Penyintas Ombo Masih Bertahan di Garis Pengungsian

Suasana lokasi pengungsian para penyintas di Desa Ombo, Kecamatan Sindue Tobata, Kabupaten Donggala, Rabu (17/10/2018).(jendelapost/emmang)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

MESTI BERJALAN menyusuri sungai-sungai kecil sebelum akhirnya sampai ke lokasi pengungsian para penyintas di Desa Ombo, Kecamatan Sindue Tobata, KabupatenDonggala, Rabu (17/10/2018). Lokasi pengungsian hanya bisa diakses dengan berjalan kaki atau bersepeda motor. Jalur-jalur yang ada sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk ditempuh dengan kendaraan roda empat.

Jarak lokasi para penyintas dari jalan poros Trans Sulawesi di Pantai Barat Donggala kurang lebih 2 kilometer. Para penyintas harus bolak-balik dengan berjalan kaki atau bersepeda motor jika memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Hari ini mereka bahkan sudah menunggu kami di tepi jalan trans Sulawesi sebelum menuju kelokasi pengungsian.

Pak Kalmi Lahamuddin (58) selaku imam desa yang juga seorang penyintas mengatakan bahwa mereka sudah mengungsi sejak 28 September lalu hingga saat ini. Karena panik mereka sebelumnya hanya membawa beberapa barang seperti pakaian.

Untuk hunian darurat, para penyintas menggunakan beberapa bahan seperti terpal, seng bekas yang masih tersisa dan daun kelapa, sementara alasnya hanya tikar bahkan beberapa tak beralas. Namun hunian darurat tersebut tidak mengatasi masalah saat hujan deras mengguyur. Mereka harus bebasahan, tidak tidur dan hanya duduk jongkok semalaman. Kondisi itu sangat buruk, sementara para penyintas terdiri atas kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia.

“Kemarin juga itu hujan deras, kita tidak bisa tidur, jadi kita duduk-duduk saja untuk hindari air yang masuk,” ujar Pak Kalmi sambil menunjuk tendanya yang sebelumnya dibeli untuk menjemur cengkeh atau kopra.

Saat berbincang dengan pak Kalmi, ia menunjukkan beberapa atap yang berbahan dasar daun sagu. “Ini bisa tahan sampai tiga bulan,” katanya sambil menunjuk daun sagu yang sudah dirakit.

Baca juga:  1.948 Orang Meninggal Akibat Gempa di Sulawesi Tengah

Sampai saat ini para penyintas juga masih hidup dalam gelap di pengungsian. Salah satu kebutuhan yang mendesak bagi mereka saat ini selain terpal untuk hunian darurat itu adalah penerangan.

Bertahan Karena Khawatir

Para penyintas bertahan di pengungsian sembari menunggu pemberitahuan dari BMKG. Mereka membutuhkan kepastian dan rasa aman sebelum kembali. Pak Kamli sampai harus mengunduh aplikasi BMKG untuk mendapatkan informasi sembari terus berusaha bisa mengaksesnya meski layanan sinyal agak susah. Dia juga harus berusaha mencari sumber energi untuk baterai ponselnya.

“Karena kita menunggu pemberitahuan dari BMKG kalau sudah tidak ada lagi gempa susulan, makanya kita masih khawatir. Kalau sudah ada kepastian dari BMKG, sudah tidak ada lagi gempa susulan maka kami beranikan diri untuk turun,”ungkap Pak Kalmi.

Kekhawatiran mengenai adanya gempa susulan menjadi gejala trauma tersendiri sebab wilayah mereka berada di kisaran pusat gempa. Apalagi ini bukan pertama kalinya mereka merasakan gempa bumi. “Jadi dulu sempat terjadi gempa juga, waktu tahun 1996, 2004, dan2009,” ungkap pak Kalmi.

Dilansir dari Bbc.com (28/9),Bambang Setyo Prayitno dari BMKG mengatakan bahwa pergerakan sesar Palu Koro telah menyebabkan gempa beberapa kali, antara lain meliputi gempa di SulawesiTengah pada 14 Agustus 1968 dengan kekuatan 6 skala Richter, gempa di Sulawesi Tengah dengan kekuatan 7,8 pada 1 Januari tahun 1996, dan pada 14 Mei 1921 dengan kekuatan 6,3 skala Richter. Jadi bukan tanpa alasan warga Pantai Barat Donggala mengkhawatirkan banyak hal.

Menjadi penyintas bagi mereka juga bukan pertama kalinya. Pada tahun 2004 dan 2009 mereka juga sudahmengungsi dan meninggalkan pemukiman. Rismun (38), salah satu penyintas yang harus kehilangan beberapa hal berharga seperti ijasah ketika gempa 2009 mengatakan bahwa gempa saat ini guncangannya jauh lebih kuat dan lebih berefek secara fisik dan psikis.

Baca juga:  Kebutuhan Mendesak, Terpal Didistribusikan ke Korban Gempa di Desa Amal Donggala

“Dulu kita mengungsi juga, waktu 2004 sama 2009, tapi yang ini lebih besar guncangannya,” tutur Rismun. “Kita pikir waktu itu bakal tsunami juga di sini,” lanjutnya.

Pak Kalmi juga berpikir bahwa pemukiman yang ia tinggali akan dihempas tsunami. Karenanya ia dan keluarga serta warga lainnya langsung berlarian mengungsi ke dataran yang lebih tinggi. Rupanya tsunami menghempas Pantai Talise, Kota Palu dan Ibu Kota Kabupaten Donggala.

Salah satu alasan yang mengharuskan mereka bertahan di pengungsian adalah tempat tinggal mereka yang persis berada di tepian pantai.

Dapur Umum dan Solidaritas Penyintas

Mendirikan dapur umum saat ini menjadi solusi bagi para penyintas di Ombo. Sebanyak 12 KK yang berjumlah 85 jiwa bersepakat untuk mengelola 1 dapur umum secara kolektif. Hal ini berkaitan dengan jumlah persediaan yang diterima dari beberapa bantuan logistik dan hasil bumi yang mereka olah sendiri sangat terbatas.

Menurut penuturan pak Kamli, untuk mengatasi bantuan logistik yang tidak selalu ada, para penyintas memanfaatkan hasil bumi yang mereka kelola, seperti kelapa dan pisang.”Jadi di sini terkadang kita makan pisang yang  direbus,” ungkapnya.

Sementara ibu Nanang (33) yang disepakati mengkoordinir dapur umum terlihat bersemangat ketika beberapa perkakas dapur umum dan barang logistik diterimanya dari relawan posko JRK Pantai Barat-Donggala. Ia terlihat tetap tenang meski bergairah untuk mengusahakan terwujudnya kerja sama dan solidaritas dalam pengelolaan dapur umum.

Menurut Ardi selaku relawan lokal, para penyintas di Ombo lebih santai dan terkordinir saat bantuan berdatangan. Menurutnya potensi solidaritas sosial di dapur umum sangat mungkin tercapai di sini meskipun kondisi pengungsiannya kita lihat jauh lebih berat.

“Mereka itu di sini tidaktergesa-gesa, santai kalau ada bantuan, tidak berebutan, tidak kayak zombie,” ujar Ardi sambil menyusuri jalan setapak kecil ketika perjalanan pulang.

Baca juga:  Gempa Bumi Disertai Tsunami di Palu dan Donggala

Apa yang diungkapkan Ardi memang terbukti, bahwa mereka begitu tenang meski gejala traumatik pasti adadan belum hilang. Mereka bahkan sangat terkordinir saat membagi tugas untuk mengangkut barang ke pengungsian.

Interaksi mereka sesama penyintas maupun kepada orang lain yang datang sangat hangat dan santun. Mereka berharap selama kondisi sosial-ekonomi belum stabil bantuan bisa tetap tersalurkan, terutama untuk hunian sementara seperti terpal, tikar dan selimut. Begitu pun logistik untuk dikelola bersama di dapur umum.[*]

 


Reporter: Suherman JF
Editor: Ahmad Mukhlis H


Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.