Hari Tani Nasional, Aliansi Petani Pemuda dan Mahasiswa Pinrang Tuntut Segera Laksanakan Reforma Agraria Sejati

Aliansi Pemuda Petani dan Mahasiswa Pinrang melakukan aksi kampanye, di depan Taman Lasinrang Pinrang, Kamis (27/09/2018). (doc/murda)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

JENDELAPOST.COM, PINRANG – Reforma Agraria Sejati, masih menjadi tuntutan pokok pada sejumlah aksi peringatan Hari Tani Nasional yang digelar hampir diseluruh Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa konflik agraria di Indonesia masih kerap terjadi di sejumlah wilayah.

Tak hanya dalam peringatan Hari Tani Nasional, aksi menuntut penuntasan dan pemberhentian konflik agraria yang kian marak terjadi di tanah Agraris seperti Indonesia pun terus di kampanyekan dan terus digelar. Mendesak pemerintah terkait segera menyelesaikan konflik-konflik agraria yang terus terjadi.

Menyoroti konflik agraria yang kian marak terjadi, Aliansi Pemuda Petani dan Mahasiswa Pinrang melakukan aksi kampanye, di depan Taman Lasinrang Pinrang pada, Kamis (27/09/2018) siang.

Pada aksi kampanye tersebut, Sejumlah massa yang tergabung dalam aliansi Aliansi Pemuda Petani dan Mahasiswa Pinrang menyampaikan kekecewaannya kepada pemerintah, diantaranya, terkait nasib petani di Kecamatan Mattiro Sompe, Desa Samaenre, Kabupaten Pinrang. Demikian, kekecewaan masyarakat dipicu atas sikap pemerintah yang abai terhadap dampak pengerukan irigasi yang di lakukan di area sawah milik masyarakat.

“Irigasi yang dikeruk menutupi saluran air yang megairi sawah-sawah petani, akibatnya aliran air yang ada harus sepenuhnya tertutup, sawah-sawah masyarakat yang terdampak cenderung mengalami kekeringan ketika kemarau datang, begitu juga kalau musim hujan datang, sawah masyarakat akan kebanjiran. Akibatnya petani mengalami gagal panen, yang terdampak sangat parah itu di Desa Padakkalawa, Kabupaten pinrang,” kata Murda Idris kepada Jendela POST, Kamis (27/09/2018).

Dalam aksi tersebut, Aliansi Pemuda Petani dan Mahasiswa Pinrang juga membeberkan sejumlah tuntutan kepada pemerintah, seperti Reforma Agraria Sejati yang tidak terlaksana, kemudian berimbas pada tidak berdaulatnya petani terhadap harga hasil produksi petani, ketidak jelasanya subsidi pupuk, Racun, bibit dan teknologi pertanian.

Baca juga:  RUU Pertanahan Mengancam Petani, HMJ Ilmu Hukum UINAM Gelar Dialog Publik

“Kami menilai, tidak adanya patokan harga layak yang menjamin kesejahteraan petani sehingga dimainkan oleh tengkulak,” terang Murda Idris.

Sejumlah Polisi tampak mengawal jalannya aksi, respon dan dukungan pun datang dari pengguna jalan, diantaranya dengan melontar kata ”Hidup Petani, Hidup Rakyat”.

Anggota Pemuda Petani Pinrang, Murda Idris menambahkan. “Kami menilai lahirnya berbagai kebijakan yang kemudian bertolak belakang dari reforma agraria, meskipun beberapa kali reforma agraria menjadi program kerja pemerintah, faktanya reforma agraria sejati yang sesuai amant UUPA 1960 tidak pernah benar-benar dilaksanakan seperti halnya pemerintah sebelumnya,” Tegasnya.

“Rezim Jokowi-JK telah memasukkan reforma agraria, namun implementasinya justru bertolak belakang dengan amanat UUPA, yang sejatinya untuk mensejahterakan rakyat, namun pada kenyataanya petani di Indonesia diperhadapkan pada perampasan lahan demi kepentingan investor, khususnya di Kabupaten Pinrang. Petani hingga hari ini sangat kesulitan terhadap akses pendidikan dan kesehatan. Komersialisasi di sektor pendidikan dan kesehatan semakin membuat petani menjerit,” tutup, Murda Idris.(*)

 

Reporter: Ahmad Mukhlis .H
Editor: Suherman JF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.