Pendidikan Alternatif untuk Anak-Anak Pantai Barat Donggala

Suasana pendidikan alternatif untuk anak-anak yang digelar bersama oleh relawan posko JRK Pantai Barat-Donggala dan warga lokal di Desa Vunta, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, pada Senin (15/10/2018). (jendelapost/emmang)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

JENDELAPOST.COM – Program pendidikan alternatif dilaksanakan oleh relawan posko Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK) Pantai Barat-Donggala bersama warga lokal untuk anak-anak di salah satu lokasi pengungsian di desa Vunta, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala pada Senin sore (15/10/2018).

Puluhan anak-anak berkumpul dan duduk bersama di atas terpal yang digelar di atas tanah lapang. Di sekeliling anak-anak para orang tua turut berkumpul dan menonton bersama.

Program ini direalisasikan sebagai dukungan psikososial dan trauma healing untuk anak-anak terdampak bencana yang menimpa mereka pada 28 September lalu. Pendidikan alternatif ini diharapkan dapat memulihkan kepercayaan diri dan semangat anak-anak.

“Sederhananya bermain dengan anak. Mereka sejauh ini kan tidak ada aktivitas, tidak ada kegiatan, kita coba memulai itu lagi, supaya bisa senang hidup di kampungnya sendiri dan bisa berinteraksi dengan teman-temannya,” ungkap Abdul Muiz  selaku penanggung jawab pendidikan alternatif tersebut.

Pendidikan alternatif yang digelar secara terbuka ini diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain; kuis dan tebak–tebakan,  seni musik, dan tanya jawab yang mengandung humor. Pendidikan alternatif ini juga didukung seniman-seniman lokal yang bergiat di sanggar Talusi.

Menurut Abdul Muis yang juga aktif di Sanggar Ciliwung Merdeka, metode dan pendekatan seperti ini cukup efektif untuk trauma healing terhadap anak–anak terdampak bencana. Menurutnya, pengalaman menggunakan pendekatan seni yang diterapkannya pada anak-anak korban penggusuran di bantaran kali Ciliwung cukup efektif untuk meredakan trauma.

Hal ini juga mendapat sambutan para orang tua anak-anak. Darlina salah satunya, ia mengharapkan kegiatan ini bisa cepat menghilangkan trauma anak-anak, karena sampai sejauh ini mereka masih takut untuk kembali ke rumah.

“Bagus, sangat bagus, apalagi mengobati trauma anak, juga bisa bikin meriah anak-anak di sini. Dengan adanya kegiatan ini anak-anak tidak terlalu mengingat lagi kejadian-kejadian kemarin,” tambah Ibu Darlina sembari menggendong bayinya.

Baca juga:  Kecam Kekerasan terhadap Juru Parkir, Aliansi Solidaritas Juru Parkir Berunjuk Rasa

Sementara itu menurut Budi selaku relawan lokal menganggap ini bisa mengisi kekosongan aktivitas pendidikan yang hingga saat ini belum berjalan.

“Sejak kejadian ini, gempa, semua aktivitas pendidikan itu kan jadi mati atau terputus. Mungkin dengan cara begitu bisa menghilangkan kejenuhan, kebosanan dalam tenda, bisa kumpul sama-sama, bertukar pikiran supaya mereka tidak terlalu terfokus lagi dengan kejadian gempa kemarin,” terang Budi.

Untuk ke depannya, Abdul Muis merencanakan akan terlibat bersama tim medis di puskesmas desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Program pendidikan alternatif ini diharapkan bisa dielaborasi dengan program medis maupun program-program lainnya.(*)

 

Reporter: Suherman Jf
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.