Melihat Kembali Perjuangan Reforma Agraria

Ilustrasi: graphis. com / jendelapost
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

INDONESIA dikenal sebagai Negara agraria sumber penghidupan masyrakat secara umum, tanah ibarat ibu kita yang memberikan kehidupan pada semua mahluk  sehingga mampu mereproduksi. Padi yang tumbuh kemudian diolah, hutan yang dimanfaatkan untuk membuat rumah dan masih banyak lagi pemanfaatan yang lain. Sumberdaya alam yang menjadi penopang hidup dan segala kemajuan peradaban yang dapat dirasakan hari ini tidak lepas dari bagai mana manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang ada.

Pengelolaan sumberdaya alam salah satu syarat tercapainya kesejahtraan masyarakat. Indonesia memiliki sumberdaya alam yang di butuhkan oleh semua Negara  bagaimana Belanda masuk di Indonesia dan melakukan penjajahan yang tidak manusiawi melalui sistem tanam paksa. Belanda masuk di nusantara pada tahun 1596 dan pertama kali mendarat di Banten.

Dengan kekuatan persenjataan yang lengkap, tekhnologi dan kukuatan yang teorganisir akhirnya mampu menundukkan  kerajaan–kerajaan yang ada dinusantara  dan mengambil alih dominasi kukuasaan mengubah bentuk kultur dan sturuktur yang sudah ada sebelumnya  yang di bangun oleh kerjaan yang bersifat feodal, pengubahan struktur yang di lakukan oleh belanda menambah penderitaan dan memperpanjang garis perbudakan secara luas di nusantara yang sebelumnya pernah dilakukan oleh kerajaan.

Sistem tanam paksa yang dilakukan oleh belanda pada tahun 1830 inilah peraturan yang diterapkan oleh gubernur jendral Johannes van den Bosch, di mana masyarakat betul-betul merasakan penderitaan dan kemiskinan karna adanya sistem itu yang mencabut hak-hak masyarakat terhadapap akses sumberdaya alam. Masyarakat di paksa untuk membuka lahan pertanian, perkebunan yang harus mereka garap secara kolektif untuk kepentingan pasar modal belanda.  Hasil panen masyarakat seperti tebu, kopi, dan berbagai macam rempah-rempah dan lainnya  di ekspor di berbagai Negara dalam pasar internasional. Semua akses sumberdaya alam yang dimonopoli  oleh kolonial dan beberapa orang tertentu sebagai simpatisan kolonial, bagaimana kerajaan mengirimkan budaknya untuk dikirim ke Jawa, budak inipun di perdagangankan dan dipekerjakan dengan cara yang keji dan penuh dengan kekerasan, tanpa upah dan jaminan keselamatan kerja.

Baca juga:  Ketimpangan-ketimpangan Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia

Inilah salah satu bukti pada masa kolonial Hindia Belanda ketika sumberdaya alam yang begitu melimpah, tanah yang begitu luas dan dikuasai sekelompok minoritas kolonial dan simpatisannya, kemudian melahirkan berbagai ketimpangan dan kemiskinan terhadap masyarakat. Dengan itu, kemudian lahir kemiskinan sumberdaya manusia di bawah tekanan kemiskinan, akses ekonomi dan dominasi penindasan kolonial membuat masyarakat menjadi minim pengetahuan, kesehatan serta moral yang kolot.

Kita kembali melihat bagaimana kebijakan pemerintah pascakolonial tepatnya pada fase Revolusi atau kemerdekaan atas akses sumber daya alam  dan kebijakan agraria tepatnya pada masa demokrasi terpimpin  pada tahun 1960-1965. Keberanian soekarno dalam mengambil keputusan yang berpihak kepada rakyat, seperti pergantian demokrasi parlemen dengan demokrasi terpimpin.

Soekarno mengagap demokrasi perlem tidak mampu muwujudkan tatanan keadadilan untuk masyarakat secara merata karna demokrasi parlemen adalah sisa-sisa dari kebijakan kolonial, sebelumnya hanya menguntungkan pemodal asing dan Impralisme sebagian pejabat negara yang korup, karenanya itu harus diganti dengan demokrasi terpinpin yang berpihak kepada masyarakat kecil, pedagang dan para buruh ini disebut soekarno  dengan kaum “Marhaen” (proletar indonesia).

Sebelum demokrasi terpimpin kondisi politik dan ekonimi Indonesia sangat kacau, banyak dari kalangan pejabat-pejabat Negara yang berwatak liberal dan kapitalistik ditambah bagaimana sisa feodal yang masih kental dalam hubungan sosial masyarakat sehingga masyarakat tidak berkembang dalam ekonominya  dan akses sumberdaya alam  dan itu yang memaksa soekarno melakukan perombakan struktur system  terhusus  dalam pengelolahan sumberdaya alam dan akses lahan untuk masyarakat sehingga kesejahtraan yang dicita-citakan dapat tercipta.

Penyampaian pidato soekorno dalam kebijakan agrarisnya: “Pada taraf sekarang ini,..landreform  di  satu pihak berarti penghapusan segala hak-hak asing dan konsensi- konsensi  kolonial atas tanah, dan mengakhiri penghisapan feodal secara berangsur- ansur, dilain pihak lanndreform berarti memperkuat dan memperluas pemilikan tanah untuk rakyat indonesia terutama kaum tani ja..! tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan! Tanah untuk tani! Tanah untuk meraka yang betul-betul menggarap tanah! Tanah bukan untuk mereka yang duduk ongkang-ongkang  menjadi gendut karna penghisapan keringat orang-orang yang di suruh menggarap tanah itu”.

Ungkapan pidoto soekarno menunjukkan kebijakan  domekrasi terpimpin yang mengarah kepada sosialisme, pengambilalihan modal swasta dan panghapusan hak-hak feodal dan distribusi tanah secara merata di setiap keluarga kebijakan yang mengarah kepada sejahteraan bersama, setiap elemen masyarakat, membuat beberapa kelompok lembaga kepemerintahan atau blok-blok kelompok tertentu merasa terancam kepentingannya  atas demokrasi terpimpin yang mengarah ke sosialisme, terbukti demokrasi  terpimpin yang berjalan selama 5 tahun akhirnya di tumbangkan bersamaan dengan jatuhnya soekarno sebagai bapak pendiri domokrasi tersebut.

Baca juga:  Problematika Kemahasiswaan di Bawah Regulasi Berorientasi Pasar

Penggantian rezim kekuasaan yang diambil alih oleh soeharto, dalam bentuk peristiwa fitnah besar-besaran yang dikukuhkan oleh blok kapitalisme atas soekarno dan pendukungnya PSI dan KOMUNIS. Kemudian melahirkan tragedi kemusiaan 1965 yang berimplikasi atas pembunuhan massal dan terencana yang dilakakun oleh blok kapitalisme melalui militer, agamawan dan masyarakat pendukung kapitalisme untuk menghancurkan kekuasaan soekarno dan partai komunis  sebagai sekutu soekarno  pada saat itu.

Agresi militer di setiap wilayah yang ada di indonesia untuk membantai simpatisan angota partai komunis sebagai korban fitnah atas pembunuhan ketujuh jenral tersebut, dan akhirnaya kejayaan untuk blok kapitalisme untuk menguasai indonesia dan segala potensi yang bisa di eksploitasi  melalu kekuasaan soeharto, terbukti pada tahun 1967 di mana kondisi indonesia sedang kacau-kacaunya, penanaman modal asing masuk, freeport mulai mendapatkan izin untuk menghisap sumberdaya alam indonesiayang akan beremplikasi terhadap kemiskinan masyarakat.

Sebelum kejayaan soeharto, perusahaan freeport tidak mendapatkan isin oleh soekarno pada tahun 1960, pemberlakuan undang-undang penanaman modal asing yang dilakukan oleh soeharto sama halnya kita mengiyakan negara kita kembali dijajah oleh negara impralisme yang berwatak modal dan pasar bebas atau kapitalisme. Titik awal kembalinya lagi kehancuran negara indonesia sampai hari ini, kembali eksploitasi  dan pemenjarahan sumberdaya alam di setiap ruang-ruang kehidupan akibat krisis kapitalisme yang semakin hari semakin mengeksploitasi.

Kelahiran kembali tuan tanah baru yang berkekuatan modal siap untuk menguasai lahan masyarakat  dan masuk kembali dalam perlemen.Walaupun soeharto tumbang pada tahun 1998 akibat krisis ekonomi yang memicu kesadaran masyarakat bukan berarati kebijakan yang diterapkan soeharto itu ikut hancur bersama dirinya seperti yang dialami soekarno itu malah ikut menjalar menysuaikan diri atas perkembamgan kapitalisme.

Baca juga:  Skorsing Mahasiswa UIN Alauddin Makassar dan Adat Istiadat Institusi Pendidikan

Sampai saat ini dengan model-model baru negarah selaku pengambil  kebijakan dan keputusan justrus mempertahankan warisan Orde Baru sampi hari ini, wajar ketiaka ketimpangan-ketimpangan yang terjadi hari ini tidak lahir secara alami, tetapi adanya sistem pro-kapitalisme  yang semakin hari semakin memiskinkan masyarakat banyak dan semakin memperkaya segelintir orang.***

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.