RESENSI FILM: Persahabatan Antara Kebencian dan Kematian

Film: The Man With The Iron Heart
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Film : The Man With The Iron Heart
Sutradara : Cédric Jime
Tanggal rilis : 7 Juni 2017 (Prancis)

JOGJA di guyur hujan sore itu, semangatku pun sempat surut, takut kalau-kalau hujan mengambil kekuatanmu, lalu kamu lemah, nanti flu, jadi sakit terus aku sedih. Ah, benar memang, hujan selalu memberi efek baper. Cukup. Kuberanikan diri saja untuk memaksa minta ditemani nonton. Tekadku sudah bulat, aku kebanyakan baca teori! Waktunya nyeleneh-nyeleneh sedikit. Yo wis aku siap ke KUA, oh bioskop maksudku.

21 April masih ditahun ini seorang anak laki-laki membonceng gojek, memanggil ingatanku tentang hari pahlawan nasional, ya R.A. Kartini, sebelum kesalahan semakin fatal maka aku pun turut andil mengucapkan selamat hari Kartini pada temanku, sembari menyentilnya untuk rajin-rajin lagi membaca, sentilan kubingkis khusus lewat pesan whats up biar gaya dan kekinian, walau tepatnya aku tak punya pulsa untuk sms maka kudedikasikan jasa WA untuk berkirim ucapan.

30 menit berlalu, setelah membantu teman membuat tugas, walau lebih tepat dikatakan setelah kenyang ngerjain tugas teman, aku meluncur menuju lokasi pemutaran film, biar kudeskripsikan, lokasi pemutaran film yang kupilih ini aman, tidak akan bubar jika tiba-tiba petir menyambar, ada lindu lewat atau hujan semakin deras, dan dapat dipastikan, lokasi pemutara film itu menyediakan kursi empuk bukan tikar. Cukup deklarasi mengenai lokasi yang aku pilih untuk nonton sore ini. Cihuy..

Awal membaca sinopsis yang cuma beberapa baris sebenarnya sama sekali tidak menjawab rasa penasaranku yang terlanjur comel, cerita hanya menyebutkan pengiriman utusan Hitler untuk membunuh bangsa Yahudi, please deh.. “sejak jaman gue SD, gue udah tau kalau mang Hitler pembunuh berdarah dingin, yang gue kepoin, menariknya film ini tuh apa gengs?…” setelah dikecewakan sinopsis toh aku masih berbaik hati memberikan kesempatan untuk tetap memilihnya, iyah memilih film ini untuk ku tonton.

Sungguh beruntung nasib ini, ditengah deras hujan dan tragedi kematian ponsel, temanku ternyata masih memperjuangkan kehadirannya yang teramat ditunggu, jika mengingat bagaimana perjuangannya untuk bisa hadir yang sebenarnya ngga dramatis-dramatis amat cukuplah untuk membuat sedikit terharu. Makasih son. Well done. Film dibuka dengan tampilan yang cukup terang, anak-anak berlalu berlanjut ke adegan dansa dan pertemuan pertama yang menjadi jalan keberlanjutan cerita tentang tokoh Reinhard dengan Lina sang jodoh, dalam beberapa menit pertama penonton sepertinya digiring untuk menikmati kilasan-kilasan kisah cinta Reinhard dan Lina meski tak cukup membuat baper tapi aku menemukan pesan bahwa meroketnya karir Reinhard Heydrick adalah berkat dorongan dan gedoran pintu oleh Lina, Heydrick yang saat itu tengah terpuruk karna sidang kedisiplinan militer
menguapkan semua emosinya dengan menghancurkan seisi kamar, gedoran pintu Lina dan ketegasan lina dalam satu kalimat mampu menghujani, memadamkan, menundukkan dan mengikat amarah hati Heydrick “apapun yang terjadi aku tetap memilihmu, menjadi istrimu” begitu kira-kira kalimat kerennya. Alamak.. dibalik laki-laki kuat ada wanita galak dibelakangnya. Intepretasi lain yag sah-sah saja peresensi lakukan. Haha.. hak veto.

Baca juga:  RESENSI FILM: "Gabbar", Merawat Kebencian Anak Muda untuk Melawan Korupsi

Kondisi Jerman yang tengah terpuruk dalam bidang ekonomi, serta penguasaan sektor dagang oleh kaum Yahudi yang memang tengah lama terjadi ternyata membuat luka dan amarah yang bagaikan bola salju dihati Hitler, yang semakin lama menggelinding semakin besar ukurannya. Menjawab pertanyaan teman nontonku biar ku bingkis sekalian disini apa motif yang membuat Hitler menjadi begitu benci pada Yahudi.

Pertama, Hitler terlahir dari bangsa Arya dimana keturunan asli penduduk Jerman, mereka merasa bahwa merekalah sebaik-baiknya ras dan memandang ras lain hanyalah second Ras dan seterusnya, ditambah ketimpangan ekonomi yang dimana bangsa Yahudi menguasai perdagangan sehingga dapat memonopoli perekonomian berbagai kota besar di jerman.

kedua, Hitler sedari kecil memang telah terdoktrin membenci bangsa Yahudi, pada saat itu bangsa Arya memang sudah memiliki polemik berantai yang membuat sekat besar untuk keduanya hidup berdampingan, hingga perjalanan hidup Hitler yang sulit dan kegagalannya bersaing untuk masuk sekolah musik setelah harta warisan ayahnya habis semakin memupuk subur kebencian Hitler pada bangsa Yahudi.

Ketiga, ketika Perang Dunia I saat itu bangsa Yahudi menguasai perdagangan yang juga bersinggungan dengan unit militer, bangsa Yahudi tidak membantu jerman untuk dapat memenangkan perang dunia dan hanya berpihak pada pihak yang mampu membeli dan memberikan keuntungan bagi mereka. Itulah yang juga semakin memupuk kebencian Hitler akan bangsa yahudi sehingga “fiks.. yahudi kudu Done” itu mungkin kata-kata yang akan di ucapkan Hitler jika ia sudah terkontaminasi virus kids jaman now atau kalau Hitler setidaknya sempat ngobrol dengan Aukarin. Bhwak.. ngga nyambung.

Balik ke Film, setelah insiden ngamuk. Heydrick pun berkenalan dengan Camer, tau kan camer? ga perlu lah rasanya aku kerepotan menjelaskan apa kata panjangnya camer, please deh.  Perkenalan itu membuka jalan mulus layaknya jalur tol bagi Heydrick dalam menekuni karirnya dalam ranah penJagalan. Di dukung oleh istri cantik, keluarga yang utuh dan anak yang nurut karir Heydrick semakin melejit.

Baca juga:  Melihat Dampak Pertambangan, Dema Fakultas Adab dan Humaniora Gelar Bedah Film Sexy Killers

Setelah pernikahannya karir Heydrick dalam organisasi Nazi semakin melejit, menduduki posisi penting di SS (Schutz staffel) membuat tangan dan  pantulan pistolnya penuh lumuran darah. Bagai daun jatuh di musim gugur, tubuh-tubuh manusia yang secara paksa direnggut nafasnya mulai bergelimpangan. “Dor!!” jika kau dengar itu, setidaknya 7-10 nyawa manusia dengan tuntas melayang. Bahkan ada pula inovasi cara baru yang lebih efisien dan ekonomis, dengan memasukkan puluhan orang kaum Yahudi kedalam satu barak lalu menutup pintunya rapat-rapat dan Dwar!!.. Pop Corn pun matang, bukan-bukan tepatnya tubuh-tubuh kaum Yahudi bertebaran karna granat yang dilempar kedalam barak yang terkunci itu. Sungguh… aku bertanya-tanya “benarkah orang-orang itu mau mati begitu saja? Tak tau kah mereka bahwa hidup mereka berharga?..” tidak, ini pesan terselubung untuk kaum jomblo. Bahwa kalian berharga gengs.. tetap semangat..

Kekejian yang tumbuh subur di hati Hitler ternyata mengakar kuat pula pada hati Heydrick, kepercayaan skaligus tangan kanan Hitler dalam mencari informasi-informasi kaum Yahudi yang menduduki posisi-posisi strategis dalam pemerintahan dan dalam perdagangan. Kaum Yahudi di buru dan bantai habis. Berbagai taktik dilakukan kaum Yahudi, mereka membuat kode-kode tertentu dalam rencananya untuk membunuh Panglima Nazi berhati besi itu. Bunga, kaca, dan gereja menjadi basis juga tameng perlindungan Kaum Yahudi dari pemburuan Nazi.

Salam persahabatn ala jerman dengan menempelkan hidung dengan hidung, begitu kentara dalam film ini, beberapa kali adegan yang ketika 2 orang utusan kaum Yahudi telah berhasil mencelakakan Heydrick dengan membuatnya terkena bom yang dilemparnya sendiri. Heydrick mati dengan keyakinan penuh bahwa kaum Arya lah yang terkuat, walau pada akhirnya dalam peperangan menang jadi arang kalah jadi abu adalah kehaqiqian yang pasti terjadi. Jika teman-teman sedang kebetulan membaca resensi ini dan mulai penasaran dengan film ini, disarankan untuk mencari tau atau sudah mafhum banget alasan Nazi membunuh bangsa Yahudi, sehingga kesalahn fatal seperti teman nonoton saya yang akhirnya menyerah dan tidur ditengah pemutaran film tidak anda alami. Serta berhubung durasi film ini cukup lama, kusarankan bawalah bekal makanan secukupnya agar saat menikmati film ini anda tetap konsen, tidak ngantuk dan pas nempel di ingatan pesan dan adegan-adegan kethenya. Sedap.

Baca juga:  RESENSI FILM: Satu Alasan Mengapa Memilih Pendidikan Alternatif!

Film ini memperlihatkan dendam selalu bersahabat baik dengan kematian, nyawa seseorang, arti kehidupannya, wanita maupun laki-laki, dewasa, bayi anak-anak tak layak hidup jika itu masih bersinggungan dengan dendam. Satu manusia penuh dendam, kekuasaan yang dimilikinya, kecerdasan berstrateginya menjadi alasan cukup kuat untuk menjadikannya jiwa yang berbahaya. Maka sebaiknya memang tumbuhkanlah kedamaian dan cinta di hati seluruh manusia.***

 

Penulis: Ana Melani Sakmad
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.