RESENSI BUKU: Pejuang Perempuan Palestina itu Bernama Leila Khaled

Buku: Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Buku : Leila Khaled: Kisah Pejuang Perempuan Palestina
Penulis : Sarah Irving
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun Terbit : Januari 2016, Cetakan Pertama dalam Bahasa Indonesia
Dimensi : i – x + 198 hlm, 14 x 20,3 cm
ISBN : 978-979-1260-51-0


“Tak ada yang mau mendengar atau menyimak atau belajar soal penderitaan kami. Tak ada yang tahu mengenai mereka yang disiksa di penjara. Atau bahkan jika mereka tahu, mereka tak mau berbuat apa-apa.” -Leila Khaled (Hal. 53)

PERJUANGAN kemerdekaan Palestina adalah gerak sejarah yang terus bergulir hingga saat ini. Gerakan “muqawwamah” rakyat Palestina yang mengawal cita-cita itu menunjukkan konsistensi dalam upaya melepaskan jerat penindasan. Sayangnya, gerakan itu lebih sering disalahpahami sebagai perang agama secara parsial. Sama seringnya menganggap gerakan tersebut hanya didominasi aktivisme para pria Palestina.

Penting kiranya untuk melihat kiprah kedudukan perempuan Palestina yang berjuang dalam wilayah domestik, sekaligus dalam skala yang lebih luas: kemerdekaan negaranya dari penderitaan. Inilah yang coba disampaikan Sarah Irving kepada dunia dengan bukunya yang berjudul Leila Khaled: Icon of Palestinian Liberation yang terbit pertama kali melalui Pluto Press, London di tahun 2012 silam.

Bila mayoritas perempuan masa kini lebih sering kita saksikan berwaktu senggang di Mall dan menghabiskan banyak waktu di lokasi-lokasi wisata, maka hal tersebut cukup kontras dengan seorang perempuan asal Palestina yang lebih memilih jalur gerilya: Leila Khaled. Sebagai seorang pejuang, setiap waktunya adalah kesibukan atas desakan rakyat, memerdekakan Palestina dan membuat bangsanya diakui secara internasional.

Leila khaled lahir pada 9 April 1944 di kota pelabuhan Haifa, Palestina. Ia adalah anak kelima dari keluarga Ali Khaled. Kala berusia 14 tahun, ia bahkan bersikeras ingin terjun langsung pada medan konflik. Namun, di usianya yang masih belia itu ia tidak mendapatkan izin turut andil dalam pertempuran.

Leila dan anak-anak lain pada akhirnya diberi tugas lain, yang sebenarnya sama berbahayanya. Mereka diminta membawa makanan dan kebutuhan logistik lainnya. Makanan itu diletakkan diatas kepala mereka untuk kemudian dibawa kepada para pejuang di garis depan.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Menakar Gerakan Politik Lewat Fiksi Sejarah

Di masa kanak-kanak, Leila cukup ceria meski ketegangan di Haifa terus meningkat. Saat itu ia sempat berteman dengan gadis kecil Yahudi bernama Tamara. Leila mengakui bahwa ia adalah salah satu kenangannya yang paling awal yang sering diingatnya.

“…Gadis kecil bernama Tamara, yang masih sering ia sebut-sebut ketika sedang membicarakan hidup maupun perasaannya mengenai hubungan Yahudi dan Muslim..” (Hal. 17)

Dalam tulisannya di tahun 1973, “titik balik pertemananku dengan Tamara”, ia mengungkap keputusan PBB membagi wilayah Palestina dan Israel, dengan 56 persen tanah airnya diberikan pada Israel. Keputusan tersebutlah yang membuatnya terpisah dengan Tamara, dan para pemukim Yahudi di Hadar yang diakrabinya.

Saat Leila berulang tahun di usia 14-nya, 9 April 1948, lebih dari 100 penduduk Deir Yassin di sekitar Yerussalem dibantai kelompok milisi Irgun dan Geng Stern. Menurutnya, aksi-aksi mereka itu menjadi episode-episode paling memalukan dalam sejarah pendirian negara Israel. Tanggal tersebut kemudian menjadi hari berkabung nasional di Palestina. Sejak peritiwa itu, Leila tak pernah lagi merayakan ulang tahunnya.

Langkah Politik Leila Khaled

Pada tahun 1952, Goerge Habash, seorang marxist dan tokoh pembebasan Palestina, membentuk organisasi bernama Gerakan Nasionalis Arab (ANM) bersama Haddad, Hani Al Hindi, dan Ahmad Al Hatib. Organisasi ini bertujuan menyatukan kembali dunia Arab dengan melawan Kolonialisme.

Pada tahun 1958, Ketika Leila berusia  15 tahun, Leila sudah bergabung dengan gerakan ANM dan banyak dipengaruhi oleh tokoh-tokoh revolusioner seperti Che Guevara, Mao Zedong, dan Vladimir Lenin. Para tokoh tersebutlah yang mencontohkan suatu revolusi untuk negaranya masing-masing, Lenin adalah aktor revolusi Oktober di Rusia, Che Guevara untuk revolusi Kuba dan Mao Zedong pada revolusi kebudayaan China.

Pada 1962, Leila lulus sebagai sarjana muda dengan nilai gemilang. Atas pencapaian akademiknya tersebut, Leila berusaha mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya, namun ia tidak mendapatkannya. Pada akhirnya ia lanjut di American University of Beirut (AUB) atas bantuan finansial kakanya yang bekerja di Kuwait.

Pada tahun-tahun awalnya di universitas, ia lebih memilih putus kuliah setelah kakanya tak lagi mampu memberi suntikan finansial. Ia lantas lebih memilih bekerja sebagai pengajar bahasa Inggris di Kuwait dengan upah yang relatif tinggi ketimbang melanjutkan pendidikan di AUB yang menurutnya “reksioner”.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Demokrasi Warisan dari Jiwa Tanpa Nama dan Jejak

Setelah terjun ke dunia politik pada bulan Desember 1967, enam bulan setelah Israel merebut Yerusalem Timur, George Habash kembali mendirikan organisasi, yakni Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) atau Organisasi Front Rakyat Untuk Pembebasan Palestina. Organisasi ini berhaluan marxist dengan merujuk pada pengalaman Tiongkok dan Vietnam. Pada kala itu ANM bubar dengan sendirinya, lalu Leila menjadi bagian dan aktivis PFLP.

PFLP merupakan faksi terbesar kedua dalam Palestine Liberation Organization (PLO) atau Organisasi Pembebasan Palestina. Setelah Leila berkecimpung di PFLP, organisasi ini melakukan agenda besar yang kelak menjadi sangat fenomenal: pembajakan pesawat. Leila menjadi perempuan Palestina pertama yang masuk dalam rencana tersebut.

Aksi pertama dimulai dari pembajakan pesawat Boeing 707 milik Trans Word airlineas (TWA) 840 pada tanggal 29 Agustus 1969. Ia bersama Salim Issawi memaksa pesawat mengalihkan rute Roma menuju Athena untuk mendarat di Bandar Udara Internasional Damaskus, Suriah. Sebelum mendarat di Damaskus, ia meminta ke pilot untuk melintasi kota kelahiran yang tak bisa lagi dikunjunginya dengan status pengungsi Palestina, Haifa. Setelah tiba di bandara, penumpang dan awak kapal dibiarkan langsung turun tanpa satu pun terluka. Sebelum pada akhirnya kokpit pesawat itu diledakkan oleh Salim Issawi.

Tanggal 6 September 1970, pembajakan kembali dilakukannya. Kali ini bersama Patrick Arguello, seorang anggota Sandinista di Nikaragua-Amerika yang membebaskan Nikaragua dari cengkeraman diktator Somoza. Namun pesawat yang hendak menuju New York tersebut gagal dibajak setelah pilot berhasil membuat pesawat menukik dan menghilangkan keseimbangan para pembajak. Saat itu, Patrick Arguello ditembak mati dan Leila tertangkap.

Aksi ini, sebagaimana diterangkan oleh laila kepada salah satu wartawan, mempunyai dua tujuan pokok: pertama, aksi ini ditujukan kepada dunia tentang eksistensi bangsa palestina. Kedua, aksi ini ialah untuk membebaskan seluruh tahanan politik palestina yang di penjara di Israel.

“…Aku selalu mengatakan bahwa kami terpaksa melakukan ini. Kami melakukannya bukan berarti kami menyukainya. Kami paham bahwa orang-orang itu, para penumpang, tak ada sangkut pautnya dengan konflik ini […] Tapi sebelum itu, tak ada yang mau mendengar jeritan kami dari tenda-tenda…”(Hal. 53)

Leila melakukan beberapa kali operasi plastik agar tak dikenali kembali ketika membajak pesawat nantinya atau melakukan aksi-aksi revolusioner lainnya. Hal ini tentu saja berbeda dengan motif operasi plastik para perempuan pada umumnya, sebab mereka hanya memikirkan bagaimana memoles wajahnya agar lebih cantik. Leila bahkan menolak untuk diekspos.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Memoar Luka Seorang Muslimah

Meskipun ia seorang permpuan yang terlahir di lingkungan masyarakat arab yang kurang menghargai martabat perempuan, namun menurutnya perjuangan kaum perempuan Palestina adalah berjuang bersama rakyat Palestina. Leila bukan anti pada pembebasan atas hak-hak domestik perempuan, ia hanya tak menginginkan spesifikasi pembebasan untuk perempuan semata. Ia lebih menekankan pentingnya persatuan seluruh kekuatan untuk melawan permasalahan yang sanagt kompleks, seperti kemiskinan, kelaparan dan penindasan secara sosial.

Hal ini seperti diungkapkan Leila Khaled bahwa “aku mewakili rakyat Palestina, bukan perempuan”.  Tentu saja ucapan Leila menginspirasi kebanyakan perempuan. Sebab perempuan, selain masih di bawah kungkungan patriarki, mereka pula akan dimanfaatkan oleh tekanan sistem sosial yang menindas. Menurutnya, kemerdekaan nasional, adalah kemerdekaan siapa pun, termasuk perempuan.

Leila khaled hingga saat ini menjadi salah satu tokoh perempuan paling ikonik di mata dunia. Ia kerap disejajarkan dengan Che Guevar a, Castro, maupun Mao. Di dinding-dinding poster dengan gambar dirinya bertebaran sama banyaknya dengan Che. Namun, di sisi lain, ia menjadi perempuan yang dibenci sebagian besar negara-negara Eropa Barat dan AS. Ia bahkan dicap sebagai teroris di berbagai media-media ternama.

Meski demikian, Leila selalu menegaskan “ini selalu tentang masa depan rakyat”. Ia sama sekali tak ambil peduli atas kebencian barat padanya.

“Aku tidak akan memperdebatkannya, aku hanya meyakininya. Inilah kenyataan untukku. Kami belajar dari sejarah bahwa tak selalu ada pendudukan dan perlawanan, ini bukan persamaan mendasar. Tapi ketika ada pendudukan, akan ada perlawanan..”(Hal. 189)

Begitulah Leila Khaled. Komitmennya pada keyakinan dan perjuangan pembebasan sosial menjadikannya “inspirasi yang tak habis-habis” bagi kaum muda Palestina dan dunia. Sebagian besar feminis menganggapnya sebagai perempuan yang begitu menonjol dalam perjuangan bersenjata yang identik sebagai “dunia lelaki”. Lebih dari itu, ia telah menjadi penyetara peran perempuan dan laki-laki secara sosial, khususnya dalam perjuangan pembebasan rakyat Palestina.***

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.