RESENSI BUKU: Trilogi Parasit Lajang. Moralitas Akut, Konstruksi Budaya Patriarki

Buku: Si Parasit Lajang
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul: Si Parasit Lajang
Penulis: Ayu Utami
Jumlah halaman: xviii+201
Ukuran: 13,5 x 20 cm
Tahun terbit: 2013 (cetakan pertama)
ISBN: 978-979-91-0538-7
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

 

SIAPA yang tak mengenal Justina Ayu Utami atau akrab disapa Ayu Utami. Perempuan berdarah Jakarta ini, seorang Aktivis dan Jurnalis, ia juga salah seorang pendiri AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Disela kesibukannya sebagai seorang Jurnalis, Ia padati pula dunia kesusastraan di Indonesia dengan karya-karyanya yang apik. Deretan penghargaan telah banyak Ia dapatkan, dalam maupun luar negeri. Bagi Jamaah Bibliophile, sangat disayangkan, jikalau belum menikmati sajian kopi ditemani buku padat reflektif hasil karya perempuan berumur 50 tahun ini.

Begitupun dengan pengalaman penulis setelah membaca salah satu karyanya yang liar, penuh intuisi, dan reflektif. Keberhasilnya pun nampak pada karya yang Ia gubah dalam “Trilogi Parasit Lajang” (Si Parasit Lajang, Cerita Cinta Enrico, dan Pengakuan Eks-Parasit Lajang). Ketiga buku ini bisa dibilang memiliki alur tersendiri dalam menyampaikan narasinya.

Trilogi Parasit Lajang? mungkin tanya ini akan sesak membekas dan penuh asumsi. Awalnya, penulis membayangkan, ketiga buku ini memiliki kisah bersambung, dan masing-masing buku akan menjelaskan kisahnya sesuai dengan alur yang korelatif. Yah, mungkin dapat disandingkan dengan Roman Tetralogi Pulau Buru karya Maestro Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Tapi toh faktanya tidak.

Ayu Utami lewat kecermelangan dan keuletannya, mengantarkan Buku Trilogi ini sampai di tangan pembaca dalam kondisi padat narasi dan penuh keresahan. Pasalnya, dapat dikatakan ketiganya, mencoba mengunggah batin pembaca lewat alur kisah fantasi yang begitu mumpuni. Bak mantra yang berhasil menyulap paradigma kita, nikah yang selama ini dianggap hal yang paling luar biasa untuk menutup masa muda, menjadi bentuk pemenjaraan diri yang siap merebut kebebasan bagi yang merasakan. Utamanya lagi bagi peran perempuan yang lebih banyak terdomestifikasikan dan penuh kekangan.

Pada buku pertama “Si Parasit Lajang”, “10+1 Alasan Untuk Tidak Menikah”. Mengawali buku ini dengan lusinan tanya didalamnya. Kenapa dengan menikah? Apa yang salah? Bukankah dengan menikah kita memastikan bahwa inilah hakikat cinta sesungguhnya? Meskipun begitu, dapat dikatakan pertanyaan-pertanyaan ini tidak menjadi penting setelah tau alasan dari pernyataan yang sangat mengunggah diatas. Pada dasarnya, buku pertama ini coba menggambarkan betapa banyak manusia yang menganggap bahwa nikah ialah konsekuensi logis yang harus dipenuhi oleh manusia sebagai makhluk yang nafsuan tidak dapat hidup tanpa pasangan. Atau dalam bahasa kerennya menurut Aristoteles, manusia adalah Zoon Politicon, ialah makhluk yang selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan manusia.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Membuka Sejarah Nusantara, Lewat Tetralogi Pulau Buru

Tetapi asumsi ini bisa saja salah dan tidak sepenuhnya benar. Tokoh A dengan satirenya berhasil mematahkan asumsi ini dengan penuh lawakan. Makian dan sarkasme orang sekitarnya tidak mengurungkan niatnya untuk tampil paling depan untuk menolak supremasi laki-laki dalam ikatan pernikahan. Menurutnya, menikah ialah ikatan yang melanggengkan dominasi laki-laki diatas perempuan. A seolah ingin mengkonfirmasi bahwa doktrin yang telah mengakar ini, hanya simbol kekuasaan. Nikah diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin melepas kebebasan, dalam berespresi ataupun bertindak. A pun mendaku dirinya sebagai Parasit Lajang diakhir usianya yang beranjak 21 tahun.

Baginya, menikah tidak menjadi penting selama kita mampu memberi ruang ekspresif bagi diri sendiri. Tidak menjadikan nikah sebagai  hukum wajib, adalah awal dari sebuah nilai kritis yang sepenuhnya harus dapat dikendalikan, utamanya bagi perempuan yang pada dasarnya akan berdampak ganda pada dirinya ketika telah terikat dalam satu upacara domestifikasi pernikahan. Karena hukum nikah yang diaminkan di Indonesia ialah hukum patriarkal, maka yang terjadi adalah legitimasi kokoh, kuat, dan tahan lama akan berpihak pada kaum lelaki. Ini menandakan, bahwa negara tidak sedang berupaya untuk mengadilkan sistem yang berlaku, tetapi hanya untuk memastikan bahwa kepentingan lelaki untuk objektivikasi perempuan, utamanya untuk kebutuhan seksualitas semakin diperhalus.

Lebih lanjut, doktrin agama yang kian melanggengkan kepercayaan satu arah ini, membuat remaja dan khususnya orangtua antusias untuk menyegerakan anaknya untuk menikah, atau paling tidak sebelum belakangnya bungkuk dan termakan usia. Peran Agama kian otoritatif dalam mengkampanyekan bahwa seksualitas yang dilakukan tanpa ikatan pernikahan adalah dosa terbesar, jika sekiranya dilakukan oleh manusia. Yah, mungkin kita bisa baca pengalaman seksualitas Adam dan pasangannya, Hawa, yang tidak jelas ikatannya, sebagai petanda bahwa seksualitas bisa saja tidak adanya hubungan dengan pernikahan, hehhe…

Lalu, kisah apik yang diperankan oleh Enrico pada buku kedua, membuka topik baru dengan pergulatan pemikiran yang sama reflektifnya. Enrico yang diketahui sebagi seorang lelaki yang memulai tangis pertamanya di tengah hutan, di masa ayahnya, Muhammad Irsad ikut bergerilya dalam pemborontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Kisah sejarah yang kerapkali jadi buah ingatan di kepala Enrico remaja untuk memaknai kepelikan hidupnya. Enrico berasal dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya seorang Muslim, dengan istrinya yang cantik beragama Katolik. Keluarganya hidup berkecukupan, tetapi karena seringkali dipindah-tugaskan dari wilayah satu ke wilayah lain, mengharuskan Enrico harus lebih adaptif lagi untuk segala kemungkinan yang ada. Belum lagi karena sosok Ibunya yang dulu karismatik, penyayang, cerdas, dan pemberani seketika berubah kala kefanatikan Katholik menghampiri kehidupan Ibunya.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Menentang Keserakahan Manusia untuk Kelangsungan Alam

Ibu yang Ia kasihi, pun seketika menjadi sangat perfeksionis dan temperamen kala melihat Enrico Kecil yang sedang berkembang menuju kedewasaan, bertumbuh tak sesuai dengan harapan. Enrico, si anak nakal menjadi predikat yang Ia lekatkan bagi anak semata wayangnya (karena Kakak Enrico Meninggal Dunia). Enrico lalu hidup dalam keterbatasan dan kekangan yang mereduksi kemandiriannya menjadi seorang fanatikisme Katholik. Dicecoki berbagai bentuk ajaran dan prasyarat untuk menjadi seorang jamaah yang taat, tidak seketika membuat Enrico patuh dan taat pada hidup yang terkekang. Ia pun memutuskan untuk hidup mandiri diperantauan ketika Pendidikan Kuliah mengharuskannya untuk meninggalkan Ayah dan Ibu yang Ia sangat kasihi sekaligus mengekangnya.

Lepas dari Ibunya, kehidupan Enrico berubah. Menurutnya, Ia telah jadi manusia yang bebas. Ini merupakan langkah awal untuk menentukan masa depan. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, seksualitas adalah dunia yang Ia gerayangi sedemikian rupa. Pengalamannya dalam dunia penuh nikmat  ini, mengajarinya bahwa pernikahan tidak sedemikian pentingnya untuk dilakukan. Ia pun memutuskan untuk tidak menikah di sisa hidupnya. Prinsip ini Ia pegang sampai kedua orang tuanya meninggal dunia. Hidup dalam sebatangkara, melarutkan prinsip yang telah belasan tahun Ia pegang. Kehidupannya kian berubah kala A (Tokoh utama pada Buku Si Parasit Lajang) melengkapi hidupnya. Awalnya, pertemuan yang terencana itu didasari oleh hubungan antara Juru kamera dengan Konsumen.

Kisah ini berubah menjadi relasi seksualitas, kala keduanya memutuskan untuk hidup bersama tanpa adanya pernikahan yang mengikat. Hidup bertetangga menjadi pilihan ampuh bagi kenyaman hidup keduanya. Hal ini cukup berhasil mengundang tanya dan heran bagi pembaca. Apalagi ditengah doktrin agama yang kuat dan penuh kecaman bagi para pegiat romantisme tanpa ikatan pernikahan, ditambah keduanya hidup bersama untuk beberapa tahun di wilayah negara Indonesia, yang sangat tabu dengan hal yang demikian. Tetapi Enrico dan penggalang kisahnya, hanya ingin memastikan bahwa kekakuan kita dalam memaknai hubungan dapat saja tereduksi dengan keberanian di tengah hambatan norma yang terlalu monoton. Seksualitas yang sepenuhnya didisiplinkan oleh otoritas negara dan agama berhasil Mereka rekonstruksi. Kebebasan dan kehidupan yang dibangun dengan kesadaran, menjadikan keduanya pasangan paling kompak. Tidak menikah, tapi mereka hidup bahagia.

Baca juga:  RESENSI BUKU: Rumah Sebagai Jimat Pemersatu

Lantas bagaimana nasib keduanya, pada buku ketiga? Berangkat dari Judul Pengakuan Eks-Parasit Lajang, pembaca dikejutkan dengan pengantar yang sangat kontroversi. Tokoh A dalam Si Parasit Lajang yang menghukumi relasi pernikahan dan berupaya menjauhinya, dan Enrico dalam Cerita Cinta Enrico yang berprinsip tidak akan menikah dalam sisa hidupnya, memutuskan untuk menikah. Hal ini membuat sederet pembaca Ayu Utami dengan sederet pengalaman batinnya paskah membaca kedua bukunya, merasa dikecewakan.

Pada dasarnya, buku pelengkap ini hadir sebagai bentuk pertanggung jawaban Ayu terhadap para pegiat karyanya, merasa dirugikan atas keputusan Ayu Utami untuk menikah dengan Enrico. Pasalnya, dua buku sebelumnya yang Ia tulis sangat apik, banyak dijadikan pegangan atau prinsip hidup bagi orang-orang yang menganggap bahwa keputusan untuk tidak menikah bukanlah masalah. Apalagi, kejujuran dan kenyataan yang dijelaskan oleh Ayu Utami di kedua buku sebelumnya, banyak mengispirasi pembacanya.

Buku ini menjadi bagian pelengkap dari Trilogi Parasit Lajang. Kilas balik dan seputar perjalanan kehidupan asmara dan intim tokoh A dengan Enrico memenuhi plot ceritanya. Kisah ini, sebagai bentuk kesempurnaan cerita yang melengkapi alasan-alasan A dan Enrico berfikir berbeda dari manusia kebanyakan. Serta jawaban dari pertanyaan yang penuh kecaman dari para pembaca, alasan A dan Enrico untuk menikah. Semuanya hadir dalam novel terakhir ini. Jadi sangat disayangkan jikalau memilih untuk tidak membacanya.

Akhirnya, ketersediaan ruang yang sempit dan waktu yang dimiliki oleh penulis, tidaklah cukup untuk sedapat mungkin merangkai keseluruhan kisah paradigmatik ini. Kekayaan ideolog feminisme, anti moralis, sampai pada luapan tradisi yang secara gamblang dan natural digambarnya dengan cermat, adalah sederet makna yang dapat diartikulasi oleh penulis.***

 


Penulis: Abrisal
Editor: Ahmad Mukhlis H


 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.