RESENSI BUKU: Drama Keluarga, Persahabatan, Cinta dan Pengkhianatan, dalam Tiga Peristiwa Bersejarah

Buku : Pulang
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Buku : Pulang
Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Jumlah Halaman : 460 Halaman
Kota Penerbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2012
ISBN : 978-979-91-0515-8


MASIHKAH kita ingat tentang peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S PKI) tahun 1965? Mungkin ketika bertanya tentang peristiwa ini, orang-orang dari berbagai kalangan di Indonesia secara serentak akan berpendapat peristiwa ini yang mendasari terjadinya perburuan dan pembunuhan massal para orang PKI. Pasalnya malam sebelum pembantaian massal itu, ada sekitar 6 Jenderal yang dibunuh.

Pembunuhan ini tentunya sesuatu yang telah direncanakan. Karena setelahnya, kobaran dendam terhadap PKI semakin menjadi-jadi. Alasannya, PKI yang menjadi dalang dibalik pembunuhan itu. Meskipun kesimpulan seperti ini masih menuai banyak kontroversi. Pembunuhan besar-besaran pun berlansung, jutaan nyawa dibabat habis, apalagi orang-orang yang telah dilabeli orang PKI, keluarga PKI, ataupun yang dikategorikan dekat dengan PKI. Lengsernya Soekarno dan digantikan oleh Soeharto menjadi hasil dari peristiwa berdarah ini.

Meskipun telah berlalu 52 tahun lamanya sejak kecamuk G30S terjadi, PKI bagi sejarah kelam Indonesia masih menjadi momok yang berkepanjangan. Apalagi diperkuat pada tahun 1981, Nugroho Notosusanto memproduksi film “Pengkhianatan Gerakan 30 September”. Sebagai produk sejarah, film ini pada dasarnya bertujuan untuk memperpanjang ingatan masyarakat tentang peran PKI.

Sampai saat ini, peristiwa G30S PKI masih membekas di ingatan masyarakat. Melihat situasi ini, novel berjudul “Pulang” karya Leila S. Chudori mengambil alur cerita dari peristiwa ini. Berkisah tentang petualangan 4 orang pemuda yaitu Dimas Suryo, Nugianto, Tjai, dan Risjaf. Kehidupan mereka diselimuti berbagai macam ancaman. Apalagi label Eks-Tapol (ET) dikartu identitas yang mereka miliki, membuat mereka mencari cara untuk bebas dari perburuan. Mereka lalu meninggalkan Indonesia untuk mencari tempat aman. Dipilihlah Paris sebagai tempat pelarian mereka.

Petualangan mereka dimulai pada tahun 1968, masa dimana Paris juga mengalami pergolakan kondisi kemahasiswaan. Sistem pendidikan yang berlaku di Universitas yang begitu mengekang, membuat para mahasiswa, dan sekelompok musisi melakukan aksi solidaritas. Dimana pada waktu itu, Dimas Suryo (tokoh utama) yang juga termasuk kelompok pemuda Indonesia yang bestatus buron Orde Baru, bertemu dengan Vivienne.

Vivienne merupakan mahasiswi Sorbonne. Dimas bertemu dengannya, kala ia sedang bersama-sama rekan mahasiswanya melakukan aksi pendudukan kampus Sorbonne. Sejak pertemuan pertama itu, cinta perlahan tumbuh sampai keduanya memutuskan untuk menikah.

Petualangan keempat pemuda ini, selalu dalam bayang-bayang ketakutan. Pergolakan perpolitikan yang belum juga usai di Indonesia, ataukah masalah PKI yang masih menguat di ingatan masyarakat sebagai dalang pembunuhan Jenderal, membuat kehidupan mereka tak tenang. Karena meskipun berada jauh dari negara asal, informasi-informasi terkini Indonesia masih saja mereka dapatkan. Aji (adik Dimas Suryo) adalah informan mereka di Indonesia. Surat-surat yang mereka dapatkan dari Aji selalu saja berisi tentang peringatan dan ancaman hukuman yang dijatuhkan kepada para ET ketika tertangkap.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Pejuang Perempuan Palestina itu Bernama Leila Khaled

Kondisi yang belum sepenuhnya aman, apalagi kehidupan sehari-hari yang masih berada dalam bayang-bayang korban politik Orde Baru. Surat-surat yang dikirimkan oleh Aji, Kenanga, dan kerabat lain yang dimiliki oleh keempat petualangan ini, menjelaskan tentang kekejian yang dihadapi oleh para keluarga mereka. Surat-surat itu berisi tentang penculikan, penganiayaan, perampasan hak asasi, ataukah penderitaan yang dirasakan oleh para keluarga PKI. Dimana informasi ini, hanya sedikit cerita tentang kebengisan orde baru dalam menaggapi PKI.

Meskipun bayang-bayang ketakutan menyelimuti mereka, tapi toh melanjutkan hidup adalah prioritas. Timbullah rencana mereka untuk memulai membuka usaha. Alasan untuk mendanai kehidupan mereka semasa hidup di tanah pelarian, menjadi pemicu keinginan itu. Ide mendirikan restoran rumah makan dengan menu Indonesia adalah kesimpulan yang mereka ambil. Tak tanggung-tanggung mereka memberi nama restoran itu “4 Pilar Tanah Air”. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi mereka, mengingat Dimas Suryo sewaktu masih di Indonesia senang dengan kegiatan memasak. Dipilihlah ia sebagai koki di restoran tersebut.

Apalagi restoran ini yang mengambil konsep masakan khas Indonesia, menjadi sangat populer lantaran konsepnya berbeda dari restoran serupa yang ada di Paris.

Meskipun kehidupan keempatnya tetap berjalan baik di Paris, tapi rentetan sanksi sosial yang diterima oleh keluarga mereka di tanah air masih membayang-bayangi. Karena keinginan untuk kembali ke tanah kelahiran, selalu saja terputus lantaran ancaman dibunuh kapan saja bisa terjadi. Sampai bagian dramatis pun terjadi, Dimas Suryo mendapat kabar Ibunya meninggal dunia. Keinginan untuk mengantarkan Ibunya ke peristirahatan terakhirnya, hanyalah menjadi mimpi baginya.

Apalagi mengingat situasi Indonesia masih belum juga aman bagi orang-orang yang pernah bersentuhan dengan PKI. Tapi itu bukan satu-satunya permasalahan kehidupan mereka di Paris. Sering saja ada beberapa intelejen luar negeri yang mengawasi gerak-gerik mereka di Paris. Lagi-lagi usaha ini merupakan langkah perburuan antek PKI berskala internasional.

Selama beberapa tahun merasakan ketakutan yang mendalam, apalagi bayang-bayang penangkapan terhadap mereka bisa saja terjadi. Baik di Paris, ataupun di wilayah lain. Pilihan untuk menetap bukanlah pilihan terbaik dari mereka. Tapi itulah satu-satunya pilihan yang tepat selama Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto masih saja langgeng. Menanggapi hal itu, dengan hidup yang harus tetap dijalani, mereka memutuskan untuk berkeluarga. Menikah, dan memiliki keluarga kecil menjadi hal yang membahagiakan bagi mereka, terlebih bagi Dimas Suryo yang menikah dengan wanita idamannya, Vivienne.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Panggilan Alam Liar

Seorang wanita Paris yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Situasi ini tidak menjadikan mereka memutus rantai hubungan dengan keluarga di Indonesia. Surat-surat masih saja lancar diterima oleh mereka berempat, terutama Dimas Suryo.

Kehidupan mereka masih saja berjalan sebagai mana yang direncanakan. Meskipun keinginan untuk pulang ke tanah air Indonesia masih diatas awan. Hingga pada akhirnya Lintang Utara (anak perkawinan Dimas dan Vivienne) di usia remajanya, dan saat itu telah berstatus mahasiswa tingkat akhir mendapat tugas akhir penyelesaian skripsinya. Ia tidak menduga akan ditugasi melakukan penelitian tentang peristiwa setelah G30S itu, dan mengharuskan ia untuk datang langsung ke Indonesia. Kondisi ini pun dijalaninya dengan bayang-bayang ketidak nyamanan.

Kehidupan yang ia jalani dalam keluarga membentuknya menjadi wanita berkepribadian yang kuat. Ia memiliki sikap pantang menyerah dan rasa ingin tahu yang besar. Maka diambillah tugas itu sebagai langkahnya untuk mengetahui cerita Indonesia dari dekat. Karena ketakjubannya dengan Indonesia hanya jadi imajinasi. Cerita-cerita tentang Indonesia sering ia dapatkan dari Ayahnya sewaktu masih belia.

Kepulangan Lintang ke negara asal Ayahnya tidaklah bebas dari kendala. Apalagi nama Suryo dibelakang namanya adalah masalah kecil yang harus dipertimbangkan. Ayahnya yang seorang jurnalis pada masa-masa transisi Soekarno ke Soeharto, dikenal bahkan telah dicap tapol (Tahanan Politik) PKI. Dengan pertimbangan yang berkepanjangan, dipermudah oleh rekan Lintang yang bekerja di bagian kepengurusan Paspor, Lintang pun berhasil mendapatkan paspornya. Tapi sebelumnya, syarat menghapuskan kata Suryo dibelakang namanya harus terlebih dahulu ia sepakati. Tanpa pikir panjang dengan segala keruwetan yang didapatinya, Lintang menyepakati anjuran kawannya itu.

Tibalah masanya Pada tahun 1998, Lintang untuk yang pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia. Di tahun ini adalah masa gencar-gencarnya terjadi penolakan, pergerakan, dan kehendak mahasiswa yang menuntut Soeharto untuk turun dari pangku kepresidenan. Kepulangan Lintang ke Indonesia disambut haru oleh kerabat, anak teman Ayahnya, dan juga keluarga Aji (Adik Ayahnya). Kasus mengenai tanggapan masyarakat terhadap orang PKI menjadi fokus penelitian yang Lintang lakukan.

Beberapa deretan keluarga korban, aktivis PKI, ataukah sastrawan adalah orang-orang yang dituju oleh Lintang untuk kepentingan detail data valid yang Ia inginkan. Kunjungannya ini secara tidak lansung dapat memberinya kesimpulan bahwa trauma yang dialami oleh para korban kebengisan militer yang memperlakukan keluarga PKI layaknya hewan, masih saja tertanam jelas di ingatan para korban.

Sampai suatu ketika, kekuasaan Seoharto goyah. Aksi solidaritas yang melibatkan jutaan massa memaksanya mundur. Dan tak berselang lama setelah pernyataan Soeharto untuk mundur betul-betul tersampaikan, Soeharto lengser dari jabatannya. Dimas dan ketiga kawannya bersorak-sorai melihat berita kemenangannya ini di TV. Keinginan untuk segera pulang ke tanah air betul-betul memuncak. Dimas pun pulang ke tanah air dalam kondisi yang sudah tidak lagi bernyawa. Ia meninggal lantaran sakit lever yang dideritanya. Anaknya Lintang menyambut haru kematian Ayahnya. Apalagi sebelum keberangkatannya ke Indonesia, Ayahnya berpesan tidak berkeinginan untuk dimakamkan di pekuburan Paris.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Sekolah Sesukamu, Cara Lain Memanusiakan dalam Pendidikan

Ayahnya memilih pekuburan karet (Jakarta) yang ada di Indonesia sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Karena bagi Ayahnya, Indonesia merupakan awal baginya untuk kehidupan dan disanalah Ia ingin untuk berakhir pula. Berita kematian dan upacara pemakaman Dimas Suryo menjadi akhir dari rangkaian cerita yang dimuat dalam novel ini.

Cerita dalam novel ini adalah sedikit gambaran lugas tentang kondisi Indonesia di masa pemerintahan Soeharto. Kediktatoran, dan anti PKI yang dianut oleh Soeharto berimbas pada masyarakat yang ikut memberikan sanksi sosial kepada orang-orang yang berhubungan dengan PKI. Diperparah lagi, pada tahun 1980-an dikeluarkannya aturan bersih diri dan bersih lingkungan. Aturan ini merupakan upaya pemerintahan orde baru untuk menghabisi PKI dari berbagai sisi. Hal ini berimbas pada masyarakat yang juga ikut andil dalam memusuhi PKI.

Novel ini pada dasarnya berupaya untuk merefleksi ingatan kita terhadap sejarah. Apalagi di masa lalu posisi orang-orang yang terlibat PKI ditolak dalam hubungan bermasyarakat. Efeknya, masyarakat melahap mentah-mentah tentang informasi pembunuhan itu. Diperparah lagi dengan PKI yang selalu dikaitkan dengan organisasi berpaham anti agama. Meskipun sampai hari ini, keterlibatan PKI terhadap pembunuhan 6 Jenderal masih jadi opini yang berkepanjangan.

Pandangan miris dan kebencian merupakan kecaman yang harus dihadapi oleh para keluarga korban. Mengapa mengkategorikan para PKI adalah korban, karena perihal kemanusiaan apapun alasannya, pembunuhan bukanlah pilihan. Apalagi sejarah tentang latar belakang pembantaian yang dilakukan orde baru terhadap PKI sampai hari ini belum memiliki bukti keterlibatan PKI terhadap kematian 6 Jenderal yang dibunuh pada waktu itu. Dan bisa saja PKI disini adalah korban dari pergolakan perpolitikan yang terjadi pada waktu itu.

Karena rangkaian sejarah menegaskan, Soekarno yang pro-PKI merupakan momok bagi kepentingan AS untuk masuk ke Indonesia. Apalagi mengingat secara tegas dalam pertemuan PBB yang dihadiri Soekarno pada waktu itu. Beliau secara tegas menyatakan tidak berpihak pada kedua Blok yang sedang bersiteru, antara Blok barat yang diwakili oleh AS versus Blok Timur yang diwakili oleh Uni-Soviet. Bisa jadi?[*]

Penulis: Abrisal
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.