Masihkah Pendidikan Mencerdaskan dan Memanusiakan Manusia?

Ilustrasi: occupy.com
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

PENDIDIKAN hari ini sudah berbeda dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Institusi negara Republik Indonesia sudah jauh hari sejak berdirinya memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan demi mencerdaskan kehhidupan bangsa. Hari ini konteks pendidikan yang kita rasakan tidak lagi dengan semangat mencerdaskan.

Orang yang memberikan ilmu pengetahuan, guru (dosen, dll) sudah jarang kita temukan mengajarkan murid untuk kritis dan berpihak kepada rakyat yang mengalami ketertindasan, dan yang merasakan ketidakadilan. Guru hanya cenderung untuk memberi perintah kepada peserta didik dan memberikan rumus-rumus yang dianggap tepat. Guru memainkan peran otoriter, yang pada dasarnya merampas kebebasan peserta didik untuk mengembangkan cara berfikir kritis peserta didik.

Semangat pendidikan bukan lagi sebagai sarana umum masyarakat untuk mengakses ilmu pengetahuan. Sekilas memang sekolah memberi kesan terbuka terhadap semua orang yang datang ke sekolah, tetapi dalam kenyataannya sekolah hanya terbuka kepada mereka yang terus-menerus memperbarui surat kepercayaan mereka.

Ivan Illich melihat pendidikan hari ini seperti jalan tol, bagi mereka yang mampu membayar biaya sekolah maka mereka akan leluasa masuk pada pendidikan di sekolah dan menikmatinya. Mereka yang tidak memiliki akses untuk memperoleh pendidikan, tidak dapat merasakan sekolah karena mahalnya biaya pendidikan.

Sistem demokrasi dalam memperoleh pendidikan diperlukan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dimana pendidikan bisa di rasakan oleh semua kalangan, baik miskin maupun kaya.

Karena idealnya suatu pendidikan memberikan kesempatan kepada semua orang untuk bebas dan mudah memperoleh sumber pengetahuan pada setiap saat. Pendidikan sebaiknya mengizinkan semua orang yang ingin memberikan pengetahuan mereka kepada orang lain dengan mudah, demikian pula bagi orang yang ingin mendapatkannya.

Untuk menciptakan kebebasan dalam mengakses ilmu pengetahuan, kontrol yang selama ini dipegang oleh orang atau lembaga atas nilai-nilai pendidikan mereka, untuk membebaskan usaha membagikan keterampilan dengan menjamin kebebasan atau mempraktekkan keterampilan tersebut harus dihapus.

Baca juga:  Al Quds, Jalan Lain Menuju Pembebasan Palestina

Semestinya sumber-sumber pengetahuan yang merangsang daya kritis dan kreatifitas yang dimiliki masyarakat diberikan ruang untuk merealisasikannya.

Ilmu pengetahuan tidak hanya dapat di peroleh dari sekolah, akan tetapi dapat juga diperoleh dari luar sekolah seperti lingkungan keluarga dan alam. Pada akhirnya seorang terdidik hanya bisa menuruti apa yang telah dijajakan oleh sekolah berupa ilmu pengetahuan tanpa harus tahu dari mana dan bagaimana ilmu pengetahuan tersebut.

Pendidikan yang ada hampir sama dengan model bank, di mana pendidikan hanya sebuah transfer ilmu pengetahuan. Apa yang dijajakan oleh guru itu yang harus di terima oleh murid, bahkan peserta didik sering di cap sebagai anarki ketika mencoba mengkritik seorang guru.

Pendidikan bukan untuk melahirkan manusia yang jinak sesuai dengan kondisi sistem, sebagaimana yang sudah berlangsung sepanjang sejarah Indonesia. Tetapi pendidikan adalah hak manusia untuk meningkatkan pemikiran kritis dan tidak jauh dari rakyat yang merasakan penindasan.

Pada tahun 1922 saat Taman Siswa didirikan Ki Hajar Dewantara hadir untuk menciptakan pendidikan yang memanusiakan manusia. Begitulah esesnsi pendidikan menurut seorang menteri pendidikan RI pertama. Menurutnya pendidikan haruslah memerdekakan kehidupan manusia dan pendidikan mesti disandarkan pada penciptaan jiwa merdeka, cakap, dan berguna bagi bangsa.

Pada era saat Indonesia sedang memperjuangkan kemerdekaannya, instrumen paling utama yang diperkuat adalah soal pendidikan dan pencerahan. Betapa tidak, tokoh-tokoh penggerak kemerdekaan saat itu adalah mereka yang berasal dari kaum terpelajar. Pun pendidikan saat itu betul-betul dijadikan sebagai alat perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kebodohan dan penghisapan oleh penjajah.

Pendidikan memang tidak bisa lepas dari tujuan negara atau pemerintah. Pada masa kepemimpinan Bung Karno, pendidikan menjadi sarana untuk membangun karakter bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan tenaga terdidik dan terampil untuk membangun bangsa.

Baca juga:  Islam dan Komunisme dalam Melawan Kolonialisme

Bagaimana dengan kondisi pendidikan saat ini? Apakah pendidikan masih dijadikan sebagai alat membangun karakter bangsa dan menyiapkan tenaga terdidik untuk memajukan bangsa? Masihkah penyelenggaraan pendidikan selaras dengan mencerdaskan kehidupan bangsa?

Pendidikan hari ini sangat kapitalistik, yang selalu mengedepankan persaingan ketimbang kerja sama. Lembaga pendidikan semata-mata diperuntukkan untuk kebutuhan pasar, dan pendidikan hanya dijadikan sebagai instrumen atau kendaraan bagi kapitalisme untuk mencetak tenaga-tenaga profesional yang nantinya akan ditempatkan pada perusahaan milik korporasi.

Sehingga pada karakternya pendidikan direndahkan posisinya hanya sekedar alat elevasi sosial untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Biaya untuk mengakses pendidikan semakin melonjak naik akibat bisnis yang dilakukan dalam dunia pendidikan.[*]

 

Penulis: Anugrah Majid
Editor: M. Alfian Arifuddin

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.