RESENSI BUKU: Memoar Luka Seorang Muslimah

Buku : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Buku : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur
Penulis : Muhidin M. Dahlan
Penerbit : Scripta Penerbit
Jumlah Halaman : 269 Halaman
Kota Penerbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2005


BERKENALAN dengan tulisan Gus Muh (sapaan akrab penulis) merupakan hal baru bagi saya. Berawal dari buku pertama yang Ia tulis berjudul “Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta“ gambaran atas aktivitas keseharian dari si penulis selama berstatus mahasiswa di Yogyakarta, begitu lengkap dipaparkan dalam karyanya ini. Novel ini menawarkan ketajaman tulisan yang dirangkai dengan petikan bahasa sastra yang berhasil menarik saya ke dalam karyanya. Atas dasar alasan itu, ketertarikan saya atas karya Muhidin M. Dahlan menjadi serius.

Bertepatan dengan moment wisudah di kampus Peradaban ini (katanya), yang  beberapa waktu lalu terlaksana. Perkenalan saya dengan Novel yang berjudul “ Tuhan Izinkan Aku menjadi Pelacur” ini bermula. Waktu itu perbincangan saya dengan salah satu senior di kampus yang biasa disapa kak Iwan. Dan ini diawali dengan pembahasan pilihan novel yang untuk membacanya kita tidak merasa bosan. Novel “ Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta “ menjadi acuan bahan diskusiku dengannya. Di Bale-bale Antebas itu, Kemudian ku paparkan segala apa yang ku ketahui dari Gus Muh pada Kak Iwan. Kebetulannya, salah satu novel karya Gus Muh dimiliki olehnya. Dan setelah dialog dengannya berakhir, Ia mengisyaratkan bersedia untuk meminjamkan bukunya.

Ketika menghadiri ajakan acara makan paska wisudahan beberapa senior, Kak Iwan tanpa diduga membawa novel berjudul “Tuhan Izinkan Aku menjadi Pelacur” di lokasi acara. Dan saat itulah untuk kedua kalinya, saya diamanatkan membaca novel karya penulis yang mengidolakan Pramodya Ananta Toer itu.

“Buku dengan judul yang gila”, pikirku waktu itu. Untuk membuktikan kegilaan judul novel itu kemudian aku membacanya. Memperkarakan Tuhan, Tubuh, dan Tabu, penulis kemudian mengawali pengantar novelnya. Gambaran rinci dari cerita novel ini, ada pada bagian judul yang diisyaratkan sebagai sebuahsuratpenulis.

Nidah Kirani, nama yang indah untuk sebuah tokoh naratif. Seorang wanita yang cerdas dan rupawan. Sekurangnya tafsiran itu yang aku tangkap tentangnya. Nidah kirani memulai cerita. Setelah perkenalannya dengan sahabat sepondokkannya di Pondok Ki Ageng bernama Rahmi, Kiran (Nidah kirani) merasa perlu untuk lebih memperdalam ilmu keislamannya dengan sahabatnya itu. Apalagi Kiran menilai bahwa Rahmi adalah seorang muslimah taat atas ajaran Rasul, merupakan pribadi yang mengangumkan baginya. Lewat diskusi-diskusi mereka, Rahmi selalu berhati-hati dalam berucap. Rahmi selalu berucap aktif ketika membahas perihal islam apalagi tuntunan seperti apa yang dianjurkan Rasul. Kiran pun semakin bersemangat untuk mengikuti jejaknya.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Panggilan Alam Liar

Kelas pengajian di Masjid Tarbiyah menjadi awal bagi Kiran untuk mendalami Islam. Ia pun menyetujui ajakan Rahmi dan bergabung dalam rutinitas itu.“Kajiaannya selalu merujuk kepada Qur’an dan Sunnah. Kita bisa mengenal Islam lebih dekat. Di sana Kebanyakan mahasiswa Kampus Biru”, kalimat Rahmi ini menjadi penegas ketertarikan dari seorang Kiran.

Semasa Kiran bergabung dalam kelompok diskusi itu, kemajuan dalam hal ibadah sangat Ia rasakan. Mulai dari Shalat berjamaah sampai pada ketepatan waktu melaksanakan shalat, menjadi pokok keberhasilannya. Walaupun Kiran sadar belum mampu meyamai seorang Rahmi. Hingga suatu ketika kehilangan dirasakan Kiran. Waktu itu, sekembalinya Kiran ke Pondokannya, Ia mendapati lemari pakaian Rahmi kosong. Pertanyaan Kiran atas keberadaan Rahmi kemudian di alamatkan pada seorang wanita yang sedang berada di kamar itu juga. Jawabannya sama, Ia juga tak mengetahui pula keberadaan Rahmi. Kiranpun kemudian mendapat petunjuk lewat surat beramplop yang ditujukan padanya. “Saya tiba-tiba dipanggil kembali oleh Ibu ke Bandung, katanya dia tidak ada teman di sana dan saya disuruh pindah kerja di sana.“, berikut isi surat Rahmi kepada Kiran. Petikan surat ini menjadi jawaban pertanyaan Kiran tadi.

Setelah kepergian Rahmi, Kiran yang semula sangat merasa kehilangan atas kepergian sahabat seukhtinya, berencana mendirikan forum yang serupa dengan kelas pengajian masjid Tarbiyah di Kampus Barek. Kiran pun mengutarakan keinginannya itu kepada Dewan Mahasiswa. Walaupu masih berada dalam naungan Kampus Ungu, kehadiran Forum keislaman pada Kampus Barek tergolong hal yang baru. Atas dasar itu, Dewan Mahasiswa kemudian menyepakati keinginan dari Kiran.

Forum keislaman atas inisiatif Kiran pun terbentuk. Lewat forum ini, Kiran kembali dipertemukan dengan Dahiri. Kiran menilai, Dahiri adalah sosok pria cerdas. Alasannya karena begitu cakapnya si Pria ini ketika angkat bicara dalam forum, apalagi argumennya selalu berangkat pada berbagai referensi. Keakraban mereka pun berlanjut, Dahiri kemudian mengajak Kiran untuk sama-sama terlibat dalam kelompok separatis. Pendirian negara Islam berasas Ad-Dien, cita-cita ini yang kemudian mampu membuat Kiran tertarik untuk terlibat.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Baltazar dan Alpanya Kemanusiaan

Setelah melalui proses pembaiatan dan pengambilan sumpah, Kiran resmi menjadi anggota dalam kelompok separatis itu. Hari demi hari Kiran lalui. Foya-foya, pesta hura-hura, Ibadah tidak karuan, santai-santai, kajian ke-Islaman dan politik yang tidak jelas menjadi pemicu retaknya keyakinan Kiran pada kelompok itu. Untuk mencapai tujuannya, kerja-kerja revolusioner dalam kelompok ini Kiran tidak temui.

Untuk melanjutkan perjuangan dakwahnya, Kiran memilih untuk kembali ke kampungnya. Niatan menyadarkan dan menanamkan pemahaman hakikat ajaran Islam, berujung pada terancamnya kehidupan Kiran. Tindakan subversif polisi tak terelakkan. Kiran diusir dari kampungnya, Ia dituduh pemicu lahirnya gerakan pemberontakan bahkan paham kelompok itu lebih berbahaya daripada PKI. Hingga pada titik Ia diungsikan untuk menjamin keselamatannya.

Empat bulan berlalu, proses karantina Kiran telah usai. Kiran sangat kecewa melihat spirit kelompoknya untuk mendirikan negara Islam menyurut. Egoisme, pesimis, dakwah yang membosankan, meruba citra perjuangan Kelompok Separatis itu di mata Kiran. Kemudian Kiran  beserta tiga kawannya melarikan diri dan memilih dicap pengkhianat oleh kelompoknya.

Hidup Kiran berlanjut, Ia begitu kecewa. Mendakwah dirinya sendiri menjadi rutinitas. Ia merasa Tuhan menyia-nyiakannya. Mempermainkannya layaknya Pion catur. Kecewa, “aku sangat kecewa atas perlakuan-Nya padaku,”, ujar Kiran menegaskan. Ia pun bersumpah untuk tidak bersedia lagi bersujud pada-Nya. Dunia hitam yang gelap kemudian menjadi pilihannya. Sebagai penawar kekecewaan mendalamnya, Ia memilih rokok ataupun obat-obatan untuk dikonsumsi.

Lewat dunia hitam ini, Ia menyatakan pemberontakan kepada Tuhannya. Mulai pengalaman berciuman dan bercinta untuk pertama kalinya dengan seorang aktivis Kiri bernama Daarul Rachim, bercinta dengan Fuad Kumala kawan baiknya, cinta kosongnya dengan Wandi si aktivis dan penyair sufi bernama Ramadan. Perkenalannya dengan berbagai lelaki menjadi begitu masif. Hingga suatu waktu Rahmanidas Sira hadir dalam kehidupannya.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Menentang Keserakahan Manusia untuk Kelangsungan Alam

Rahmanidas Sira adalah lelaki yang kesekian kali yang dikenal Kiran. “Kamu bisa seperti Tuhan” lewat pernyataan ini, Kiran bersama Nidas melakukan ekspedisi pendakian bukit yang curam. Dan setelah ekspedisi itu dengan berbagai halang rintang, Nidas yang seorang Ustadz berhasil pula tergoda imannya karena lekuk tubuh dari si Kiran. Hingga pengenalannya dengan seorang dosen bernama Pratomo Adhiprasodjo yang menjadi mucikarinya. Sesuai dengan judulnya, Pernyataan Kiran yang ingin menjadi pelacur menjadi puncak cerita dari novel ini.

***

“Tuhan Izinkan Aku menjadi Pelacur” adalah novel berjudul nyentrik. Buku yang tak sedikit ditolak bahkan dikutuk lantaran alur ceritanya yang tidak senonoh. Meskipun begitu, novel ini bagi saya sangat sukses mengangkat realita hidup hari ini lewat lakon seorang Mantan Ukhti melacurkan dirinya, Kiran.

Lewat pemberontakan terhadap Tuhan, dengan memilih untuk menjadi seorang Pelacur. Kiran berhasil menyampaikan kritikannya terhadap Otoritas Agama. Ia memandang, lewat aturan otoritas Agama ini malah memberi batasan wanita untuk bertindak bebas. Kebebasan kaum wanita kemudian direnggut, lewat asas nikah yang mengikat agar wanita tunduk pada lelaki, dalih Cinta terselubungkan Nafsu, lalu para tokoh lelaki birahi yang kesemuanya berkepribadian elegan pada bidangnya, berhasil ditarik jati dirinya. Mulai dari Ustadz, Aktivis Kiri, Dosen, Anggota DPR ataupun Pelaku Politik menjadi konteks objeknya.

Kiran lewat keterlibatnnya pula dalam dunia pergerakan organisasi, berhasil mengungkap tujuan terselebung mobilisasi massa yang banyak bagi gerakan. Mulai dari organisasi yang dimanfaatkan sebagai ladang perpolitikan, ladang kepentingan birokrat, sampai mendapatkan tempat nyaman di instansi tertentu. Kesemua alur cerita ini saling berentetan satu sama lain dalam konteks realita hidup hari ini.

Memang benar, dalam hidup ini kita butuh aturan. Agama misalnya yang hadir di tengah ummat, itu untuk menjaga alur kehidupan manusia secara umum. Bukan lelaki atau wanita, tapi untuk semua. Agama hadir untuk mengatur kehidupan. Tuhan lewat Agama Samawi-Nya, senantiasa mengisyaratkan larangan ataupun perintah sebagai anjuran-Nya. Aturan Agama yang menyeluruh sudah sepatutnya harus dilandaskan pada asas kemanusiaan dan kebebasan individu didalamnya. Bukan mengikat kelompok yang satu, dan memberi hak bebas bagi kelompok yang lain. Agama yang sejatinya hadir untuk dijadikan pedoman, bukannya malah menjadikan kita pribadi yang arogan. Menerka-nerka lalu mengkafirkan orang yang berbeda pandangan keyakinan dengan agama kita.***

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.