Problem Hunian: Warga Pantai Barat Butuh Bantuan Terpal

Salah satu rumah yang ambruk di desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, pada Senin (15/10/2018).(doc/angga)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

JENDELAPOST.COM – Saat ini warga belum seluruhnya meninggalkan pengungsian untuk kembali ke rumah masing-masing. Sebagian warga desa Toaya, Kecamatan Sindue, misalnya, mereka masih mengungsi di desa Sumari atau di dataran yang agak tinggi, Senin (15/10/2018).

Hal ini disebabkan karena beberapa faktor, seperti faktor psikologis dan faktor hunian yang sudah tidak layak karena rusak parah akibat gempa.

Sejak awal Oktober lalu warga telah mengeluhkan problem hunian baik yang masih di lokasi pengungsian maupun yang sudah pulang namun masih mengungsi di hunian darurat yang mereka buat di halaman rumahnya.

Sebelumnya mereka hanya menyiapkan terpal yang masih tersisa di rumah atau daun kelapa sebagai alternatif lain. Namun saat hujan mengguyur, air akan merembes dan membasahi penghuninya. Hal tersebut menjadi masalah saat ini, sebab dalam satu tenda bisa lebih dari jumlah KK dengan jumlah sanak saudara yang berjumlah banyak. Belum lagi masih terdapat banyak warga yang belum memiliki terpal untuk mendirikan tenda darurat sementara rumahnya rusak parah.

Salah seorang warga desa Toaya, Azwar (42), mengatakan harus tinggal di tenda berbahan terpal berukuran standar yang ia dirikan di halaman rumahnya untuk ditinggali keluarganya. Satu tenda ia dirikan untuk dihuni 3 KK dengan jumlah 11 orang.

“Jadi kita di sini dalam satu tenda ada 3 KK, semuanya 11 orang”, kata Azwar yang merupakan salah satu kepala keluarga di desa Toaya.

Penyerahan bantuan oleh relawan posko JRK Pantai Barat-Donggala berupa terpal ke warga terdampak bencana untuk hunian sementara, di desa Toaya, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, pada Senin (15/10/2018).(doc/angga)

Saat ini hampir semua warga membutuhkan terpal untuk hunian sementara. Hal tersebut menyebabkan permintaan bantuan terpal untuk tenda meningkat. Namun persediaan bantuan belum bisa mengimbangi keseluruhan kebutuhan tersebut.

Baca juga:  Relawan Prioritaskan Bantuan untuk Daerah yang Belum Tersentuh di Palu

Untuk mengatasi masalah tersebut maka penggunaan skala prioritas menjadi sangat penting. Skala prioritas dianggap perlu sekaligus tetap dalam prinsip adil dan merata.

Di Posko Induk JRK Pantai Barat-Donggala di Desa Toaya yang awalnya menangani 148 dapur umum sejak 4 Oktober ini memutuskan memprioritaskan warga yang tidak lagi memiliki hunian layak, terutama mereka yang rumahnya ambruk karena gempa. Keluarga yang didominasi kelompok rentan seperti perempuan, lansia dan anak-anak atau bayi juga menjadi prioritas utama.

Al salah satu relawan kemanusiaan di posko JRK Pantai Barat Donggala dalam rapat koordinasi harian bersama relawan lokal menjelaskan bahwa menentukan indikator prioritas saat ini sangat penting. Selain ambruk total, prioritas utama adalah keluarga yang memiliki bayi, lansia, dan korban reruntuhan dengan luka fisik yang parah.

Ade selaku koordinator posko di Desa Toaya menambahkan bahwa hari ini akan kembali melakukan survei dan pendataan terkait prioritas-prioritas utama calon penerima manfaat tersebut.

“Kita akan mendata kembali, melakukan survei warga yang rumahnya benar-benar roboh. Terutama di posko-posko yang memiliki dapur umum”, ujar Ade dalam rapat posko induk pagi ini.

Untuk memastikan skala prioritas ini berjalan baik terutama di desa-desa selain desa Toaya, tim penyurvei diharapkan mampu menggali data yang akurat. Hal yang harus menjadi perhatian utama adalah akurasi dokumentasi penerima manfaat, yakni keluarga yang rumahnya betul-betul ambruk dan tidak layak huni. Kemudian akurasi identitas tiap-tiap keluarga juga diperlukan.

“Jadi saat ini kita fokus lagi ke desa Toaya, yang akan didata adalah rumah-rumah roboh yang ada pemiliknya, itu harus difoto bersama rumahnya dan juga harus dimintai keterangan”, ujar Ade.

Akurasi data ini sangat diperlukan agar penerima manfaat tepat sasaran karena jumlah donasi dan bantuan sangat terbatas.

Baca juga:  Dukungan Psikososial untuk Anak-Anak Desa Kumbasa

Hari ini 16 terpal untuk hunian sementara telah didistribusikan ke 16 KK penerima manfaat di desa Toaya. Relawan dan warga sampai saat ini masih membutuhkan bantuan terpal guna pendirian tenda daurat atau hunian sementara.(*)

 

Reporter: Suherman Jf
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.