Untuk Pengantar: Bagaimana Kapitalisme Bekerja

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Ungkapan kapitalisme sebagai sistem ekonomi itu baru muncul dan dikenal secara luas pada abad ke19, diperkenalkan oleh Werner Sombart. Walaupun nama kapitalisme itu baru dikenal secara luas pada abad 19 bukan berarti kapitalisme itu adalah hal yang baru, justru cara perekonomian kapitalisme sudah ada jauh sebelum corak perekenomian feodal, dia sudah ada pada zaman yunani-Romawi kuno bahkan lebih dari itu.

Ahmad Fandi
Ilustrasi: tabaaninga.canalblog. com / se.aksi

KITA dapat melihat Indonesia dengan banyak sumber daya
alamnya yang melimpah, dengan melihat-lihat kelimpahan sumberdaya Indonesia,
sudah tentu terjaminnya kehidupan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
dan kesejahteraan pun pastinya akan dimiliki seluruh masyarakat. Akan tetapi
realitas berbanding terbalik dengan asumsi tersebut, kesejahteraan bahkan
hanyalah milik segelintir orang-orang, ditengah-tengah melimpahnya sumber daya
alam. Di sisi lain ada orang yang mati kelaparan di  tengah hasil panen yang melimpah, ada orang
yang samasekali tidak memiliki rumah sementara hutan, kayu, dan tanah lebih
banyak jumlahnya ketimbang jumlah penduduk Indonesia. kenapa hal itu bisa
terjadi? apakah orang miskin itu malas bekerja? Sementara ada seorang yang mimiliki
sejumlah rumah mewah dan mobil-mobil mewah terparkir di garasi rumahnya. Lantas
bagaimana kita mengukur kesejahteraan itu, dan bagaimana mendapatkan
kesejahteraan tersebut? ketika melihat ketimpangan kelas dan kekuasaan sarana
kehidupan, bukan hal yang gampang diserap oleh akal sehat, bahwasanya miskin
dan kaya sebuah garis takdir yang sudah di tentukan.

Masyarakat kecil dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, buruh
yang bekerja di pabrik setiap hari, petani penggarap yang mengurusi sawah tuan
tanah, petani kebun yang menjual hasil kebunnya kepada tengkulak, tetapi tidak
pernah berkembang ekonominya. Melihat mereka bekerja setiap hari menunjukkan
bahwa mereka bukan orang-orang malas, akan tetapi apa yang mereka dapatkan
hanyalah sebuah harapan hidup yang pas-pasan. Berbanding terbalik dengan mereka
orang-orang kaya pemilik usaha industri. Kerjanya hanya duduk santai sembari
menikmati hasil dari produksi buruh yang telah di lemparkan kepasar dan
mendapatkan semua keuntungan dari hasil keringat buruh dalam menciptakan
komoditi. Hasil dari akumulasi kekayaan akan di ekspansi untuk membuka kembali
industri-industri baru untuk mendapat laba yang lebih besar, sampai kekayaannya
pun berlipat-lipat ganda.

Aktifitas hari-hari kita tidak lepas dari budaya
konsumerisme, dimana segala sesuatunya itu tak sedikit harus dibeli. Apa yang
menghadirkan semua itu dalam hubungan sosial kita? Bahkan sesuatu yang
Irasional dijadikan sebagai barang dagangan untuk diakumulasi. Air bersih pun
tak luput dari komodifikasi dan dimonopoli oleh perusahaan skala Internasional.
Tanah sebagai penopang penghidupan juga tidak lepas dari jeratan sistem yang mendominasi, sistem yang membuat ketimpangan sosial dan penghisapan. Sistem
yang di maksud adalah sistem Kapitalisme, di dalam sistem ini spirit utamanya
adalah laba, cara kapitalisme dalam mendapat keuntungan dalam produksinya salah
satunya adalah penghisapan tenaga kerja buruh atau bisa dikenal dengan
pencurian nilai lebih terhadap kerja buruh. Kehidupan kapitalisme itu
tergantung terhadap tenaga pekerjanya, bagaimana buruh yang setiap hari bekerja
di pabrik dan menciptakan komoditi agar proses akumulasi kapital tetap
berlanjut.

Baca juga:  Pabiringa: Mereka yang Bertani Rumput Laut
Idealnya buruh bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,
baik itu tempat tinggal, makanan, pendidikan, kesehatan dan sebainya. Mereka
bekerja untuk hidup esok hari, dalam proses kerja dia membutuhkan waktu kerja
selama 5 jam per hari, dan itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sistem kapitalisme tidak akan membiarkan buruh bekerja selama 5 jam perhari,
tetapi dia harus bekerja selama 8 jam. Sedangkan ketika buruh bekerja selama 5
jam itu sudah cukup memenuhi kebutuhan hidupnya.Kapitalisme menetapkan waktu
kerja selama 8 jam perhari dan penetapan upah yang tetap sama walaupun waktu
kerja lebih lama, agar sirkulasi kekayaan tetap berjalan dari penetapan waktu
kerja yang lebih lama. Karenanya kapitalisme mendapatkan keuntungan yang lebih
banyak, semakin lama waktu jam kerja di tetapkan semakin banyak komoditi yang
dihasilkan, nilai lebih pun semakin bertambah.
Ungkapan kapitalisme sebagai sistem ekonomi itu baru muncul
dan dikenal secara luas pada abad ke19, diperkenalkan oleh Werner Sombart.
Walaupun nama kapitalisme itu baru dikenal secara luas pada abad 19 bukan
berarti kapitalisme itu adalah hal yang baru, justru cara perekonomian
kapitalisme sudah ada jauh sebelum corak perekenomian feodal, dia sudah ada
pada zaman yunani-Romawi kuno bahkan lebih dari itu.
Karl Marx dan beberapa pengkritik kapitalisme belum
menggunakan sebutan Kapitalisme dalam ungkapan kritikannya. Dia menggunakan
kata borjuasi dalam melihat kegiatan ekonomi bercorak kapitalisme. Kita pahami
kelas yang mendominasi dalam produksi kapitalisme adalah borjuasi. Kita akan
meliahat bagaimana keberadaan kelas borjuasi dalam corak perekonomian
perbudakan dan feodalisme. Keberadaan borjuasi dalam masyarakat feodal itu
sangatlah rendah dikarenakan kelas borjuasi atau pedagang tidak masuk dalam
struktur kelas feodal pada corak perekonomiannya. Dia bukanlah hal urgen yang
dibutuhkan oleh kerajaan pada saat itu. Untuk mengokohkan ekonominya karena
yang dibutuhkan kerajaan pada saat itu sebagai hal yang urgen contohnya seperti
para budak, prajurit agamawan, dan petani yang memberikan upetinya kepada
kerajaan. Wajar ketika kelas borjuasi itu tidak termasuk dalam lingkaran
feodal, bukan berarti kelas borjuasi tidak memiliki hubungan sama sekali dalam
masyarakat feodal. Relasi borjuasi dalam kelas feodal ada dalam bentuk
perniagaan dan perluasan wilayah perekonomian feodal dan melalui tangan
borjuasi.

Kelas borjuasi pada saat itu memiliki peran sebagai
penghubung perniagaan Eropa, Afrika dan Asia. Kelas borjuasi dalam perniagaan
dan peminjaman uang untuk membangun ekonominya tidak lepas dari aturan dan
kontrol hukum dan moral feodal, sehingga borjuasi pada saat itu dalam kondisi
tertekan di bawah aturan feodal yang harus di taati. Aturan moral kerajaan pada
saat itu diciptakan dari pandangan kaum agamawan yang menawarkan aturan kepada
kerajaan. Kontrol moral dalam perniagaan borjuasi itu harus sesuai dengan
aturan kerajaan di mana dalam proses jual beli haruslah adil dalam menetapkan
harga supaya tidak lahir akumulasi kekayaan dan di haramkanya peminjaman uang
dalam bentuk riba dikarenakan menyalahi moral dalam agama dan kerajaan. Kelas
feodal menyadari ketika tidak adanya kontrol seperti itu terhadap borjuasi akan
melahirkan penumpukan kekayaan dan bisa mengambil alih kekuasaan raja melalui
modalnya, karena proses penekanan itu membuat borjuasi merasa terasingkan dalam
hubungan ekonomi feodal dan akhirnya melahirkan perseteruan antara borjuasi
dengan feodal dan tuan-tuan tanah dan akhirnya melahirkan kemenangan terhadap
borjuasi dalam mengambil alih system perekonomian. Kita akan melihat bagaimana
runtuhnya perekonomian feodal dan lahirnua kemenangaan borjuasi.
Cara kelas borjuasi mengambil alih perekonomian feodal bangsawan
dan tuan tanah, yaitu melalui pemanfaatan akses perdagangan internasional dalam
setiap wilayah kerajaan untuk meningkatkan modal ekonominya. Ketika terjadinya
perang antar kerajaan dan kemenganan satu kerajaan terhadap kerajaan lainnya
meningkatkan akses perekonomian borjuasi dalam perniagaan dan akhirnya
menciptakan pertumbuhan kota-kota industri dan niaga. Dalam perpindahan
penduduk, barang dan perkakas meningkatkan pertumbuhan ekonomi borjuasi.
Sekaligus penemuan cara produksi yang lebih efektif dan efisien yang diciptakan
oleh borjuasi dalam pemanfaatan keuntungan ekonominya, dan akhirnya mendominasi
corak perekonomian feodal. Di dalam pemanfaatan akses kekayaan borjuasi
menciptakan system ekonomi bankir atau jasa-jasa ordo. Di mana ketika ada seorang
bangsawan atau peziarah yang ingin ke mekah ataukah kewilayah tertentu,
bangsawan itu tidak mesti lagi memborgol hartanya dibawa bersamanya. Dia cukup
menitipkan ke ordo, dan ordo ini akan memberikan sebuah kertas berupa cip yang
memiliki password. Karena ordo ini memiliki cabang-cabang di setiap wilayahnya
yang akan mengembalikan harta bangsawan tadi setelah sampai ke wilayah yang di
tujuh dengan penggunaan cip, tapi orang ini harus membayar setelah menggunakan
jasa ordo. Ini akses jasa ordo yang mendapatkan keuntungan bagi para borjuasi
dalam penciptakan kekayaan.
Melalui akses perdagangan mendorong pertumbuhan
perkotaan, pasokan barang ke kota semakin lancar dan memicu perkembangan
industri. Perpindahan penduduk, pasokan pangan, alat-alat kerja di kota membuat
aktifitas di kota semakin padat dan berkembang setiap harinya. Akhirnya kelas
borjuasi berhasil menciptakan ketergantung setiap orang untuk ke kota. Industri
yang berkembang pada saman feodal, yaitu industri rumahan di mana pengrajin
menguasai semua alat produksi mulai dari perkakas kerja, bengkel kerja, pasokan
barang baku dan tenaga kerja sendiri, artinya setiap orang adalah pemilik
sarana produksi. Tapi adanya kapitalisme jarak jauh atau borjuasi saudagar,
pada awalnya membeli barang ke pada pengrajin rumahan tadi, untuk di jual
kembali atau di ekpor keluar, membuat borjuasi saudagar ini memiliki
ketergantungan terhadap penggrajin rumahan tersebut untuk membeli barangnya.
Kegiatan tersebut memaksa borjuasi saudagar untuk
mengikat pengrajin rumahan tersebut, 
karna permintaan pasar untuk borjuasi saudagar semakin banyak. Di
sinilah awal mula sistem pesanan untuk mengikat pengrajin rumahan tadi. Dari
permintaan barang itu akhirnya borjuasi saudagar sendiri yang memberikan bahan
baku, perkakas yang lebih efektif dan
menyediakan bengkel kerja yang lebih luas dan mampu menampung pengrajin lebih
banyak untuk penciptakan barang dan lebih produktif. Pada akhirnya pemilik
sarana produksi bukan lagi pengrajin tetapi borjuasi saudagar sebagai pemilik tunggal.
Ini awal munculnya kejayaan kapitalisme untuk mendominasi corak perekonomian
feodal. Pasakon barang produksi yang tumbuh di kota membuat orang
ketergantungan untuk membeli  komoditi
tersebut. Petani penggarap tidak lagi membutuhkan pemberian hasil panen lebih
terhadap tuan tanah tetapi digantikan dengan uang sebagai nilai tukarnya. Dari
uang ini kita bisa membeli apa saja termasuk tanah dan tidak lagi menjadi
petani penggarap. Dan banyak pula tuan tanah besar menjual tanah dan hasil
panennya ke pasar untuk mendapatkan uang dan membeli barang-barang mewah hasil
dari industri barang.

Baca juga:  Sebuah Refleksi: UKT untuk Siapa?

Mendominasinya corak produksi kapitalisme memicu
kepemilikan pribadi lebih luas terhadap akses tanah. Untuk digarap menjadi
perkebunan,  pertanian, dan peternakan
sebagai pasokan bahan baku untuk dijual karena permintaan pasar industri.
Bersamaan dengan itu banyaknya peperangan dan perampasan wilayah untuk dimiliki
secara pribadi dijadikan untuk perluasan lahan dan memperbanyak buruh penggarap
untuk menambah pasokan bahan baku dan dijual kepasar industri. Di sinilah
kontrol borjuasi menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap uang. Akhirnya
menciptakan persaingan modal untuk mengakumulasi. Dari persaingan untuk
mengakulasi itu memunculkan kekayaan untuk segelintir orang  dan kemiskinan untuk mayoritas masyarakat.

Dari perkembangan industri dan penghambaan terhadap
kekayaan akhirnya memunculkan dominasi corak produsi borjuasi dan menggulingkan
corak perekonomian feodal. Aturan-aturan hukum feodal akhirnya runtuh bersamaan
dengan kerajaan-kerajaan yang dulunya mendominasi. Akhirnya sistem yang
mendominasi kita sekarang ini lahir dari pergulatan sejarah dan kemenagan bagi
borjuasi. Dan inilah yang kita kenal sekarang sebagai sistem kapitalisme yang
mengejar akumalasi kekayaan untuk segelintir orang.
Kita akan melihat bagaimana kapitalisme corak produksi
ekonominya abad ini. Yang masuk dalam hubungan sosial kita yang sifatnya
akumulatif, ekspantif, eksploitatif  dan
akibat dari ciri itu ketimpangan apa yang dilahirkan. Kekayaan borjuasi akan
menciptakan ekspansi kapital, untuk menambah akumulasi kekayaan. Pemanfaatan
ruang-ruang penghidupan untuk mengakumulasi kekayaan menciptakan penguasaan
lahan. Wajar ketika kita meliahat penggusuran di masyarakat atas nama
pembangunan. Itu akibat dari ekspasi kapitalisme yang ingin menguasai lahan
masyarakat untuk membuat usaha industri untuk menciptakan akumulasi kembali.
Ketika masyarakat sudah tidak memiliki lahan penghidupan dia akan menjual
tenaga kerja kepada borjuasi yang ada di kota menjadi buruh. Dan di pabrik
buruh ini yang sebelumnya sudah di rampas lahannya kembali di eksploitasi dalam
kerja pabrik, waktu kerja lebih, dan upah pas-pasan hanya untuk bertahan hidup
untuk esok hari, dan memulihkan tenaganya untuk kembali besok ke pabrik
menciptakan komoditas untuk di miliki borjuasi.
Dan ini yang terjadi dalam kehidupan keseharian kita,
bagaimana dominasi sistem kapitalisme masuk dalam setiap ruang-ruang kehidupan
kita. Kita harus pahami kemiskinan, kekerasan, hilangnya subsidi Negara,
perampasan lahan dan semua ketimpangan-ketimpangan  yang terjadi di semesta ini, karena adanya
sistem kapitalisme yang masuk dalam ruang-ruang kehidupan kita dan itu hadir
tidak alami. Adanya tangan minoritas yang menciptakan ketimpangan itu hanya
untuk akumulasi kekayaan.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.