Kisah Malcolm X Melawan Diskriminasi Rasial Amerika Serikat

Ilustrasi: Seaksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

“Tetaplah tenang, tetaplah sopan, taatilah hukum, dan hormatilah setiap orang, akan tetapi jika ada yang menaruhkan tangannya di atasmu, kirim dia ke kuburan.”
(Malcolm X)

MALCOLM LITTLE, Lahir pada 19 Mei 1925, di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat. Anak dari seorang pendeta baptis bernama James Earl Little, salah seorang pengikut ideologi Marcus Garvey, yang tewas dibunuh secara brutal ketika ia berusia enam tahun. Sementara ibunya ditempatkan di rumah sakit jiwa saat Malcolm Little berjak usia remaja. (history.com).

Malcolm Little adalah seorang pejuang hak-hak kesetaraan manusia, tokoh Muslim Afrika-Amerika dan aktivis hak asasi manusia. Dunia mengenalnya sebagai pejuang hak dan kemanusian kaum kulit hitam di Amerika Serikat (AS). Dia juga disebut sebagai salah satu kalangan Afro-Amerika paling berpengaruh di dunia.

Sejak usia anak-anak budaya rasisme dan diskriminasi terhadap kaum kulit hitam sudah ia rasakan, kondisi demikian memicu lahirnya ancaman dan frustrasi yang sangat dalam bagi Malcolm Little dan kaum kulit hitam di Amerika Serikat pada masa itu.

Ancaman terus dilakukan oleh gerakan ekstrem kulit putih Ku Klux Klan (KKK) yang memaksa Malcolm Little dan keluarganya harus berpindah tempat tinggal, dari Nebraska ke Lansing, Michigan. (rilis.id).

Malcolm Little mengubah nama belakangnya menjadi X (Malcolm X) sebagai wujud penolakannya atas nama “budak”, yang ia yakini bahwa hilangnya identitas keafrikaan demi mengangkat kesetaraan ras, yang saat itu sedang terjadi diskriminasi rasial kulit putih terhadap kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Hal ini juga ia lakukan saat menantang gerakan hak-hak sipil, agresi kulit putih dan praktik rasisme besar-besaran yang terjadi Amerika Serikat. (history.com).

Pejuang Hak dan Kemanusian

Baca juga:  Gus Dur dan Perjuangan Terhadap Kemanusiaan

Perjalanan kehidupan Malcolm X sendiri penuh dengan ketakutan. Semasa kecilnya Malcolm dan keluarganya sering menjadi sasaran penembakan, pembakaran rumah, pelecehan dan ancaman lantaran ayahnya adalah anggota UNIA yang militan. UNIA sendiri adalah asosiasi perbaikan kaum negro sedunia. UNIA menyebarkan panji-panji kaum kulit hitam asli, dan menganjurkan kembali ke Afrika tanah nenek moyang mereka.

Namun perjuangan ayahnya harus berakhir ketika ia dibunuh kelompok rasis kulit putih ketika Malcolm berusia enam tahun. Kehilangan ayahnya membuat Malcolm begitu sangat terpukul dan depresi hingga akhirnya di umurnya yang baru berusia 15 tahun ia tak lagi melanjutkan pendidikannya. Selanjutnya pencurian, perjudian hingga pelacuran menjadi hal yang lazim ia lakukan. Di usia 20 tahun ia diseret ke pengadilan atas dugaan pencurian dan ditahan sampai umurnya 27 tahun.

Dalam kesendiriaanya di penjara dia mulai menulis dan membaca, kemudian ia mulai melakukan korespondensi dengan saudaranya Philbert serta diskusi dengan saudara kandungnya Hilda yang sering mengunjunginya di penjara khususnya mengenai agama Islam. Hingga ia akhirnya memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Dengan masuknya ia di agama Islam dan aktivitasnya di dalam penjara dengan rutin mengadakan kontak dengan Mr. Elijah Muhammad, pimpinan sekaligus tokoh yang dianggap sebagai utusan Allah oleh pengikut Nation of Islam.

Berkat Mr. Elijah, Malcolm mulai memahami ketertindasan dan ketidakadilan yang dialami oleh ras kulit hitam sepanjang sejarah. Sejak itulah Malcolm menjadi seorang narapidana yang gemar mengkonsumsi buku-buku sastra, agama, bahasa, dan  filsafat.

Sesaat setelah keluar dari penjara, Malcolm langsung bergabung dan terlibat dalam gerakan Nation of Islam. Pada saat yang sama Nation of Islam menjadi organisasi yang berskala nasional.

Baca juga:  Sunario, Sosok Penasehat Panitia di Balik Perumusan Sumpah Pemuda

Malcolm kemudian menjadi figur yang sangat diperhitungkan pada saat itu karena aktivitas politiknya yang secara tegas dan kritis menentang diskriminasi terhadap ras kulit hitam yang dilakukan oleh kaum kulit putih.

Namun terjadi perpecahan di dalam tubuh Nation of Islam yang menggeneralisasi kaum kulit putih yang memiliki kepedulian terhadap gerakan yang dibangun oleh Nation of Islam. Malcolm yang menyadari hal  itu akhirnya mengambil sikap untuk keluar dari Nation of Islam karena menganggap hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Pada tahun 1964, setelah menunaikan ibadah haji, Malcolm X mendapatkan berbagai macam perspektif baru yang sangat berbeda dengan pemahaman yang selama ini ia dapatkan. Terlebih setelah bertemu dengan umat Islam diseluruh dunia yang tidak membedakan ras, suku, bangsa maupun agama.

Malcolm sendiri pernah mengatakan bahwa “Pengalaman haji yang saya alami dan saya lihat, benar-benar memaksa saya mengubah banyak pola piker saya sebelumnya dan membuang sebagian pemikiran saya. Hal itu tidaklah sulit bagi saya”.

Malcolm X pun mulai meninggalkan ideologi separatisme kulit hitamnya dan beralih ke ajaran yang sesungguhnya.

Malcolm X akhirnya mendirikan Organization Of Afro-American Unity pada 28 Juni 1964 di New York. Melalui organisasi ini, ia menerbitkan Muhammad Speaks (Muhammad berbicara) yang kini diganti menjadi Bilalian News (Kabar kaum Bilali-Muslim Kulit Hitam).

Sayangnya tak lama ia menikmati usahanya dalam memperjuangkan Islam yang lebih baik karena pada 21 Februari 1965 di umurnya yang ke 39 tahun, saat akan memberi ceramah di sebuah hotel di New York, dengan menggunakan senapan sawed-off berlaras ganda, sebutir peluru menyasar tepat di dadanya.

Kemudian dua orang lainnya naik ke panggung dan menembaki Malcolm dengan menggunakan pistol semi-otomatis, dia dinyatakan meninggal pukul 3:00 sore. Menurut laporan otopsi, tubuh Malcolm memiliki 21 luka tembak di dada, bahu kiri, lengan dan kaki.

Baca juga:  Baharuddin Lopa, Sang Jaksa Legendaris yang Melawan Korupsi

Kematian Malcolm X membuat kaum kulit hitam maupun kulit putih yang anti-diskriminasi begitu kehilangan. Namun semangat perjuangannya begitu diingat sebagai upaya untuk menghilangkan diskriminasi di seluruh dunia.

Begitu besarnya pengaruh Malcolm hingga membuat banyak orang untuk memeluk agama Islam, salah satu yang paling bersejarah adalah masuknya petinju kelas berat yang bernama Muhammad Ali.

Kematian Malcolm meninggalkan seorang istri dan enam orang anak.

Perjuangan Malcolm dalam menentang diskriminasi begitu melekat dalam sejarah perjuangan umat islam.[*]

 

Penulis: M. Fajrin Kasdi
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.