RESENSI BUKU: Membuka Sejarah Nusantara, Lewat Tetralogi Pulau Buru

Buku: Tetralogi Pulau Buru
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Bumi Manusia (1980; 1981)
Anak Semua Bangsa (1981; 1981)
Jejak Langkah (1985; 1985)
Rumah Kaca (1988; 1988)


TETRALOGI PULAU BURU, merupakan Roman Sejarah Karya Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan yang lahir pada tahun 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia, merupakan Satrawan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, hampir dari sebagian karya-karyanya telah mendunia. Semua itu tidak terlepas dari sejarah ril Indonesia yang kerap melengkapi karyanya.

Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) merupakan cerita berlanjut yang kesemuanya diselesaikan pada tahun 1975. Roman sejarah ini mengambil latar dan sejarah awal terbentuknya negara bernama Indonesia di abad ke-20. Sebuah karya Pasca kolonial yang paling bergengsi dan alternatif untuk kita dalam melihat sejarah Nusantara di masa lampau. Menurut Saya, Roman ini merupakan representasi dari Pidato yang pernah dilontarkan oleh Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno berkata“ jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Sedikit berpendapat tentang cerita dibalik Roman Sejarah berjumlah empat Jilid Ini; Jilid pertama dari Tetralogi Pulau Buru, Bumi Manusia memfokuskan cerita pada sosok tokoh Minke, Seorang Pemuda Jawa keturunan Ningrat, anak dari seorang Bupati yang bersekolah di H.B.S Surabaya dan punya anggapan menulis itu penting. Nama Minke bukanlah  nama sesungguhnya, Minke yang berasal dari kata Monkey(Monyet) merupakan panggilan tokoh utama yang diberikan oleh gurunya seorang Belanda sewaktu masih bersekolah di tingkat ELS (Sekolah Dasar). Petualangan yang Ia awali lewat kunjungan bersama kawan se-H.B.S bernama Robert Suurhof. Mereka mengunjungi Boerderij Buitenzorg (Perusahaan Pertanian di Wonokromo tahun 1898). Perusahaan yang dipimpin oleh Nyai Ontosoroh alias Sanikem, adalah seorang Nyai simpanan Herman Mellema. Robert Mellema dan Annelies Mellema adalah dua anak hasil perkawinan mereka yang tidak pernah sah oleh hukum di pengadilan Kolonial Nederland.

Selanjutnya, hubungan Minke dengan keluarga Nyai Ontosoroh adalah alur utama dalam jilid ini. Minke mendapatkan cinta dari seorang Annelies, konflik yang beragampun hadir. Sanksi sosial yang ternarasikan didalamnya, membentuk penafsiran khusus tentang perlakuan lingkungan terhadap hubungan mereka, kezaliman yang didapatkan seorang Nyai (Gundik, Istri simpanan Pria Asing) Dan Predikat Nyai ini adalah status terendah dalam strata sosial di jawa.

Bagi saya, lewat karakter Nyai Ontosoroh, Pram (sapaan Akrab Pramodya Ananta Toer) berupaya menekankan ritme konflik yang ada di masa itu. Tentang ketidakadilan sistem yang berlaku. Lewat cara pandang, hubungan sosial, keberanian, kedewasaan, ataupun dalam mengambil sikap, Nyai Ontosoroh berhasil meretas pandangan keliru di lingkungan Pribumi pada waktu itu yang menganggap bahwa derajat rendah kaum Pribumi perempuan adalah seorang Nyai. Manifestasi karakter Nyai Ontosoroh, dapat diartikan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya Patriarki dan ketidakadilan sistem sosial pada saat itu.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Kisah Mat Dawuk dan Potret Buram Kehidupan Masyarakat Desa

Di akhir cerita dalam jilid ini, Minke dinikahkan dengan Annelies. Hingga kemudian, otoritas hukum memisahkan hubungan mereka, dan mengantarkan Annelies menuju tempat pengasingan di Eropa, rumah Istri sah Tuan Herman Mellema. Pengasingan ini membuat dirinya jatuh sakit karena terpisah dari suaminya, Minke. Sedangkan Minke dan anggota keluarga Boerderij Buitenzorg, mencari beragam cara untuk problem yang ada. Minke kembali dihadapkan pada keluarbiasaan sikap seorang Nyai, dan membuatnya semakin kagum kepada mertua sekaligus Guru besarnya ini.

Jilid kedua dari Roman Sejarah ini, Pram selaku penulis memberikan judul Anak Semua Bangsa. Berangkat dari judul diatas, kisah perjalanan Minke berlanjut, setelah diakhir cerita di jilid Pertama pengasingan Annelies ke Eropa. dan pembuka di jilid dua ini, Annelies dikabarkan meninggal karena sakitnya. Kematian Annelies membuat Minke dan keluarganya merasa terpukul.

Menurut Saya, pada jilid kedua ini, tokoh Minke selaku tokoh utama, mendapatkan banyak peralihan pola berpikir. 1899 merupakan tahun gejolak cerita Minke bermula. Lewat menulis Ia berkeliling mengunjungi wilayah lain selain Wonokromo yang menjadi latar tempat di jilid pertama yang merupakan daerah Ia menetap. Segelintir orang baru berkenalan dengan Minke yang akhirnya membentuk karakter dan gaya penulisan Minke yang semakin serius mengurusi persoalan sosial. Khouw Ah Soe, Sandiman dan anaknya Surati, Petani Trunodongso, ataupun Ter Haar Redaktur S.N.v/d D adalah orang-orang yang membuatnya semakin tajam melihat problem sosial yang dihadapi saat itu, dan beragam hal baru lainnya.

Ceritanya fokus pada dunia Modern yang semakin maju. Ini merupakan sesuatu yang baru bagi Minke dan lingkungannya. Para Pribumi ditawarkan beragam kebudayaan yang dibuat oleh Eropa. Pribumi terkesima dengan perubahan yang terjadi karena pengaruh Eropa. Mereka membandingkan Budaya Ibu (lokal) yang sudah lama mengakar dan tertimbung di rahim nenek moyang, dan sadar akan kunonya pola fikir mereka.

Disini dijelaskan, Minke yang menkomsumsi berita mancanegara, berkenalan dengan gerekan anti Kolonial yang terjadi di berbagai belahan dunia lain. Efeknya, Ia mendapati perbandingan lingkungannya yang sepenuhnya di jerat, terlalu pesimis dan merasa sah-sah saja diperbudak oleh Eropa lantaran budaya maju yang mereka bangun pada waktu itu.

Minke yakin dengan jalan tulisan, Ia mampu memberi gambaran tentang apa yang terjadi di bangsanya pada waktu itu, tentang penindasan yang terjadi, tentang Hukum Kolonial yang berlaku, ataupun para Birokrasi  Pemerintahan pribumi yang memilih menjadi budak Eropa agar diberi kenaikan pangkat.

Kemudian dalam jilid kedua ini, cerita ditutup dengan Kunjungan Ir.Maurits Mellema (anak Sah Herman Mellema dan Istrinya Amelia Mellema Hammers) dalam suasana petang. Ia bermaksud mengambil alih Perusahaan Boerderij Buitenzorg dari tangan Nyai Ontosoroh. Kunjungannya itu tidak seperti yang Ia harapkan. Ia pulang dengan luka di hati karena cacian dan makian dari Keluarga Boerderij Buitenzorg, yang memang sedari awal menyambut kedatangannya dan siap akan kemungkinan yang akan terjadi.

Baca juga:  Melihat Sosok Pram dari Dekat

Jejak Langkah adalah buku ketiga seri lanjutan Tetralogi Pulau Buru. Buku paling tebal dari ke-Empat seri ini banyak memuat lahirnya beberapa organisasi Indonesia, asal-muasal lahirnya media sebagai alat perjuangan, dan memobilisasi massa untuk terlibat dalam perjuangan melawan Kolonial Belanda.

Tahun 1901 awal abad 19, membaca koran masih menjadi rutinitas Minke di kesehariannya. STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen, “Sekolah Pendidikan Dokter Pribumi”) adalah sekolah lanjutan yang memang diperuntukkan untuk anak Pribumi Indonesia dan setiap Alumninya akan di pekerjakan oleh Gubermen (Pemerintahan Kolonial Belanda). Minke berangkat ke Batavia (sekarang Jakarta.) melanjutkan sekolahnya. Batavia memang pada masa itu merupakan Pusat pemerintahan Gubermen dan tingkatan Sekolah yang lengkap.

Meskipun bersekolah di STOVIA, Minke tidak pernah menghentikan kegiatan menulisnya bahkan semakin menjadi-jadi. Tidak sedikit tulisannya yang menyinggung pemerintah kolonial diterbitkan di media koran. Perkenalan dengan Ang San Mei (wanita Imigran Tionghoa) dan kesibukan menulis, membuat pendidikannya di STOVIA tidak berjalan baik.

Medan Priyayi pun lahir. Minke sebagai pelopornya, Ia menggunakan media ini sebagai alat memobilisasi massa, wadah aspirasi masyarakat, dan wadah penyadaran Pribumi atas ketertindasannya. Beriringan dengan itu, banyak Organisasi kerakyatan perlahan terlahir. Boedi Oetomo, Petani Samin, Serikat Dagang Islam, dan beragam organisasi Pribumi lain.

Kesadaran, pergolakan dan pergerakan rakyat Pribumi dalam menentang Gubermen adalah hasil lahirnya beberapa Organisasi di Nusantara pada waktu itu. Beberapa tokoh revolusioner pun hadir satu per satu. Marco, Sandiman, Sadikoen, Tjipto, Haji Misbach, Haji Moeloek, Haji Samadi, Princes Kasiruta (istri ketiga Minke), Siti Soendari, dan beberapa tokoh  lain. Akibatnya, Pemerintahan Gubermen melakukan Politik Etis (politik balas budi) untuk membendung segala penolakan Pribumi atas kesewenangan Gubermen.

Atas dasar kesadaran yang Minke bangun, Medan Priyayi semakin banyak di kenal rakyat Pribumi. Penerbit koran Pribumi lain bermunculan satu-persatu. Semuanya tetap memuat persoalan penindasan yang dilakukan oleh Gubermen. Suatu waktu setelah kepulang Minke ke Buitenzorg (sekarang Bogor), Medan Priyayi mendapat sorotan dari Pemerintahan Gubermen. Karena pemberitaan yang sebelumnya diawasi lansung oleh Mas Marco (pengganti Minke semasa Ia berlibur) menciptakan ketakutan bagi Pemerintahan Gubermen. Sebagai pemimpin Medan Priyayi, Minke di tangkap lalu dibuang ke kamp pengasingan. Pangemanann (Pria Manado) yang bekerja sebagai Agen Gubermen, diberi perintah untuk mengawasi dan melakukan penangkapan terhadap Minke.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Hidup Berbentuk Jasad Mati

Sebelum di tangkap, Minke telah mengantisipasi penangkapannya. Sebelumnya, Ia beserta kawan seperjuangannya melakukan pertemuan. Pertemuan itu membahas nasib Medan Priyayi dan beberapa Organisasi bentukan Minke. Hasilnya, telah disepakati agar Medan Priyayi dan Organisasi tetap beroperasi semasa Minke menjalani masa penahanannya. Penangkapan Minke adalah langkah Gubermen untuk menbendung kesadaran yang dibangun olehnya, yang terbangun lewat koran dan keikutsertaannya dalam organisasi.

Selanjutnya, Penangkapan Minke ini merupakan penutup cerita di jilid ketiga yang bisa Saya simpulkan lewat satu ucapan Pram “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan”.

Setelah Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah yang ketiganya menggunakan Minke sebagai tokoh pencerita, jilid terakhir yang berjudul Rumah Kaca  menampilkan tokoh Pangemanann dengan dua n sebagai tokoh pencerita. Jilid terakhir Roman ini menceritakan bagaimana reaksi dari Pemerintahan Hindia Belanda terhadap meluasnya kebangkitan perlawanan Pribumi. Pangemanann yang bertugas sebagai juru arsip, diberikan perintah untuk mengawasi setiap reaksi Pribumi atas ketertindasannya, terlebih pada sosok Minke semasa mendekam di kamp pengasingan.

Lewat catatan-catatan Minke yang Ia tulis dalam Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah, Pangemanann yang menjadi Pengawasnya banyak mengetahui orang-orang yang sosoknya mampu menpengaruhi Pribumi. Hal itu dimanfaatkan oleh Pangemanann untuk mengawasi pula sepak terjang dari orang-orang yang kurang lebih se-ideologi dengan Minke.    Pengaruh Minke berusaha di tenggelamkan. Penahanan, kegiatan surat-menyurat, dan tindak-tanduknya, dibatasi dengan penuh pengawasan. Upaya itu sepenuhnya tidak membuahkan hasil. Gerakan dan kesadaran berorganisasi semakin meluas. Hal itu terus saja terjadi di kalangan Pribumi.

Sosok Pangemanann yang merupakan juru tulis dan seorang Manado yang juga merupakan Pribumi Nusantara, terkadang merasakan kerisauan dalam kesehariannya. Apalagi setelah Ia menjadi pengawas dari sosok Minke. Hal ini menggambarkan sosok Pangemanann seorang Pribadi yang diperbudak Jabatan, dan berusaha melawan kata hatinya. Ia sadar atas apa yang Ia perbuat. Ia memenjarakan orang yang bisa merubah ketertindasan bangsanya, tapi atas upayanya Ia terkadang merasa menyesal. Ketika Pribumi berusaha untuk melawan, keterlibatannya untuk menbendung gerakan Pribumi selalu membuatnya risau.

Cerita akhir dari Jilid IV berjudul Rumah kaca ini, ditutup dengan berita yang mengecewakan. Sosok Minke yang sedari awal merupakan pribadi yang mampu menggerakan Pribumi, setelah terbebas Ia meninggal dunia lantaran melihat anak-anaknya (media dan organisasinya) yang berusaha Ia besarkan telah direpresif dan diambil alih oleh Kolonial Gubermen. Tapi pengaruhnya masih membekas bagi Pribumi. Gerakan ataupun pemberitaan yang membebaskan yang juga pernah Minke lakukan, semakin menjadi-jadi. Banyak Pribumi yang terlibat dalam organisasi untuk agenda revolusioner.

Roman Sejarah Tetralogi Pulau Buru merupakan catatan panjang dari seorang Pramoedya Ananta Toer. Catatan ini Beliau tulis saat masih mendekam di Pulau Buru. Uniknya, sebelum menyatukannya menjadi tulisan yang termuat dalam empat jilid, Pram mengulang konsep cerita dalam Roman ini, Beliau menceritakan ulang kepada kawan-kawannya yang juga sama-sama mendekam di Pulau Buru.

Metode penceritaannya adalah gaya kepenulisan yang beraliran Realis. Lewat karya-karyanya, Pram berhasil menyelesaikan karya yang tidak biasa. Hal ini membuatnya mendapatkan banyak penghargaan. Baik itu penghargaan dalam negeri ataupun mancanegara. Diantaranya Freedom to Writer Award, The Fund for Expression, Wertheim Award, Ramon Magsaysay Award, UNESCO Madanjeet Singh Prize, Doctor of Humane Letters, Charceller’s Distinguished Honor Award, dan beberapa penghargaan lainnya. Penghargaan ini, tidak terlepas dari hasil karyanya yang luar biasa.

Banyak anggapan yang berbeda dari setiap orang yang telah membaca karya-karyanya. Berikut salah satu pandangan The San Francisco Chronicle: “Pramoedya adalah seorang pembangkang ter-mahsyur dan juga Albert Camusnya Indonesia…….”. Menurut Saya, hal ini bukanlah kekeliruan. Lewat Roman Sejarah ini, Pram memberitahukan sejarah dengan cara yang berbeda.***

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.