RESENSI FILM: Pendidikan Alternatif itu Ada Bung!

Film: Captain Fantastic
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Film: Captain Fantastic
Sutradara: Matt Ross
Tahun Produksi: 2016

PROBLEM pendidikan di Indonesia sudah menjadi permasalahan yang tak kunjung usai. Banyaknya anak yang putus sekolah, semakin mahalnya biaya pendidikan, maraknya kekerasan yang terjadi dalam lingkungan sekolah maupun kampus menjadi penanda dari banyaknya persoalan yang ada dalam dunia pendidikan di Indonesia. Sekolah-sekolah terasa membosankan dan menjadi tempat yang tidak menyenangkan bagi peserta didik.

Belum lagi jika melihat bagaimana proses belajar-mengajar yang hanya menempatkan pengajar sebagai sumber kebenaran mutlak tanpa menghiraukan pendapat dari peserta didiknya. Kondisi sekolah di Indonesia yang membosankan dan tidak mengembangkan potensi peserta didiknya terlihat seperti kondisi sekolah-sekolah di Amerika Serikat apabila melihat kisah dalam film Captain Fantastic yang disutradarai oleh Matt Ross dan dibuat oleh rumah produksi Electric City Entertainment dan ShivHans Pictures.

Dalam film ini, pemeran utama Ben Cash yang diperankan oleh Viggo Mortensen hidup dalam hutan bersama 6 orang anaknya Bodevan, Kielyr, Vespyr, Rellian, Zaja, dan Nai. Mereka bertahan hidup dengan memanfaatkan alam seperti berburu binatang dan memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan dalam hutan. Tak hanya itu, Ben dan keluarganya melakukan aktifitas keseharian di hutan. Mulai dari olahraga, bermain musik sampai pada proses pendidikan anak-anaknya.

Terlihat di salah satu adegan, keluarga kecil Ben membaca bersama-sama di malam hari dan sedikit bermain musik. Disaat semua anaknya membaca, Ben juga mengevaluasi hasil bacaan anak-anaknya dengan bertanya seberapa jauh mereka telah membaca. Ketika bacaan buku mereka selesai, Ben akan meminta kepada mereka untuk menceritakan apa yang mereka pahami dari hasil bacaan bukunya. Apa yang dilakukan Ben kepada anak-anaknya cukup menarik, melihat metode pengajaran di sekolah-sekolah formal khususnya di Indonesia yang cenderung bersifat satu arah dan menjadikan anak didik sebagai objeknya.

Baca juga:  Dinamika Industri Film Dalam Supremasi Pasar

Metode pengajaran seperti itu, menurut Paulo Freire seperti bank yang memposisikan pengajar sebagai penabung dan menganggap murid hanya sebagai tabungan yang awalnya kosong dan harus diisi setiap saat. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Ben dalam mendidik anak-anaknya dengan pola homeschooling  dan terus merangsang nalar kritis anak-anaknya. Ben menyediakan bacaan-bacaan buku dan mengajak anaknya berdiskusi, bermain musik, dan juga melatih fisiknya.

Salah satu adegan menarik ketika anak bungsunya, Nai bertanya seputar hubungan sex. Tentu dalam pendidikan formal pertanyaan seperti itu masih dianggap tabu dan berkesan negatif. Akan tetapi pertanyaan tersebut dilontarkan dengan polosnya oleh seorang anak berusia 8 tahun yang dijawab dengan jujur dan mendetail oleh ayahnya. Melihat adegan tersebut dapat menjadi pelajaran mengenai pentingnya kejujuran dan keterbukaan dalam mendidik.

Orang tua juga sebaiknya tidak membiasakan anaknya menerima jawaban yang berbelit. Dalam mendidik juga harus mampu mengasah kemampuan berfikir anak/peserta didik dengan tidak hanya sebatas memberikan asupan pengetahuan, akan tetapi juga membiarkan anak didik untuk mampu menyampaikan gagasannya sendiri.

Dalam salah satu adegan juga memperlihatkan saat Ben disinggung mengenai pendidikan anaknya yang tidak masuk dalam sekolah-sekolah formal dan membuktikan bahwa pengetahuan anaknya yang ‘tidak bersekolah’ justru lebih mengetahui banyak hal dibanding dengan keponakannya yang bersekolah.

Hal ini membantah asumsi bahwa anak yang berpendidikan (formal) selalu melebihi pengetahuan anak yang hanya bersekolah di tengah hutan. Hal ini juga menggambarkan bagaimana kondisi sekolah-sekolah formal saat ini. Sekolah yang mulai menjadi tempat yang membosankan dan tidak menjadi tempat belajar yang menyenangkan sehingga menjadi kurang efektif dalam memberikan asupan pengetahuan kepada peserta didik.

Baca juga:  RESENSI FILM: Asimetris, Pembangunan Untuk Siapa?

Seperti yang kita lihat dalam dunia pendidikan di Indonesia, yang sangat banyak memberikan tugas-tugas kepada peserta didik. Sehingga hal ini semakin menambah beban peserta didik dalam menjalani kesehariannya. Ditambah lagi bersekolah selama delapan jam yang terasa seperti bekerja dalam kantor maupun pabrik.

Bersekolah tidak lagi menjadi tempat yang mampu membebaskan manusia dari belenggu keterbatasan pengetahuan, melainkan sebagai penjara yang membatasi ruang gerak pelajar dalam menjalani rutinitas lainnya di luar sekolah. Sekolah telah menjadi tempat yang menjenuhkan. Hal ini dapat dilihat dari tingkah pelajar yang sangat senang ketika hari libur telah tiba.

Di saat libur tiba, pelajar akan sangat merasa senang dan akan melakukan rutinitas apapun diluar yang dilakukannya saat bersekolah. Hal ini membuktikan bahwa sekolah tidak lagi menjadi tempat yang menyenangkan, sehingga sangat berpengaruh terhadap efektifitas proses belajar-mengajar yang dianggap terlalu membosankan.

Fungsi sekolah sebagai tempat belajar yang mampu membebaskan manusia dari belenggu kebodohan berubah menjadi tempat yang mengerikan dan jauh dari cita-cita yang membebaskan. Bahkan sekolah telah menjadi alat untuk menjaga status kekuasaan serta menjaga kelangsungan kapitalisme sebagai corak produksi yang dominan.

Louis Althusser menganggap sekolah atau lembaga pendidikan sebagai salah satu dari Aparatus Ideologi Negara (Ideology State Aparatus). Lebih lanjut, Althusser mengatakan bahwa ‘Aparatus Ideologi Negara (khususnya sekolah) memiliki peran dominan, yang memainkan peran menentukan dalam reproduksi relasi-relasi produksi dari cara produksi (kaptalistik) yang keberadaannya terancam oleh perjuangan kelas di dunia’. Maka dari itu kurikulum pendidikan harus selaras dengan kepentingan kelas yang berkuasa.

Sangat jarang kita temui sekolah yang mampu terbebas dari hal tersebut. Dan film Captain Fantastic mengajarkan kita untuk membangun pendidikan alternatif yang bebas dari kepentingan pasar dan dominasi kuasa.

Baca juga:  RESENSI FILM: Tidak Ada Larangan Bagi Seorang Untuk Dapat Bersekolah, Sekalipun Ia Difabel

Di Inggris terdapat sekolah yang didirikan oleh Alexander Sutherland Neill pada tahun 1921 bernama Summerhill School. Sekolah ini menerapkan prinsip swakelola yang memberikan kebebasan sepenuhnya kepada anak didik dalam belajar. Anak didik juga diberikan kebebasan untuk dapat mengikuti pelajaran yang ada. Sehingga tak ada kekangan yang diberikan kepada peserta didik.

Neill mengatakan “Summerhill telah membuktikan pada dunia bahwa sekolah dapat menghilangkan ketakutan kepada guru dan yang lebih penting ketakutan kepada hidup”. Neill juga menolak dengan adanya istilah pemalas yang dilekatkan pada anak didik, karena menurutnya kemalasan muncul karena kurangnya minat seseorang terhadap sesuatu dan juga ketika seseorang sedang sakit.

Seorang anak yang suka terhadap olahraga sepakbola, tentu akan rajin ketika kegiatan yang dilakukan adalah sepakbola. Sebaliknya, ketika dia diperhadapkan dengan pekerjaan atau pelajaran yang kurang disukainya, maka kemalasannya pun akan muncul. Maka dari itu sekolah ini menjunjung tinggi prinsip egaliter, demokratis dan kebebasan sehingga mampu meningkatkan kreativitas serta kepercayaan diri peserta didik.

Lewat konsep pendidikan Summerhill School dan cara Ben Cash mendidik anaknya seperti cerita dalam film Captain Fantastic, kita bisa melihat bahwa pendidikan alternatif itu ada. Pendidikan dapat dilakukan dimana pun dan kapan pun. Belajar juga dapat menjadi hal yang menyenangkan dengan metode yang tidak sekaku kurikulum pendidikan di berbagai negara.

Pendidikan juga tidak banyak memakan biaya, cukup menyediakan buku bacaan, menghadirkan teman diskusi, dan bisa juga dengan sesekali bermain musik dan olahraga seperti yang dilakukan oleh keluarga Ben Cash dalam menjalani kesehariannya.[*]

 

Penulis: M. Alfian Arifuddin
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.