RESENSI FILM: Keserakahan Menguasai Industri Makanan Siap Saji

Film : Food, Inc.
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Film : Food, Inc.
Tahun Rilis : September 2008
Negara : Amerika Serikat
Bahasa : Inggris
Sutradara : Robert Kenner

 

KETIKA RUANG kelas menjadi sangat membosankan, ketika tuturan dosen kian tidak ada mutunya, tidak menciptakan mahasiswa yang lebih berani, pun tidak benar-benar membangkitkan imajinasi dan gairah atas kehendak berkekspresi dan kehendak mahasiswa menyulut gagasannya. Ketika itulah ruang-ruang alternatif kian bermunculan. Kantin, misalnya.

Menjadi tempat paling favorit, demikian bagi mahasiswa berambut gondrong, memakai sandal, memakai kaos, tanpa terpisah dari mahasiswa lainnya, berhak mengekspresikan imajinasinya, pikiran, hingga gagasannya. Mengubah dimensi kantin menjadi lumbung pertemuan ilmiah dan bertukar pikiran.

Tepat delapan tahun silam, saya menemui fase tersebut. Ketika diskusi pecah menguak pada kategori makanan siap saji. Sudut cerita yang kian serius membalut kehidupan manusia. ‘Food Inc.’ sebuah film dokumenter (2008) dari Amerika Serikat, menjadi diskusi yang beresiko jika di tinggalkan siang itu, di sebuah kantin paling favorit bagi saya, demikian kawan mahasiswa lainnya, ketika itu.

Berdurasi 94 menit, ‘Food Inc.’ yang di sutradarai oleh Robert Kenner, berkisah pada produksi pangan agrikultur berskala besar di Amerika Serikat, dan menyimpulkan bahwa daging dan sayur-sayuran yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut memiliki banyak pemburukan bagi manusia dan lingkungan, demikian tidak sehat, membahayakan lingkungan, dan praktik produksi yang tidak manusiawi.

Sistem makanan kita dan media kebanyakan benar-benar terdistorsi secara masif. Monster besar yang sekarang memberi makan sebagian besar dari kita bukanlah berita semata, dibalik eloknya visualisasi iklan menyembunyikan pemburukan yang begitu besar, dan ini terencana dengan baik. Demikian satu diantaranya yang coba dikisahkan oleh ‘Food Inc.’

“Itu investigasi yang kejam namun penuh kasih sayang. Dan menyedihkan!”, pekik seorang kawan yang terus membuat gaduh suasan nonton bareng kami dengan omelannya ketika itu. Sesekali menumbuk meja dengan lirih. Bak begitu paham dan mencoba mendeskripsikan kisah dalam ‘Food Inc.’ Sementara kami yang sedang menonton dan begitu dalam membaca subtitle dalam dokumenter tersebut, membiarkannya.

“Diamlah! Biarkan kami menyelesaikan filmnya”, dengan pelan kutepuk pundaknya, berharap ia berhenti berbicara sementara kami menyelesaikan film dokumenter tersebut.

***

Tidak cukup banyak yang berasumsi bahwa pertanian industri akan menjadi lebih indah, hanya saja sedikit orang yang cukup menyadari betapa buruknya itu jika terus terjadi. Seperti yang dikatakan Eric Schlosser dalam film tersebut, “industri makanan tidak menginginkan Anda mengetahui kebenaran tentang apa yang Anda makan, karena jika Anda tahu, Anda mungkin benar-benar tak ingin memakannya”.

Dua protagonis utama film ini seperti Eric Schlosser yang juga penulis cerita “Fast Food Nation” (2006), dan Michael Pollan penulis “The Omnivore’s Dilemma” (2006), benar-benar membuka tabir yang menutupi cerita buruk dibalik indahnya dan nikmatnya makanan cepat saji yang terus ada hingga kini. Mereka pun mengungkap cerita yang berbeda dari film tersebut bersama-sama dengan catatan pemburukan dari kasus yang sama, yang mereka temukan secara terpisah.

Baca juga:  Melihat Dampak Pertambangan, Dema Fakultas Adab dan Humaniora Gelar Bedah Film Sexy Killers

Kisah-kisah yang diceritakannya, seperti bagaimana McDonald’s menjadi raksasa seperti sekarang ini. Bagaimana jagung saat ini ada di hampir semua makanan yang enak, bagaimana daging sapi sekarang dibesarkan dengan begitu cepat, bagaimana menyedihkannya kehidupan ayam dalam perusahaan reksasa tersebut, dan bagaimana GM (Genetically Modified) menguasai pertanian AS dengan sangat cepat.

Dalam budaya transisi perkara ini bukan halaman baru, namun ‘Food Inc.’ mengusir sementara pandangan mengenai budaya transisi tersebut. Di lain sisi, kasus etis kemudian bermunculan, seperti ketika produksi massal daging yang benar-benar terjadi. Seperti yang kita ketahui, pada umumnya jika hewan disembelih murni untuk diambil dagingnya. Namun berbeda dalam ‘Food Inc.’, industri makanan besar seperti McDonald’s dan lainnya juga mengendalikan 80% industri daging sapi yang ada. Terhitung begitu banyaknya jumlah manusia yang memakan makanan cepat saji, cukup andil mendorong industri besar ini membayar petani untuk memproduksi hewan dan sayuran secara massal, dengan waktu yang lebih singkat, sekaligus menciptakan hewan ternak yang lebih besar dari ukuran hawan pada umumnya, dan ini dilakukan dengan waktu yang sangat cepat.

Masalah etis lainnya ada dalam praktik di mana petani dipaksa untuk membesarkan hewan ternak dalam kandang yang sangat sempit dan benar-benar tidak memberikan ruang yang cukup bebas untuk bergerak, sesak dan kelihatan begitu menyiksa, itu pun masih harus terus ditambah jumlahnya. Demikian tidak menjadi bagian penting dalam periode penciptaan daging yang lebih baik dan layak untuk di konsumsi manusia.

Semenetara itu, hewan-hewan tersebut mesti dipaksa untuk makan makanan yang biasanya tidak mereka makan secara alami. Seperti steroid dan produk lainnya yang kerap digunakan untuk menciptakan ukuran hewan lebih besar dengan lebih cepat. Ayam misalnya, ‘Food Inc.’ Mengungkapkan, “karena mereka tumbuh di separuh waktu, dengan banyak bahan kimia, membuat payudara ayam betina membesar secara signifikan. Masalah besar bagi hewan modifikasi genetika. Demikian dinyatakan, bahwa cara tersebut bertentangan dengan proses alam”.

Kasus lain yang terekam dalam ‘Food Inc.’, seperti perlakuan tidak etis demikian tidak wajar terhadap hewan sebelum ia disembelih, ditunjukkan saat ayam kemudian dikumpulkan. Para pekerja terekam saat menendang ayam-ayam tersebut dan mendorong paksa ke dalam kandang yang penuh sesak dengan kondisi yang sangat buruk. Dipaksa untuk hidup di antara hewan mati lainnya, diatas lantai yang penuh dengan kotoran. Ini masalah etis yang jelas menciptakan pemburukan.

Michael Pollan dan Eric Schlosser mewawancarai banyak orang yang terlibat dalam pertanian atau produksi makanan dalam beberapa cara, termasuk petani skala kecil yang terancam oleh agribisnis besar, orang-orang yang bekerja untuk perusahaan makanan raksasa. Satu wawancara yang sangat mengejutkan adalah dengan seseorang pekerja yang bekerja di perusahaan raksasa Perdue Farms yang juga perusahaan induk dari Perdue Foods dan Perdue AgriBusiness, yang berbasis di Salisbury, Maryland. Selama wawancara, terekam bagian dalam salah satu kandang ayam Perdue. Kandang yang gelap dan sumpek. “Kandang itu begitu penuh dan sesak, sehingga saya ragu satu ayam lagi bisa muat, dan saya terkejut menemukan bahwa mereka tidak terkena cahaya alami”.

Baca juga:  RESENSI FILM: Black Panther dan Perjuangan Melawan Diskriminasi Rasial dan Gender

“Lebih hemat biaya ketika memelihara ayam ke dalam ruang yang kecil daripada membiarkannya merumput di tempat terbuka”. Demikian salah satu ungkapan dari pihak perusahaan skala besar tersebut, memelihara ayam dalam jumlah yang begitu besar.

Setelah wawancara berakhir, ‘Food Inc.’ mengungkapkan pada babak selanjutnya, pihak Perdue Farms telah memecat Morison, seorang pekerja dalam perusahaan tersebut, demikian diketahui ia di pecat segera setelah wawancara bersama ‘Food Inc.’. Alih-alih pihak Perdue Farms mengumumkan bahwa pihaknya adalah satu-satunya perusahaan yang bahkan setuju untuk menunjukkan kandang ayam mereka kepada produsen, secara umum.

***

Terekam juga dalam film tersebut, “hal yang paling lama terlintas di benak saya adalah kisah tentang pria yang juga salah seorang petani lokal di daerahnya. Ketika ia ingin menyimpan benih-benihnya dan kemudian menggunakannya kembali pada tahun berikutnya, ia mesti membersihkannya terlebih dahulu dengan mesin pembersih benih. Namun  Monsanto (perusahaan multinasional Amerika Serikat yang bergerak di bidang agrikultur) tidak berkehendak pada petani yang menyimpan benih, jika petani menggunakan kembali biji yang telah disimpannya lama untuk benih selanjutnya, itu akan dianggap ilegal”.

Gambaran lain yang juga sangat suram terekam ketika Barbara Kowalczyk menjelaskan bahwa dia adalah orang yang benar-benar tidak begitu memahami banyak hal soal kasus tersebut, yang tidak pernah benar-benar memikirkan makanan yang dia makan, sampai tragedi melanda putranya bernama Kevin, yang baru berusia dua setengah tahun, meninggal akibat strain Escherichia coli (sejenis bakteri yang hidup di dalam usus manusia dan hewan) setelah makan burger yang tercemar.

Samapai akhirnya Barbara Kowalczyk menjadi salah satu penasihat keamanan pangan, untuk mencegah lebih banyak orang meninggal dengan cara yang sama seperti putranya. Ia pun getol mendorong lolosnya RUU yang kemudian disebut sebagai Hukum Kevin, demikian memberi USDA (Kementerian Pertanian Amerika Serikat) kekuatan untuk menutup tanaman yang memiliki sejarah produksi makanan yang buruk dan tercemar.

‘Food Inc.’, menegaskan praktik-praktik industri pengolahan daging yang jorok dan kurang sedap, seperti fakta yang terekam bahwa jagung transgenik dari AS sekarang muncul dalam banyak makanan enak yang kita makan di sini, serta pakan ternak non-organik lainnya, yang begitu buruk pula. Tidak terlalu mudah untuk mengatakan “tidak seperti itu yang terjadi di sini”, demikian cukup paradoks pada masalah serius ini.

Film ini cukup memberi peringatan nyata tentang apa yang akan terjadi jika kita membiarkan intensifikasi dan industrialisasi pertanian dengan praktik-praktik serupa yang semakin masif terjadi, dan terus berlanjut.

Baca juga:  RESENSI FILM: Ilusi Kesejahteraan Buruh di Bawah Kerangkeng Kapitalisme

Dalih populasi yang terus berkembang pesat dan membutuhkan lebih banyak makanan. Jagung, misalnya, karena murah dan lebih mudah tumbuh, demikian juga hewan ternak. Konektif pertanian pabrik, penggunaan jagung dan perawatan manipulatif untuk hewan sebelum pemotongan, menghasilkan masalah etika yang lebih serius bagi publik.

Selain itu, perusahaan menggunakan mode lama, gudang raksasa dan citra pertanian yang tidak bersalah sebagai ilusi. Mereka dengan bohong menggunakan penggambaran ini untuk menyamarkan kenyataan bahwa daging yang diproduksi secara massal tersebut dilakukan dengan lebih buruk. Pada dasarnya, ‘Food Inc.’ memaparkan kenyataan yang tidak menguntungkan pada industri makanan saat ini dan apa yang mereka hasilkan selama ini memberi kenyataan buruk bagi konsumennya.

Menjadi jelas bahwa ini hanya investasi jangka pendek, karena dalam jangka panjang, biaya perawatan kesehatan tampaknya jauh melebihi apa yang telah mereka hemat pada makanan siap saji yang dianggap lebih murah dan siap santap. Sistem pangan yang di hilangkan, seperti keberadaan petani yang nyata, konsumen yang arif, tanah yang semestinya dibangun untuk generasi dan kehidupan masa depan, dikuasai dengan sangat buruk oleh industri-industri raksasa tersebut. Dan demikian bukan sistem yang membahagiakan.

Dari perspektif budaya, menarik untuk merenungkan wawasan yang ditawarkan film ini. Apa yang kita saksikan dalam ‘Food Inc.’ adalah sistem pangan yang dirancang untuk mengekstraksi keuntungan maksimum atas kekuasaan sumber pangan, dan lainnya. Sistem makanan yang diciptakan agar lebih cepat dan selalu ada ketika dibutuhkan oleh konsumen, seperti buah, sayuran dan daging, diciptakan agar selalu ada berjejer dalam lemari pendingin Supermarket, dan pasar-pasar lainnya. Dan di jual dengan harga yang relatif lebih murah.

Inilah sistem yang jelas kekejiannya, dengan harga yang murah tersebut tercatat mampu terus-menerus mengalirkan keuntungan, bahkan tak dapat di imbangi dengan harga buah, sayuran dan daging, yang lebih mahal namun hanya dapat di beli dalam waktu-waktu tertentu. Akan tetapi, dalam perkara ini, apa yang ditawarkan atas nama efisiensi begitu sangat rentan, bagi ketahanan, penyesuaian terhadap lingkungan, dan pekerjaan lainnya. Dan ini jelas proses pemburukan yang nyata, dan pemusnahan yang rasional.

Pada rekaman akhir, pengakuan seorang petani yang diwawancarai dalam film mengatakan “orang-orang harus mulai menuntut makanan yang lebih sehat, dan lebih baik dari kami, agar kami sebagai petani lokal menyiapkannya, dan menanamnya dengan baik”. Harapan tersebut terungkap, bahwa pemburukan akan di cegah selama konsumen menerima kebenaran dari proses pertanian dan makanan yang lebih baik dari petani lokal dan proses kerja yang lebih menusiawi dan baik.

‘Food Inc.’ meletakkan fakta bahwa sistem makanan kita adalah perkara paling mendasar bagi manusia dan kehidupannya.[*]

 

Penulis: Ahmad Mukhlis .H
Editor: Suherman JF

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.