Melihat Sosok Pram dari Dekat

Ilustrasi: Seaksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

SIAPA yang tak kenal dengan sastrawan kenamaan Indonesia, Pramodya Ananta Toer. Anak dari pasangan Mastoer dan Oemi Saidah ini lahir di Blora, Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925. Masa dimana pergerakan dan pergolakan untuk menentang Kolonialisme Belanda tumbuh subur di sejumlah wilayah. Hal ini menjadikannya pribadi  dengan idealisme yang kuat.

Ia merupakan anak sulung dari 9 saudara dan memiliki kedekatan erat dengan Ibunya. Kondisi yang tidak begitu harmonis dengan ayahnya yang sering mencaci dan memakinya lantaran ketika masih SD, Pram kecil sempat tinggal kelas selama beberapa kali. Hal ini membuat muak Ayahnya. Sikap Ayahnya yang tidak ingin ambil pusing untuk kebutuhan ilmu pengetahuan anaknya, membuat diri Pram kecewa. Bahkan berujung pada pengusiran atas dirinya.

Ketika menginjak usia kanak-kanak, Pram sudah memperlihatkan posisi keberpihakan dimana Ia seharusnya berdiri. Meskipun berasal dari anak keturunan Guru di Sekolah IBO (Institut Boedi Oetomo), Ia merasa malu jika harus berinteraksi dengan anak-anak yang berasal dari latar belakang yang sama dengannya. Pram malah memilih bergaul dengan anak para kaum buruh tani di sekitar rumahnya. Hal ini menjadi cikal bakal lahirnya rasa simpati dari diri Pram tentang situasi dan kondisi ketimpangan yang terjadi di sekitarnya.

Hal ini membuatnya sedikit demi sedikit memahami betapa sulitnya menjalani hidup bagi para kaum buruh tani. Hal ini juga kemudian mendorong Pram melahirkan gagasan yang ia tumpahkan dalam tulisan.

Ketika menginjak remaja, desakan dari Ayahnya untuk tidak melanjutkan sekolah sama sekali tidak menjadikannya gentar. Dengan biaya dari Ibunya yang kesehariannya menjajahkan nasi kuning. Iapun tetap saja ingin menepis sikap skeptis dari Ayahnya. Ia tetap saja menulis dan melanjutkan aktivitas sebagai orang yang haus akan ilmu pengetahuan.

Baca juga:  Sunario, Sosok Penasehat Panitia di Balik Perumusan Sumpah Pemuda

Kemandirian dirinya pun semakin terasah, apalagi sepeninggalan Ibunya, Ia dan kedelapan adiknya tinggal bersama di rumah keluarga mereka di Jakarta.

Di tempat inilah Pram menemukan jati dirinya sebagai seorang penulis, dengan bantuan material mesin ketik pamannya, yang menjadi wadahnya untuk menuliskan keluh-kesahnya atas ketimpangan yang terjadi.

Di masa setelah proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, gencatan dan agresi militer masih saja dilakukan oleh Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Di sela-sela kegaduhan yang diakibatkan oleh serangan ini, Pram kemudian bergabung dan ikut serta dalam melawan kolonial Belanda, yang pada akhirnya mengharuskan dirinya dijebloskan ke penjara  selama dua tahun sejak tahun 1947.

Selama mendekam di penjara, Ia bertemu dengan seorang pengarang yang begitu antusias memberinya saran. Selepas itu, ia pun mulai mengangkat isu seputar pengalaman di masa-masa perjuangannya ini berupa novel ataupun juga cerpen.

Hal ini bisa terlihat dari  novel pertamanya  Perburuan(1950), yang Ia tulis setelah menjalani masa penahanan di penjara Belanda. Selain itu, adapula kumpulan Cerpen Subuh (1950), juga Pertjikan Revolusi (1950) dan deretan karya yang lain.

Setelah kemerdekaan dapat diraih kembali oleh pemerintahan Indonesia, Pram akhirnya bisa menghirup udara bebas.

Pada tahun 1951-1952, Ia lalu bekerja sebagai editor di Departemen Literatur Modern Balai Pustaka, Jakarta. Setelah kembali, Ia lalu berangkat ke Belanda untuk memenuhi amanah program pertukaran kebudayaan yang dilakukan pada tahun 1952. Sepulangnya dari kunjungannya itu, Ia merasakan begitu banyak perubahan. Momen tersebut seakan mengangkat kepercayaan diri.

Tidak lama setelah kepulangannya, Ia diundang menghadiri kongres LEKRA (Lembaga Kerakyatan) di Solo pada tahun 1959. Tetapi dalam kunjungannya ini banyak yang mengira bahwa secara tidak lansung Pram menyatakan keanggotaannya terhadap organisasi itu. Padahal pada saat itu status Pram hadir sebagai tamu. Ia bahkan diminta untuk mengajar di fakultas sastra Res Publica atau kini dikenal sebagai Universitas Trisakti.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Membuka Sejarah Nusantara, Lewat Tetralogi Pulau Buru

Namun masa sulit dialami Pram saat terjadinya tragedi 1965, setelah pembersihan PKI oleh rezim Orde Baru. Pram dianggap sebagai bagian dari LEKRA, yang dituding bagian dari sayap PKI.

Hidup sebagai tahanan politik di pulau Buru menjadi momen paling sulit dilupakan oleh Pram sepanjang hidupnya. Selama di sana, ia beberapa kali mengalami penyiksaan hingga Ia mengalami gangguan pendengaran lantaran gagang senjata sempat menerobos masuk kebagian pelipisnya. Pram beserta ribuan tahanan lain lalu dibuang ke Pulau Buru.

Meskipun kehidupan selama di Pulau Buru banyak menguras tenaga dan memakan banyak waktu untuk bekerja, tetapi rutinitas menulis tetap Ia lakukan. Dan hal ini merupakan upaya-upayanya untuk tetap menjaga sejarah silam yang sempat ia geluti pada saat masih mengajar dosen di fakultas sastra.

Di pulau Buru pula Pram menghasilkan karya agungnya yakni novel tetralogi Pulau Buru.

Bagi generasi muda bangsa, karya agung Pram tersebut merupakan karya terbaik untuk mengenal sejarah bangsa Indonesia. Dari Pram pula kita bisa belajar bagaimana tetap konsisten pada pilihan hidup untuk melawan penindasan, meski harus mengalami penderitaan.***


Penulis: Abrisal
Editor: Ahmad Mukhlis H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.