Relawan Kemanusiaan Sulsel Adakan Diskusi dan Sharing untuk Relawan Muda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

JENDELAPOST.COM, MAKASSAR – Sehari sebelum pemberangkatan relawan dan barang bantuan menuju Sulawesi Tengah, Relawan Kemanusiaan Sulawesi Selatan mengadakan diskusi “Respon Bencana” untuk relawan-relawan muda yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai proses tanggap bencana.

Diskusi ini dipantik oleh Najemiah TJ, pegiat kebencanaan dari Sokola dan Terre de Homme, IBU Foundation. Diskusi ini diadakan di Posko Bersama, Sekretariat Solidaritas Perempuan Anging Mammiri (SP-AM) di jalan Jati no. 29, Kota Makassar, Senin (08/10/2018).

Najemiah menyampaikan berbagai hal mendasar bagi relawan muda dalam melakukan tanggap bencana. Seperti langkah-langkah yang harus dilakukan saat di lapangan, prinsip perlindungan dan standar-standar inti untuk penanggulangan bencana oleh relawan.

Najemiah berangkat dari Standar Sphere 2011 yang menjadi acuan bagi masyarakat International dalam melakukan penanggulangan bencana. Ada tiga prinsip perlindungan yang harus diketahui oleh relawan, yaitu Dignity, Imparsial, dan No Harm. “Dignitiy yaitu bermartabat, dalam artian sebagai relawan kita harus menjunjung tinggi kemanusiaan. Memanusiakan manusia, tidak dengan belas kasih,” jelas Najemiah.

Selain itu, seorang relawan harus adil dalam memberi pelayanan, pertolongan, pendistribusian bantuan dll. Hal itu dilakukan agar tidak ada ketimpangan dalam penanganan. “Imparsial dalam artian relawan harus adil, baik dalam memberi pelayanan, pertolongan, maupun mengenai distribusi bantuan. Serta tidak membeda-bedakan antara kaya dan miskin, tua dan muda keecuali kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan”, lanjutnya.

Seorang relawan juga tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan bagi korban bencana, juga tidak mengintimidasi atau melakukan persekusi (tindakan maupun lisan) kepada korban. “No Harm, atau tidak membahayakan, yang berarti tidak melakukan sesuatu yang membahayakan, juga menanyakan hal-hal yang sensitif kepada korban seperti halnya ketika bertanya kepada korban, khususnya anak-anak, mengenai kejadian yang masih traumatik bagi korban”, jelasnya.

Baca juga:  Peringati Hari Al-Quds Sedunia, Aliansi Milisi Pemuda Muslim Makassar Menuntut PBB Memberikan Sanksi Kepada Israel

Najemiah juga menjelaskan bahwa dalam tanggap bencana ada beberapa standar inti yang mesti dipahami relawan, yakni partisipatif, kerjasama/koordinasi, assesment/pengkajian, rencana/respon, kinerja/transparansi dan pembelajaran, serta kinerja pekerja kemanusiaan.

Rina selaku koordinator Posko Bersama Relawan Kemanusiaan Sulsel mengungkapkan bahwa diskusi ini diadakan agar relawan-relawan muda yang belum pernah turun ke lokasi bencana dapat mengetahui hal-hal mendasar dalam penanganan bencana.

“Diskusi ini sebenarnya untuk relawan-relawan muda agar mengetahui hal-hal mendasar dalam penanggulangan bencana, khususnya bagi relawan yang ingin berangkat besok. Apalagi rata-rata relawan yang berangkat adalah relawan-relawan yang belum pernah terjun sebelumnya”, tutup Rina.(*)

Reporter: M Alfian Arifuddin
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.