RESENSI BUKU: Kisah Mat Dawuk dan Potret Buram Kehidupan Masyarakat Desa

Resensi-Dawuk
Buku: Dawuk
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Buku : Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu
Penulis : Mahfud Ikhwan
Penerbit : Marjin Kiri
Jumlah Halaman : vi + 182 halaman
Tahun Terbit : 2017

 

NARASI yang kuat dan menampilkan keseruan sejak awal hingga akhir cerita. Itulah yang bakal dirasakan pembaca dari novel karya Mahfud Ikhwan berjudul Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu. Novel ini mengisahkan seorang pendongeng yang kesehariannya nongkrong di warung kopi.

Pendongeng tersebut mendapat segelas kopi dan rokok dari orang yang ingin mendengar ceritanya. Tak jarang pula ia mengambil rokok dari orang yang sedang asyik bermain domino di warung kopi. Namanya Warto Kemplung. Ia dikenal sebagai pembual oleh masyarakat karena keseringannya melontarkan cerita. Orang-orang yang sudah lama mengenalnya akan mengabaikan cerita yang disampaikan.

Dalam buku ini, Warto Kemplung menceritakan sebuah kisah percintaan antara Inayatun dan Mat Dawuk. Kisah yang bagi banyak orang dianggap ganjil, karena sosok Inayatun digambarkan sebagai seorang wanita cantik yang genit, idola warga desa, dan anak seorang pemuka Agama, sedangkan Mat Dawuk adalah seorang yang buruk rupa, sejak lahir dikutuk oleh orang tuanya, dan sering menyendiri dikuburan sejak kecil, juga tidak menempuh pendidikan formal.

Mat Dawuk adalah orang desa yang memiliki tubuh kekar dan menakutkan. Ibu-ibu di kampungnya akan menggunakan keburukan Mat Dawuk untuk mengancam anak-anak mereka.

Kisah tersebut tentu akan terlihat ganjil apabila melihat kisah-kisah cinta kebanyakan. Tetapi kisah Mat Dawuk yang buruk rupa dan Inayatun yang cantik justru memperlihatkan kisah cinta yang sempurna dan saling membutuhkan satu sama lain.

Inayatun yang mengalami kisah cinta yang ganjil dengan beberapa mantan suaminya tak jarang menjadi korban kekerasan dan membutuhkan perlindungan, dan sosok Mat Dawuk hadir menjadi orang yang tepat untuk melindunginya.

Begitu pun dengan Mat Dawuk yang sedari kecil selalu menyendiri dan butuh orang yang mengasihinya. Mereka pun saling mencintai dan hidup bahagia dengan cibiran yang menyertai hidup mereka.

Mereka berdua adalah masyarakat dari Desa Rumbuk Randu, namun mereka baru saling kenal saat keduanya merantau ke Malaysia. Setelah beberapa waktu mereka pun memutuskan kembali dan hidup di kampung halamannya. Dari sinilah masalah muncul menimpa keduanya.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Membuka Sejarah Nusantara, Lewat Tetralogi Pulau Buru

Wajah Buram Kehidupan Desa Lewat Kisah Dawuk

Hal menarik yang juga disampaikan dalam novel ini adalah proses penggambaran mengenai kondisi sosial masyarakat desa di Indonesia yang hidup dibawah kemiskinan.

Ada banyak fenomena yang ditampilkan dalam kisah buku ini. Kisah yang menggambarkan problem yang dihadapi masyarakat desa Indonesia yang semakin tercerabut dari sumber-sumber ekonominya.

Sosok Mat Dawuk menjadi gambaran betapa sengsaranya kehidupan di pedesaan. Tinggal di desa yang hidup dalam kawasan hutan menjadi momok bagi masyarakat desa menghadapi perampasan ruang hidup.

Menjadi buruh migran menjadi salah satu cara untuk bisa lepas dari jerat kemiskinan. Seperti cerita dalam buku ini, masyarakat desa kampung halaman Mat Dawuk kebanyakan memutuskan meninggalkan kampungnya dan merantau ke luar negeri.

Selain itu, dalam buku ini juga memperlihatkan diferensiasi kelas di desa Rumbuk Randu. Hubungan antagonis antara pihak kehutanan—baik polisi hutan maupun mandor—dengan para blandong-blandong miskin yang bertahan hidup dengan memanfaatkan kayu di hutan dengan jelas menggambarkan problem yang dialami oleh masyarakat desa.

Terkhusus dalam cerita buku ini yang memperlihatkan konflik antara kelas yang memiliki kuasa dengan orang-orang desa yang hidup miskin dan hanya memanfaatkan kayu untuk bertahan hidup.

Konflik itulah yang kemudian berujung pada konflik tiga generasi yang bermula di masa kakek Mat Dawuk bernama Mat Dulawi dengan musuhnya Sinder Harjo yang menjadi mandor. Konflik keduanya berlangsung selama puluhan tahun sampai pada kehidupan Mat Dawuk.

Bermula saat Mat Dulawi membangun langgar yang dibuat dengan hasil membelandong kayu-kayu dalam hutan. Selang beberapa waktu Mat Dulawi melihat seorang pembelandong yang ingin menyumbangkan kayunya untuk langgar Mat Dulawi babak belur dan mengaku dihajar oleh tiga orang.

Salah satunya bernama Harjo, seorang Sinder yang memukul blandong tersebut dengan kayu jati ringan. Sinder Harjo kemudian menyuruh blandong tersebut untuk menyampaikan pesannya ke Mat Dulawi, “kalau ia mau bikin langgar dengan kayu jati, suruh dia menanam jati sendiri, jangan nyolong kayu punya pemerintah” (hal.128).

Baca juga:  RESENSI BUKU: Drama Keluarga, Persahabatan, Cinta dan Pengkhianatan, dalam Tiga Peristiwa Bersejarah

Mat Dulawi pun membalas dengan mendatangi Sinder Harjo dengan membawa sebuah kayu jati besar yang diangkatnya sendiri dan setidaknya kayu tersebut normalnya butuh empat orang untuk mengangkatnya.

Ia menantang Sinder Harjo mencoba mengangkat kayu tersebut seorang diri untuk membuatnya merasakan sulitnya menjadi seorang blandong dibandingkan menjadi sinder yang mendapatkan kekayaan dari hasil hutan, walau hanya bermodalkan telunjuk dan mulut untuk memerintah saja.

Sinder Harjo menolak, ia merasa tak cukup mampu mengangkat kayu jati yang luar biasa berat dan berkata “ah, pagi-pagi begini senangnya bercanda kamu, Dul”, dan disambung “Ya tentunya aku tak mungkin kuat, Dul” (hal. 129).

Mat Dulawi pun langsung melemparkan kayu yang dibawanya ke punggung Sinder Harjo dan membuatnya lumpuh seumur hidup karena tak mampu membawa beban kayu jati tersebut.

Aksi Mat Dulawi seakan mewakili isi Manifesto Komunis dan Kapital milik Marx atau setidaknya membaca karya-karya Marxis lainnya. Mat Dulawi membuktikan bahwa pekerja (pembelandong dalam konteks buku ini) adalah kelas yang selama ini dieksploitasi oleh kelas yang selama ini mendapatkan apapun tanpa mengerjakan apa-apa.

Sedangkan yang bekerja keras, dengan hidup yang sangat rentan, justru tidak mendapatkan apa-apa dari kerja kerasnya.

Potret Tragis Perempuan dalam Dunia Patriarki

Tentu setiap buku akan menghasilkan interpretasi bagi masing-masing pembacanya. Tak terkecuali dengan buku ini. Selain memperlihatkan potret kemiskinan yang dialami oleh masyarakat desa.

Buku ini juga memperlihatkan fenomena masyarakat di Rumbuk Randu yang diceritakan bahwa ada banyak anak yang lahir dengan ciri-ciri yang mirip dengan paman atau tetangganya dibandingkan ayahnya. Rumbuk Randu menjadi desa yang religius namun berbanding lurus dengan tindak asusilanya.

Namun bisa juga pendapat berbeda hadir dalam perspektif pembaca. Seperti halnya novel-novel pada umumnya, buku ini juga menghidupkan imajinasi liar pembacanya. Salah satunya mengenai kisah anak yang terlahir mirip dengan paman atau tetangganya seperti yang disinggung sebelumnya.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Rumah Sebagai Jimat Pemersatu

Di awal cerita, kejadian tersebut memang disinggung oleh Mahfud. Namun, di bagian pertengahan-akhir cerita ada kejadian yang juga menjadi penentu dalam alur perjalanan novel ini.

Inayatun dan Mat Dawuk yang hidup di sebuah kandang—alih-alih rumah yang layak—menikmati kehidupan yang bahagia sebagai sepasang suami-istri. Saat itu Mat Dawuk ingin ke hutan, kebetulan ia menjadi pesanggem (penggarap) di hutan.

Inayatun merasakan sesuatu yang ganjil dan mendorong keinginannya untuk ikut ke hutan bersama suaminya. Tetapi suaminya menolak lantaran Inayatun tengah hamil dan butuh istirahat. Berangkatlah Mat Dawuk ke hutan tanpa Inayatun menyertainya.

Di tengah perjalanan ia bertemu dengan Hariyanto, cucu Sinder Harjo, yang dikenal dengan Mandor Har dan Blandong Hasan, seorang yang keluarganya adalah orang pertama yang memiliki gergaji mesin di Rumbuk Randu. Mereka berbincang sejenak namun tidak memperlihatkan keramahan kepada Mat Dawuk.

Setelah pertemuan tersebut, keduanya langsung menghilang. Ternyata mereka menuju ke rumah Mat Dawuk. Mereka berdua mencoba melakukan pelecehan kepada seorang ibu yang sedang hamil dan kebetulan menjadi perempuan tercantik di Rumbuk Randu. Inayatun melawan.

Tragis, kisah kelabu di malam itu membuat nyawa Inayatun tak tertolong bersama sang pelaku Mandor Har yang juga terbunuh. Sementara Blandong Hasan dengan segera melarikan diri.

Lewat kisah tersebut bisa disimpulkan bahwa perempuan-perempuan yang diceritakan sebelumnya bisa saja adalah korban pemerkosaan di saat suami mereka bekerja ke hutan. Di tengah kemiskinan yang dialami masyarakat Rumbuk Randu, perempuan masih mengalami penderitaan yang lebih tragis.

Kisah Inayatun dapat menjadi penguat jika anak di Rumbuk Randu yang lahir berbeda dengan ciri-ciri ayahnya tidak semata karena akibat ibunya bermain serong dengan lelaki lain, tetapi karena kehidupan di bawah budaya patriarki yang selalu memandang perempuan sebagai objek laki-laki.

Bukankah Inayatun juga dituduh demikian saat setelah kejadian tersebut sehingga Mat Dawuk—yang paling terpukul akibat kehilangan anak dan istrinya—justru dituduh membunuh istrinya sendiri karena cemburu?

 

Penulis: M. Alfian Arifuddin
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.