjadi percikan yang akan membara dalam hati kita untuk menegakkan keadilan. Seperti dalam salah satu adegan ketika Aditya berpidato di tengah lautan massa yang melakukan aksi demonstrasi, dan mengatakan bahwa “apa yang aku lakukan sudah benar tapi aku memilih jalan yang salah, karena aku tak punya pilihan”.

Walaupun Gabbar hanya sebagai tokoh fiksi, akan tetapi kita harus menjadi Gabbar-Gabbar yang baru karena Gabbar adalah “Orang yang tidak menyerah pada ketidakadilan”. Selamat hari anti korupsi internasional.[*]

 

Penulis: M. Alfian Arifuddin
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.