Menjadi Kawanan, Bukan Kerumunan Apalagi Keluarga

Ilustrasi: Mukhlis
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

“Tidak ada pabrik yang paling menguntungkan bagi Negara dan kapitalisme selain rahim seorang perempuan” (Membaca kilas perumpamaan perempuan sebagai pabrik bukanlah sebuah upaya subordinasi bagi perempuan maupun laki-laki, melainkan sebagai narasi sarkastis yang coba menegasikan kebenaran semu yang berhasil direproduksi secara terang-terang oleh sistem dominan dan negara saat ini).

BUDAYA Patriarkal yang melekat dipucuk peradaban modern bukanlah sebuah kebetulan semata yang memungkinan ia jatuh dengan tiba-tiba dan mendarat ke setiap pangkuan perempuan, melainkan sebuah keganjalan yang perlu dipertanyakan. Apakah benar, bahwa evolusi seksualitas meniscayakan subordinasi terhadap perempuan akibat perbedaan biologi dan potensi fisiologis? Alih-alih, evolusi seksualitas menjadi aset penting bagi sejarah dominasi, pemisahan dan hegemoni simbolik terhadap subordinasi perempuan.

Sejarah telah ditaklukkan dan mengabaikan kenyataan besar dari penindasan yang dialami perempuan. Banyak teoretisi feminis, antropologis dan bahkan arkeologis mencari penjelasan terhadap peradaban awal yang eksis. Namun, masyarakat matrialkal dalam peradaban awal tidak dapat dibuktikan sama sekali, memercayai sejarah tersebut adalah melanggengkan rantai kutukan dan kesia-sian. Dunia yang berisi gelombang penderitaan bagi perempuan secara luas telah berkembang sejak mula manusia  mengenal pembagian kerja dalam fungsi kekerabatan.

Dalam masyarakat modern pasca revolusi industri, analisis marxis yang menjadikan hubungan produksi dalam masyarakat tertentu sebagai titik berangkat, marxis ortodoks yang mengaitkan subordinasi perempuan dan kapitalisme hingga para feminis radikal yang berpandangan bahwa proses produksi masyarakat modern melibatkan baik relasi kapitalisme dan patriarkal. Bentuk analisis ini didasarkan pada dua aspek dalam situasi ekonomi perempuan. Pertama, posisi perempuan dalam pasar tenaga kerja berbeda dengan laki-laki; kedua perempuan juga terlibat dalam pekerjaan domestik. Rushton memberikan gambaran dalam perdebatannya, apakah pekerjaan domestik menghasilkan nilai tambah “surplus value”, apakah nilai tersebut mewujud dalam kemampuan kerja sang suami dan direalisasikan melalui pendapatannya.[1]

Baca juga:  Ketimpangan-ketimpangan Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia

Bagaimanapun, metastasis merentang jauh dimasa lalu ketika perempuan menjadi subjek kecil dari laki-laki, sebelum kebudayaan didefenisikan secara tunggal dan universal. Pembagian masyarakat manusia menurut elman service menjadi empat kategori berdasarkan peningkatan ukuran populasi, sentralisasi politik, dan stratifikasi sosial: kawanan (band), suku (tribe), kedatuan (chiefdom), dan negara (state). Evolusi masyarakat pasca kawanan menjabarkan pembagian kerja yang menuntun pada domestikasi dan peradaban, dan mendorong sistem dominasi global pada saat ini. Collier dan Yanagisako mengamati pentingnya konsep reproduksi dalam gagasan kontruksi kultural mengenai gender yang melekat alamiah dalam sistem kekerabatan.[2] Konstruktivisme sosial tidak hanya mengendalikan ketidaksetaraan namun juga dominasi kekuasaan yang menyiratkan penindasan. Sebab, dari hirarki berangkat dari sistem kekerabatan adalah kepastian.

Gender tidak sama dengan pembedaan biologis dan fisiologis antara seks. Ini sebuah kategorisasi budaya melalui pembagian kerja berdasarkan seksualitas dan kekerabatan/keluarga. Dengan basis pembagian kerja hubungan kekerabatan menjadi hubungan produksi. Produksi terutama berkaitan dengan benda, produksi seperti itu lebih bersandar pada pembedaan kultural perempuan dan laki-laki. Dari paleolitikum tengah menuju paleolitikum atas, spesialisasi peran, kekerabatan membentuk ketidakadilan dan perbedaan kuasa. Perempuan tidak dapat bepergian oleh privatisasi pengasuhan anak dan pemisahan ini terjadi. Sementara paleolitikum atas menuju revolusi neolitikum, polarisasi baru aktivitas menjadi berdasarkan gender. Apa yang lebih general dalam pengasuhan anak secara komunal dalam kelompok pemburu-meramu, menjadikan ruang yang tampak posesif dan esklusif dalam masyarakat agrikultur.

Masyarakat berburu meramu sangat kontras dengan privatisasi, mengingat pembagian tanggung jawab untuk merawat keturunan, kehidupan kawanan yang terisolasi dan bukan sebuah institusi yang langgeng, lebih dari eksklusifitas perempuan yang melahirkan dari orientasi heteroseksual. Datum yang menjabarkan pra-sejarah sekaligus sumber material yang setara untuk perempuan dan laki-laki dalam ruang respektif dari aktifitas kawanan. Secara keseluruhan, laki-laki dan perempuan dalam masyarakat bebas dan damai dari tipe masyarakat kawanan tanpa status  simbolik dan kultural kekerabatan. Laki-laki maupun perempuan bebas mengeksplorasi aktivitas kelompok tanpa mengontrol tubuh perempuan, tidak memuja keperawanan, tidak meminta eklusifitas seksual oleh perempuan, dan aktifitas kerja setara satu sama lain. Dalam konteks masyarakat egalitarian pada umumnya dari pemburu dan meramu, antropologis Eleanor Leacock telah mendeskripsikan umumnya kesetaraan hubungan antara laki-laki dan perempuan.[3]

Baca juga:  Cegah dan Lawan Kekerasan Terhadap Perempuan

Agrikultur adalah penaklukan sepenuhnya atas kemenangan pembangunan formasi gender. Tanah diibaratkan sebagai sesuatu yang feminim dan mengkehendaki pengasuhan anak secara terpisah dan mereka para laki-laki tetap dalam aktifitas maskulinitasnya, domestifikasi binatang wujud dari kesuburan emosional sebagai inisiatif laki-laki. Realitas ekspansi terjadi atas penaklukan terhadap alam dan perempuan sebagai katalis atas evolusi peradaban seiring berkembangnya teknologi.

Kesadaran akan patriarki tidak sepenuhnya akan menghindarkan atas kenyataan-kenyataan yang telah melepas diri dari tubuh perempuan, sebagai sebuah kenyataan semu dalam sejarah penaklukan. Tidak dapat menghindari matrix dari teknologi yang ada dimana-mana, patriarki juga ada dimana-mana, dan tidak tepat dengan sekadar menyaksikannya sebagai sebuah prasangka. Ketidakpatuhan terhahap jaring tak terhindarkan ini, harus diekspresikan. Krisis modernitas berasal dari pembebanan gender. Pemisahan dan ketidakadilan bermula pada periode kebudayaan simbolik menemui kemenangannya, menjadi defenitif sebagai peradaban dan domestifikasi: Patriarki. Hirarki gender tidak lagi dapat dilucuti dengan sekadar mereformasi bentuknya melalui sistem kelas maupun globalisasi. Faktanya kami memasuki dunia ini sebagai mahluk yang biseksual.[4]

Tidak hanya itu kontrol populasi dapat menghalau domestifikasi, keseluruhan hidup yang telah tercuri adalah tetanda sirine kematian ada dimana-mana. Penghancuran teknologi, intitusi keluarga, moralitas, hirarki, dan kapitalisme adalah tips yang masuk akal atas pembebasan total hidup kita. Keseluruhan asal-muasal ketidakgenderan sepertinya resep yang memungkinkan atas kehidupan baru tanpa kehidupan memuakan dan menyebalkan. Selamat tinggal kebisuan.***

 


Penulis: Siti Rahma
Editor: Ahmad Mukhlis H


Kepustakaan:

[1] Rushton, Peter, 1979, “Marxism, domestic labour and the capitalist economy: a note on recent discussion”, dalam C.C Haris (ed.), the sociology of family: New Directions for Britain, (Keele: So-ciological Review Monographs).

Baca juga:  Pers dan Praktik Politik Kekuasaan

[2] Collier. J. dan S. Yanagisoka, 1987, Gender and Kinship: Essay Toward a Unified Analysis, (Standford: Standford University Press).

[3] Eleanor Burke. Leacock, 1978, Women’s status in Egalitarian society, curent Anlhropology 19.

[4] Z. John, 2008, Twilight of the machines, Feral House, Port Townsend dalam terjemahan Rimau Hitam: Senjakala Mesin (Beruang madu: Yogyakarta).

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.