Martin Luther King dan Penolakan terhadap Diskriminasi Rasial

Ilustrasi: Seaksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

…“Saya mempunyai mimpi dimana suatu hari anak laki-laki dan perempuan kulit hitam akan bergandengan tangan dengan anak laki-laki dan perempuan kulit putih”,
(Martin Luther King)


HINGGA saat ini diskriminasi rasial belum juga teratasi dengan baik. Persoalan warna kulit dan ciri fisik tertentu masih banyak yang menganggapnya sebagai suatu keburukan yang telah melekat padanya. Sampai hari ini masih banyak orang yang melekatkan segi fisik dengan tingkah laku seseorang. Sekiranya ketika bentuk fisik ataupun penampilannya kumuh dan kusut, tidak luput bagi penilaian perilakunya. Hal ini sungguh membingungkan, melihat pola pikir sebagian besar masyarakat.

Entah penilaian bagaimana yang dipercaya sehingga menganggap bahwa seseorang itu baik dalam melakukan sesuatu. Masih banyak penilaian yang menganggap bahwa  orang yang berkulit putih itu tampan/cantik, suci, dan sebaliknya yang hitam cenderung dianggap buruk, jahat, dan berbagai stigma buruk lainnya. Hal itulah yang melahirkan stigma yang kuat di masyarakat  sehingga terjadi diskriminasi rasial.

Kalau kita melihat melihat secara jeli, kejahatan justru tidak memandang warna kulit seseorang. Bahkan dengan memandang ras dan warna kulit tertentu, banyak orang yang mencap sebagai golongan terbelakang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kolonialisme. Pramoedya Ananta Toer  dalam roman Bumi Manusia telah memperlihatkan bagaimana perlakuan masyarakat umum di era kolonial Belanda khususnya bagi orang-orang Eropa terhadap penduduk pribumi.

Diskriminasi rasial pun masih terjadi di Indonesia, dan yang sering mendapat perlakuan diskriminatif tersebut adalah orang-orang Papua. Masyarakat Papua pun sering dianggap masyarakat kelas dua. Mereka harus dididik dengan anggapan bahwa mereka belum menjadi manusia beradab. Hutan mereka yang kaya akan sumber daya alam dan menjadi sumber penghidupan mereka pun dikuras dengan pendirian pertambangan. Tetapi pertambangan tersebut justru tidak diperuntukkan bagi mereka, dan justru dibangun hanya  untuk kepentingan akumulasi kapital. Pertambangan yang sebenarnya dapat menghidupi mereka bahkan dapat menghidupi seluruh masyarakat Indonesia. Dan anggapan sebagai masyarakat terbelakang membuat akses mereka terhadap pengelolaan sumber daya diambil alih.

Baca juga:  Baharuddin Lopa, Sang Jaksa Legendaris yang Melawan Korupsi

Diskriminasi rasial juga dialami oleh warga kulit hitam Amerika serikat yang bahkan terjadi hingga saat ini. Dengan berlangsungnya proses diskriminasi tersebut, ada beberapa tokoh yang dikenal karena penolakannya terhadap perlakuan diskriminatif tersebut. Salah satunya adalah Martin Luther King Jr, sosok pendeta yang memiliki keberanian dan tekad yang kuat dalam berjuang.

Keberaniannya dalam memperjuangkan kedudukan masyarakat kulit hitam berdampak besar terhadap pandangan masyarakat Amerika terhadap warga kulit hitam. Menciptakan sebuah perubahan, baginya sangatlah tidak mudah. Martin Luther King juga harus rela mengorbankan hidupnya meskipun hasilnya sangat menyedihkan. Perjuangan panjang yang ditempuh harus menerima konsekuensi  yang berat, salah satunya saat harus berada dalam penjara akibat melakukan aksi dalam menentang diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam. Akan tetapi, perjuangan yang dilakukan membuat dirinya begitu dikenal oleh masyarakat Amerika Serikat bahkan di penjuru dunia. Kematiannya pun dijadikan sebagai hari libur federal di Amerika Serikat.

Mengenal dan memahami Riwayat hidup Martin Luther King

Di Amerika terdapat seorang pendeta yang berani dalam melawan diskriminasi rasial. Pendeta ini bernama Martin Luther King Jr, Ph.D yang lahir pada 15 Januari 1929 di Atlanta, Georgia, Amerika serikat. Martin Luther King adalah seorang baptis dan aktivis Hak Asasi Manusia berdarah Afro-Amerika yang menerima nobel. Martin Luther King juga dianggap sebagai sosok pahlawan yang berhasil melakukan perlawanan terhadap diskriminasi rasial secara besar-besaran dalam sejarah di Amerika Serikat. Dia pun berhasil menciptakan sejarah perjuangan tanpa kekerasan pada zaman modern.

Pada 18 Juni 1953 Martin Luther King menikah dengan sosok wanita yang bernama Coretta Scott setelah dia lulus dari Morehouse College dengan gelar Bachelor Of Arts (dalam bidang sosiologi) pada tahun 1951. Martin Luther King berhasil meraih gelar Ph.D nya dalam teologi sistematika dari Universitas Boston  pada 1955. Martin Luther King adalah seorang pendeta gereja baptis Montgomery, Alabama yang berjuang melawan diskriminasi 1963. Perjalanan Martin Luther King telah banyak melakukan perlawanan melalui demonstrasi besar-besaran dan berhasil memboikot tanpa merusak dan menggunakan kekerasan

Baca juga:  Melihat Sosok Pram dari Dekat

 Masyarakat juga mengatakan, bahwa Martin Luther King memiliki kepemimpinan yang sama dengan Mahatma Gandhi yang anti terhadap kekerasan. Perjalanan hidup dan perlawanan yang dilakukannya banyak menciptakan kesuksesan besar bagi masyarakat yang berkulit hitam. Akan tetapi banyak aktivis yang menganggap jalan tanpa kekerasan yang dilakukan Martin Luther King adalah sebuah kesia-siaan sehingga banyak yang tidak sejalan dengan apa yang dilakukannya.

Saat terjadi aksi demonstrasi menuntut diskriminasi rasial terhadap orang-orang berkulit hitam, Martin Luther King pun dipenjarakan, dipenjara Birmingham. Baginya penjara bukanlah cara untuk membungkamnya dan bukan tempat yang membuatnya tidak bisa melakukan hal apa-apa lagi. Di penjara Martin Luther King membuat tulisan yang diberi judul Surat dari Penjara Birmingham. Dalam tulisannya Martin Luther King menyatakan bahwa ia merasa terpanggil untuk menyuarakan suara kenabian atas ketidakadilan yang terjadi pada dirinya. Ia juga mengkritik pemboikotan bus yang terjadi di Birmingham. Baginya, mereka yang telah melakukan aksi boikot tersebut adalahorang yang tak mengerti dan tak sadar terhadap pemboikotan yang dilakukan. Martin Luther King berpendapat bahwa mereka terlalu terbuai oleh dominasi  politik yang menjadi kekuasaan orang kulit hitam.

Martin Luther King juga tidak hanya berpartisipasi dalam melawan diskriminasi rasial terhadap masyarakat kulit hitam. Akan tetapi, Martin Luther King juga ikut melawan serta menentang perang di Vietnam. Awalnya Martin Luther King mulai dikenal pada saat dia menjadi pendeta dan berpidato yang dikenal dengan judul Saya Memiliki Impian pada pawai berbarisnya ke Washington,DC 28 Agustus 1963. Dari situlah Martin Luther King perlahan mulai dikenal Khalayak Luas.Perjuangan seorang pendeta baptis ini memiliki landasan moral yang sangat tinggi dan memiliki banyak kontribusi kepada ras kulit hitam di Amerika.

Baca juga:  Sunario, Sosok Penasehat Panitia di Balik Perumusan Sumpah Pemuda

Martin Luther King adalah juru bicara anti kekerasan yang memperjuangkan hak-hak sipil. King melakukan protes diskriminasi rasial dalam hukum federal dan Negara hingga tewas dibunuh di Memphis, Tennesse pada tahun 1968. Kematian adalah suatu hal yang istimewa bagi dirinya, karena berhasil melakukan perjuangan anti kekerasan terhadap ras kulit hitam. Kematian dirinya membuat masyarakat berhutang banyak kepadanya. Hari kelahirannya pun diwacakan agar dijadikan sebagai hari libur federal setelah empat hari kematiannya.

Tetapi hal itu sangatlah tidak mudah untuk disahkan. Keputusan tersebut harus meminta persetujuan dari Presiden Ronald Regean untuk menandatangani serta mensahkan hari Martin Luther King Jr. Setelah Presiden Ronald Reagan menandatangani dan dinyatakan sah, maka pada hari Senin 20 januari 1986 hari Martin Luther King Jr pertama kali diperingati dan dinyatakan sebagai hari libur nasional di Amerika Serikat. Awalnya banyak negara bagian yang tidak sepakat untuk menjadikan hari Martin Luther King sebagai hari libur federal dan menyarankan untuk menggabungkannya dengan hari libur lainnya. Pada tahun 1989  hari Martin Luther King Jr hanya diterima oleh 44 negara bagian dan baru bertambah menjadi 50 negara pada tahun 2000. Hari Martin Luther King Jr pun telah dirayakan oleh penduduk Amerika Serikat dengan melakukan bakti sosial untuk memperingati Martin Luther King.***


Penulis: Ashabul Kahfi
Editor: M Alfian Arifuddin


Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.