Putar Film Dokumenter “HAM, Aku Nang Kene”, Bara-Baraya Kembali Himpun Dukungan

Suasana pemutaran Film dokumenter “HAM, Aku Nang Kene”, di Posko Bara-Baraya Menolak Tergusur, di Jalan Abu Bakar Lambogo, Bara-Baraya, kota Makassar, pada Jumat malam (11/04/19).(jendelapost/ical)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

JENDELAPOST.COM, MAKASSAR – Puluhan organ kembali menghimpun kekuatan dan terlibat dalam Aliansi Bara-Baraya Bersatu. Demikian, menjadi ruang “Kami menolak Tergusur” banyak disuarakan. Memicu untuk kembali menyemangati jaringan solidaritas, Aliansi Bara-Baraya Bersatu.

Pada Jumat malam (11/04/19) Aliansi Bara-Baraya Bersatu adakan pemutaran Film dokumenter garapan Jogja Darurat Agraria dan Omah Kreatif berjudul HAM, Aku Nang Kene”, di Posko Bara-Baraya Menolak Tergusur, di Jalan Abu Bakar Lambogo, Bara-Baraya, kota Makassar.

Sejak akhir Desember 2016 lalu puluhan rumah warga yang bertempat di Jalan Abu Bakar Lambogo, Kelurahan Bara-Baraya, Kota Makassar, terancam digusur dari tempatnya. Setelah puluhan tahun mendiami tanah seluas Tiga Hektare, wilayah tersebut dinyatakan masuk dalam kawasan okupasi kepemilikan TNI.

Hal terasebut membuat sejumlah masyarakat sipil, mahasiswa, dan akademisi ikut bersolidaritas untuk menolak proses pengklaiman tersebut. Dukungan pun terus mengalir, hal ini kemudian berbuah hasil, Warga Bara-Baraya dinyatakan menang dalam sengketa ini. (Baca:  Pengadilan Negeri Makassar Menangkan Warga Bara-baraya).

Kemenangan tersebut tampaknya belum sepenuhnya dapat benar-benar dirasakan oleh warga Bara-baraya. Pasalnya, beberapa waktu lalu, rasa aman yang dinikmati oleh warga kembali diusik. Persoalan serupa kembali terjadi. Warga Bara-Baraya kembali terancam diusir dari tanahnya. Dengan aktor yang sama, Kodam VII/Wirabuana. Penolakan dan tuntutan pun kembali disuarakan. (Baca: Aliansi Bara-baraya Menuntut Peradilan Bersih) Hari-hari warga pun kembali ditekan.

Film yang sejak 2018 lalu ikut mewarnai geliat perlawanan warga Kulon Progo, Yogyakarta, ini ikut membakar antusias warga Bara-Baraya. “Kegiatan ini, diselenggarakan oleh Aliansi untuk penguatan gerakan, dan diharapkan bisa memantik semangat warga untuk tetap bertahan” Ungkap Atuh, Salah seorang Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi.

Baca juga:  Soroti Bagaimana Tambang Merusak Alam dan Korbankan Masyarakat, Simposium Gelar Bedah Film Sexy Killers

Menurutnya, apa yang digambarkan dalam film ini kurang lebih serupa dengan apa yang dirasakan oleh warga Bara-Baraya saat ini. Praktik pembangunan yang berasas kepentingan umum, seringkali membuat peran pemerintah punya instrumen sendiri untuk merebut ruang hidup.

“Bagi Kami, pola penggusuran akan tetap terus dilakukan selama Pemerintah masih dalam kekangan segelintir elit. Siapapun Presidennya, nasib hidup rakyat malah kian terancam”, Tambahnya.

Selain pemutaran dan bincang film, kegiatan ini turut menghadirkan beberapa komunitas literasi untuk Lapak Baca. Sablon baju dan lapakan tembakau turut mewarnai ramainya kegiatan ini.

Selang beberapa menit penayangan, nampak antusiasme warga mulai naik. Pekikan dan teriakan ikut mewarnai setiap adegan-adegan yang kurang manusiawi aparat kepolisian, untuk menertibkan warga Kulon Progo.

Heri, salah seorang warga Bara-Baraya yang juga korban dari praktik penggusuran tersebut, menutup kegiatan ini dengan testimony: “Kita hidup di Tanah dan mati akan kembali ke tanah! Sudah sepatutnya, tanah harus mati-matian kita jaga”, pekiknya.[*]

 

Reporter: Abrisal
Editor: Ahmad Mukhlis H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.