Negara Kita Adalah Negara Bangsa

Ilustrasi: kolwinm.com
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

PENETRASI PASAR semakin jauh dan makin merongrong kekuatan politik, sehingga lini vital seperti produksi dan distribusi mampu digarap sesuai pesanan pemodal. Tak heran jika negara menjadi sebuah ironi akhir-akhir ini, khususnya di Indonesia tempat kita melangsungkan hidup. Tanah air yang katanya surga, dimana sumber daya alam dan ruang penghidupan dieksplorasi untuk kepentingan bersama sesuai dengan amanat bapak bangsa yang telah mendahului kita (alfatiha untuk para pejuang kemerdekaan). Tetapi kiranya hal itu ikut terkubur bersama mendiang mereka, dikubur di bawah tanah yang makin hari makin tak menjunjung tinggi nilai-nilai langit.

Saat media-media arus utama berbohong soal eksplorasi ruang demi kepentingan segelintir orang, ternyata di balik kamera ada eksploitasi dan penggusuran kemanusiaan atas nama kepentingan umum. Perampasan ruang hidup makin hari makin menyisahkan gelak tangis. Konflik kelas semakin tak bekesudahan, mayat-mayat manusia yang bebas tak di pulangkan ke pangkuan keluarga setelah dibunuh oleh orang tak dikenal demi menutupi tindakan dzalim penguasa. HAM (Hak Asasi Manusia) hanya menjadi cerita kelam yang lama tak lagi terdengar. Serta kisah ratusan bahkan ribuan petani yang kehilangan ladang dan sawahnya, juga cerita dunia pendidikan yang kian hari kian jauh dari kata beradab. Hingga beberapa kedzaliman yang dibungkus rapi di balik euforia masyarakat yang sedang menikmati megahnya pembangunan infrasturktur negeri ini.

Tak pelik lagi keadilan, kesejahteraan, bahkan kemanusiaan sudah menjadi bualan penguasa saat berpidato di atas mimbar istana seraya merayakan kekuasan yang masih mereka menangkan. Disorientasi pembangunan baik itu suprastruktur maupun infrastruktur yang menjadi sarana untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan bersama menjadi salah satu penyabab semakin jauhnya masyarakat dengan tujuan hadirnya negara bangsa ini.

Baca juga:  Al Quds, Jalan Lain Menuju Pembebasan Palestina

 

Arti Penting Hadirnya Negara

NKRI adalah sebuah akronim dari Negara Kesatuan Republik indonesia, sebuah gagasan negara bangsa atau nation state yang orientasi penggerak dan interaksinya adalah kesejahteraan bersama (welfare state). Negara yang dibentuk atas dasar persatuan dan kesatuan bangsa. Jadi tak heran jika dalam dasar negara ini kata keadilan hingga 2 kali disebutkan dalam sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab dan sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mungkin hal itu sebagai penjelas bahwa orientasi hadirnya negara ini adalah suatu bentuk upaya untuk mencapai kesejahteraan bersama. Mengutip salah satu ungkapan Ir. Soekarno, “protes kita yang maha hebat kepada dasar individualisme”. Jika menilik sedikit ungkapan beliau kita dapat melihat, bahwa memang pada dasarnya gagasan negara kita ini adalah sebuah gagasan yang egaliter, konsentrasi kesejahteraan bukan dinikmati oleh segilintir golongan saja (pemodal) melainkan kesejahteraan yang dinikmati oleh semua bangsa serta tak pandang bulu, baik dari strata sosial, suku, ras, bahkan agama.

Mengingat sejarah kelam kolonialisme yang mengakar di tanah air ini, maka wajar saja sebagai seorang yang merasakan hal itu pada masanya beliau sangat mengutuk hal tersebut. Di lain sisi hal tersebut (kolonialisme) merugikan banyak orang dan bertentangan dengan kemanusiaan.

Pancasila sebagai dasar negara mengawali pancang bangunan tua ini dengan asas Ketuhanan Yang Maha Esa dan diakhiri dengan tujuan pokok kehidupan kenegaraan, mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Negara merupakan media atau sarana untuk menegakkan keadilan dan menciptakan kesejahteraan masyarakatnya. Kendati sebagai sarana, tidak dapat dipungkiri bahwa negara merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar.

Bisa dibayangkan jika tidak ada negara. Mungkin ada yang berkata, negara tidak diperlukan selama manusia dapat berprilaku baik, memiliki akhlak yang mulia, walaupun manusia yang bercorak demikian cukup langkah di era saat ini yang memiliki sejarah panjang perbudakan dan kerakusan.

Baca juga:  Ketimpangan-ketimpangan Dalam Pembangunan Ekonomi Di Indonesia

Namun persoalaannya bukan sekedar hadirnya manusia baik, tapi mungkinkah manusia dapat memenuhi kebutuhannya seorang diri sehingga tak membutuhkan orang lain? Dengan segala keterbatasannya manusia mustahil mampu memenuhi kebutuhan hidupnya seorang diri. Ia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Pada saat berhubungan dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, benturan sangat mungkin terjadi. Maka manusia membutuhkan seorang pemimpin untuk memastikan terpenuhinya hak-hak setiap orang.

Agar berjalan dengan baik, memastikan tegaknya keadilan dan hukum di tengah tengah masyarakat, negara harus dibangun sesuai dengan keinginan masyarakatnya. Pemimpin, dalam hal ini pemerintah adalah susunan masyarakat yang terkuat dan paling berpengaruh harus dipilih secara demokratis, dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Seorang pemimpin adalah orang yang seharusnya mampu berdiri di atas semua golongan mengingat asas dari pemerintahan adalah keadilan dan kebenaran diatas segalanya. Sudah semestinya negara menjauhkan masyarakatnya dari segala bentuk kedzaliman, menjaga hak-hak setiap individu, mewujudkan kemaslahatan umum, serta menegakkan keadilan sebagaimana makna sesungguhnya.

Masyarakat harus taat kepada pemerintah, ketaatan masyarakat kepada pemerintah adalah bentuk ketaatan kepada diri sendiri karena negara adalah bentuk masyarakat terpenting dan pemerintah adalah susunan masyarakat yang terkuat dan berpengaruh. Pelaksanaan pemerintahan tidak boleh mengganggu kebebasan dan harkat kemanusiaan masyarakat. Pemerintah harus menjalankan kebijaksanaan atas persetujuan rakyat melalui musyawarah, dan pelaksanaannya adalah bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya yang mempercayakan hal substantif negara dalam upayanya menuai kesejahteraan bersama.

Konsep negara bangsa (nation state) adalah hadiah kemenangan bangsa kita atas kolonialisme, tapi kolonialisme tak begitu saja melepaskan indonesia dalam cekramannya. Restorasi kelas elite sudah sampai pada puncaknya. Lenin menamakannya dengan sebutan imperialisme. Dan semuanya kembali ditata pasca kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.

Baca juga:  Adelina, Bukti Lengahnya Pers dan Pemerintah soal TKI

Globalisasi sebagai level ketiga eksploitasi atas segala hamparan materil di ruang alam semesta ini telah memeta-metakan lahan garapannya demi kemudahan akses dan memperpanjang nafas akumulasi kapitalnya dengan backup negara. Semuanya begitu mudah di lakukan. Hal itu semakin menjauhkan kita dari negara yang diinginkan bersama menjadi sebuah wajah penindasan baru yang lebih sistemik lagi.

Pemerintah yang masih saja terus menjaga status quo lingkaran setan modal, dengan segala kekuatan yang dimilikinya terus memasifkan segala kepentingan nafas akumulasi kapital itu, memberikan kita sebuah gambaran tentang wajah baru monster perampas kesejahteraan yang bernama negara.

Tak mudah untuk keluar dari lingkaran setan kekuasaan kapital. Bukan berarti itu adalah halangan yang serius, masyarakat masih bisa mengambil alih kekuasaan dan membangun negara sesuai keinginan bersama, dengan terus mengakomodir kepentingan-kepentingan bersama secara terorganisir lewat pembentukan organisasi dan penguatan atas isu dan orientasi hadirnya negara untuk menuai kesejahteraan bersama dalam basis perjuangan rakyat atas hak mendasar sebagai warga negara untuk akses ruang publik yang merata.***

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.