RESENSI FILM: Penjara itu Bernama Kepatuhan

Film : Level 16
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Film : Level 16
Rilis : 20 Februari 2018 (Festival Film Internasional Berlin)
Negara : Amerika Serikat
Bahasa : Inggris
Sutradara : Danishka Esterhazy

 

WACANA FEMINISME dewasa ini semakin berkembang tiap waktunya. Sebagai suatu gerakan pembebasan atas ketidakadilan yang banyak dirasakan oleh perempuan. Kekangan  yang datang dari berbagai sisi, membuat feminisme sedang padat-padatnya mereproduksi narasi atas pembebasan untuk kaum perempuan, utamanya di tengah geliat dogma dan stigma atas laku-diri. Dimana rutinitas perempuan terbatas pada ruang domestik semata.

Hal ini memberikan ruang tersendiri bagi wacana feminisme, apalagi di tengah kemudahan akses informasi global. Kontrol hegemoni feminis yang saling adu tubruk dengan realitas patriarki yang melukakan dalam setiap relasi yang tidak berkeadilan, sedang menjadi topik utama dan banyak memenuhi ruang narasi di berbagai media, baik cetak maupun online.

Hal ini seolah mengkonfirmasi bahwa persoalan perempuan, kini kian menggelisahkan dan jadi isu hangat dalam pendiskusian publik. Tidak bermaksud untuk mengobjektivikasikan perempuan, karena deretan promotor berlomba-lomba mengangkat narasi feminisme sebagai satu kesatuan dalam buah karyanya.

Hal yang sama dilakukan oleh Danishka Esterhazy, perempuan asal Kanada yang baru-baru ini menyutradarai film berjudul “Level 16”. Film bergenre Sci-Fi, Horror, dan Thriller ini, melibatkan beberapa artis kenamaan seperti Katie Douglas, Sara Canning, Celine Martin, Peter Outerbridge, Kate Vickery, dan Amalia Williamson.  berhasil membawa karakter-karekter yang mereka perankan, mengisi narasi fiktif dalam film ini.

Danishka yang seorang perempuan, mungkin terinspirasi dari kisah hidupnya, perempuan di lingkungannya, ataukah dari ribuan kisah-kisah patriarkis yang Ia dengar dari Ibunya di tiap petangnya, tentang bagaimana menjadi seorang perempuan (Tentunya, ini hanya jadi prediksi penulis).

Hal ini nampak dari penghayatan panjangnya, sehingga mampu meramu narasi yang terbilang syarat idiom dan reflektif. Danishka tidak hanya piawai dalam menempah cerita, menyusunnya secara padat, membuahinya dengan kematangan analisa, sehingga film ini bisa sampai di depan mata para penikmat film. Tak pelak, film ini pun mendapat rating hingga IMDB 8.1/10.

Baca juga:  RUU PKS: Intervensi Negara atas Kehendak Gerak

Masuk kejalan cerita. Pada mulanya, film ini membuka adegan dengan rutinitas para  siswi yang sedang bermain di Sekolah asrama “The Vestalis Academy”. Sekolah Asrama ini dibangun atas gagasan oleh pasangan suami-istri bernama Miss Brixil (Sara Canning) dan Dr. Miro (Peter Outerbridge). Sebagai satu wadah untuk menunjang keinginan para donatur, sekolah ini bak sebuah penjara.

Demikian kusus untuk mendidik anak-anak perempuan dari umur belia menuju keremajaannya. Para siswipun hanya dididik dengan pengetahuan seragam, dimana ketaatan, kebaikan, rendah hati, sabar, tenang, jujur, terbuka, dan tidak banyak bertanya atau mengeluh atas apapun yang terjadi. Hal ini menjadi patokan nilai bagi sekolah, sebagai bentuk keberhasilan dari nilai disiplin yang telah mendarah-daging dalam setiap perilaku para Siswi.

Ruang akademi begitu tertutup dan jauh dari hiruk-pikuk dunia luar. Ada satu dogma yang dibentuk dan diyakini oleh para siswi, dimana hanya di akademilah tempat para siswi bisa tetap hidup selamat. “Udara diluar sekolah telah terkontaminasi dan sangat beracun” menjadi kisah horror tersendiri dalam benak fikiran para siswi.

Kehidupan sekolah yang monoton, dan penuh kontrol dari fasilitator akademi membuat para siswi hidup dalam kekangan. Layaknya satu keteraturan yang utuh dan berurutan, rutinitas seperti tidur, bangun, minum vitamin, bersih-bersih, dan sederet rutinitas lain yang sebenarnya lebih banyak menggambarkan bagaimana kerja-kerja domestik seperti ini seringkali kita dapati dilakukan oleh banyak perempuan di dunia nyata.

Lebih lanjut, Potensi kemanusiaan perempuan direduksi dan direproduksi kembali dengan bahan ajaran yang diproteksikan sebagai bagian dari “Kebajikan Feminin” yang syarat kepatuhan, kedisiplinan, keberisihan, kerendahan hati, dan mengharamkan keingintahuan. Sampai pada satu waktu, Vivien didapati tidak mematuhi aturan lantaran berusaha menolong kawannya, Sophia.

Sophia nampak kewalahan mencari alat bersih wajah yang terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai, apalagi Sophia digambarkan sebagai seorang siswi yang kurang baik dalam melihat. Hal ini memicu fasilitator akademi untuk mengambil tindak tanggap atas ketidakpatuhan yang dilakukan oleh Vivien, meskipun dengan alasan membantu Sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudari. Iapun didaulat sebagai siswi tidak patuh dan diberi label “kotor”.

Baca juga:  RESENSI FILM: Pendidikan Alternatif itu Ada Bung!

Apa yang terjadi setelah itu? Vivien lalu dipindahkan ke level bawah dan dipaksa untuk kembali memulai bagaimana kedisplinan itu penting untuk dipatuhi. Pasca kejadian itu, Vivien kian percaya diri untuk jadi siswi yang baik dari semua siswi yang ada. Relasi kompetitif dan antagonistik sesering mungkin diperlihatkan.

Pasalnya, kesetiaan atas segala perintah dari otoritas Sekolah pada akhirnya akan dihadiahi pemindahan di tingkat tertinggi yaitu Level 16 sebagai tujuan akhir. Inilah yang menjadikan persepsi kepatuhan sebagai sebuah prinsip hidup yang pantang untuk dilanggar. Level 16 dipandang sebagai satu pencapaian tertinggi.

Hal ini mungkin menjadi dasar dari pelabelan judul singkat film ini, Level 16. Angka 16 dianggap sebagai masa produktif, demikian para remaja putri siap untuk diambil oleh orang yang dinamakan sebagai pendonor. Seperti bagian tubuh para siswi yang siap dipanen untuk didonorkan bagi perempuan paruh baya yang telah berkulit kriput karena termakan usia.

Kembali ke dalam cerita. Para siswi begitu antusias pada setiap proses selektif yang dilakukan oleh pengelola akademi. Ini menimbulkan relasi kompetitif antara para siswi untuk bisa mengalahkan satu sama lain. Watak individual yang melengkapi setiap hubungan antar para siswi, membuat kehidupan harmonis kian terkaburkan. Sampai satu waktu kejanggalan-kejanggalan mulai dirasakan oleh para siswi.

Di mulai dari kesadaran Sophia, satu persatu kedok pengelola dapat diusut. Komunikasi yang cenderung konsolidatif dan penuh perhitungan antara Sophia dan Vivien, berhasil merangkai puzzle-puzzle permasalahan  yang ada dalam akademi itu. Mulai dari suplay vitamin yang rutin diberikan, udara esktrim yang berada diluar akademi, ataupun setelah mencapai di Level 16, kemana para siswi dipindahkan.

Menjadi satu tayangan menarik dengan adegan apik yang diiringi musik menegangkan. Kesadaran dan kehendak bebas satu per satu mulai dikonsolidasikan. Pada titik ini, konsolidasi menjadi perlu. Satu langkah strategis,mengantarkan para siswi dapat terbebas dari kekangan otoritas yang disebut Akademi ini.

Baca juga:  Masihkah Pendidikan Mencerdaskan dan Memanusiakan Manusia?

Kisah apik yang memaksa otak untuk berfikir ini tidak hanya berhasil merangkai adegan per adegan yang purwarupa. Tetapi, cukup kritis mengupas hal yang dianggap tabu selama ini. Kritisnya seorang Danishka sebagai punggawa dalam proses penyelesaian syuting, memberi warna tersendiri bagi kaum perempuan atas buah fikirannya ini.

Menonton film ini seolah mengkonfirmasi bahwa gerak perubahan sulit berbuah manis jika tidak dibibit oleh satu kesadaran bersama atas problem bersama. Upaya pembebasan paling tidak bisa terwujud jika ada upaya sadar untuk merebut, kalau perlu dengan cara dirampas. Jika perlu, Pemberontakan menjadi alternatif paling revolusioner yang semestinya mampu meretas sekat antar otoritas dan pihak yang dikekang.

Aktivitas perempuan tidak menjadi soal pada kebajikan feminismnya, tapi pada kepatuhan buta yang tidak diselingi pengetahuan didalamnya. Hal inilah yang membuat relasi patriarki kian mereproduksi dan di ideologisasi oleh segelintir individu. Apalagi yang nyata, patriarki tidak hanya dibudayakan oleh kaum lelaki semata, perempuanpun terkadang ikut andil didalamnya.

Demikian menandakan bahwa upaya reproduksi ilmu pengetahuan kritis senantiasa harus digalakkan. Penulis rasa Danishka ingin berteriak dengan lantang di hadapan para penikmat filmnya, “Kami (Kaum Perempuan) pun bisa, meskipun harus bertumpah darah, kami takkan diam untuk melawan ketidakadilan yang berasas pada Gender” (Sekali lagi ini imajinasi penulis).

Sebagai penutup. Satu pesan ideologis, dengan mendobrak dogma dan stigmalah satu langkah pembebasan paling revolusioner yang patut dikedepankan oleh perempuan. Tidak cukup hanya pada bangunan kesadaran, tetapi penguatan atas simpul-simpul keinginan untuk menyamakan hak, agar hal ini dapat menjadi satu proyek sosial yang berkepanjangan. Untuk Danishka dan para kaum perempuan yang masih melawan. untuk segala kehormatannya.(*)

 

Penulis: Abrisal
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.