RESENSI FILM: Tidak Ada Larangan Bagi Seorang Untuk Dapat Bersekolah, Sekalipun Ia Difabel

Film : Hichki
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Judul Film : Hichki
Sutradara : Siddharth Malhotra
Produksi : Yash Raj Films
Tanggal Rilis Film : 23 Maret 2018 (Indonesia)

SEORANG perempuan bernama Naina Mathur, berjuang dan membuktikan bahwa dia sama seperti manusia pada umumnya, meskipun memiliki penyakit Sindrom Tourette atau Suatu gangguan sistem saraf yang menyebabkan gerakan berulang atau suara yang tidak diinginkan.

Sejak kecil Naina dibully akibat penyakit Sindrom Tourette yang dideritanya. Guru di sekolahnya pun tidak nyaman dengan penyakit Naina, ia menganggap penyait Naina tersebut membuat gaduh saat guru mengajar. Hal ini membuat Naina harus dikeluarkan dari sekolahnya, demikian juga kepala sekolah menganggap Naina tidak normal, dan meminta agar Naina disekolahkan di sekolah khusus.

Perjuangan ibu Naina yang yakin bahwa ia dapat bersekolah di sekolah yang normal seperti yang di dapatkan murid atau anak-anak pada umumnya. Naina harus berpindah-pindah dari 12 sekolah yang sudah mengeluarkan Naina karena merasa terganggu dengan suara cegukan yang kerap ia keluarkan.

Sampai akhirnya Naina masuk di salah satu Sekolah bernama St. Notker’s, di sekolah inilah ia menemukan seorang kepala sekolah yang baik, yang menerima Naina layaknya murid lainnya, dan membuat Naina lebih bisa dihargai dalam sekolah tersebut.

Perjuangan Naina membuahkan hasil yang istimewa dimata Naina Mathur, dengan keadaan seperti itu, Naina berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan dan Magister Sains. Banyak pertentangan dari apa yang di derita Naina sampai ketika Cita-citanya menjadi guru ia bulatkan, Bahkan, ayah Naina juga meremehkan kemampuannya untuk menjadi seorang guru. Meski demikian, Naina tetap ingin menjadi seorang pendidik.

Walhasil, ia diterima disalah satu sekolah terbaik setelah ia ditolak 18 instansi pendidikan karena penyakit Sindrom Tourette yang dideritanya. St. Notker’s adalah satu-satunya sekolah yang menerima Naina sebagai guru. Meski sebelumnya ia ditolak hingga 5 kali dari St. Notker’s. Tak lain, Sekolah tersebut adalah satu-satunya sekolah yang menerima Naina sewaktu ia kecil dengan penyakit Sindrom Tourette yang dideritanya

Baca juga:  RESENSI FILM: Asimetris, Pembangunan Untuk Siapa?

“Tidak ada siswa yang buruk, hanyalah guru yang buruk”. Ucapan ini dipercayai Naina sebagai seorang guru ia mengetahui resiko untuk menjadi guru dengan keadaannya seperti itu, yang mengidap penyakit Sindrom Tourette, bahkan akan menjadi olokan siswa karena cegukannya.

Film Hichki mengajak kita keluar dari stigma umum masyarakat bahwa seseorang yang memiliki kekurangan karena penyakit yang dideritanya tidak memiliki kesempatan bersekolah di lingkungan normal. Amoralitas semacam itu terkadang direproduksi oleh sebuah Institusi yang bernama sekolah.

Murid itu tidak ada yang buruk atupun bodoh, sebab mereka masih perlu belajar dan mengejewantahkan pengatahuan yang mereka miliki dalam kehidupannya. Diskriminasi yang dialami Naina disekolah maupun di lingkungan sosialnya memberikan stigma negatif yang dilekatkan pada seorang anak yang memiliki keterbatasan psikis hanyalah satu dari sekian banyak penyimpangan dan intoleransi yang dilakukan oleh orang lain.

Hal ini membuat Naina bersemangat untuk meperlihatkan bahwa orang yang memiliki keterbatasan, ternyata bisa pula mentransformasikan pengetahuan lewat mengajar. Ia sangat menginginkan menjadi guru, tetapi banyak kendala yang harus dimiliki seperi ketika di dirumah, ayahnya mengingkan ia bekerja di bank dan mencari pekerjaan lainnya, tetapi itu tak membuatnya menyerah.

Naina memiliki suatu prinsip bahwa “Guru biasa hanya memberi ilmu, guru hebat membuatmu mengerti, guru yang hebat menunjukan cara mengamalkannya”, ia paham guru ataupun dosen itu lebih baik memberikan metode pembelajaran yang bisa dipahami oleh muridnya.

Metode pembelajaran yang di ceritkan dalam film ini, ialah bentuk pendidkan yang hadap masalah, ini sependapat dengan gagasan salah seorang revolusioner dari brazil yang bernama Paulo Freire, dimana metode pendidikan itu berfunsi dua arah, dimana kita belajar dengan teman bicara yang bisa saling memhami.

Baca juga:  RESENSI FILM: Black Panther dan Perjuangan Melawan Diskriminasi Rasial dan Gender

Film Hichki, adalah gambaran kehidupan pendidikan, masih kerap dijumpai, bahwa pendidikan adalah institusi yang selalu menciptakan kategori murid, baik itu normal atau sehat fisik akan berbeda ruang didikannya dengan yang memiliki penyakit atau keterbatasan seperti Sindrom Tourette seperti yang dimiliki Naina Mathur.

Demikian juga diskriminasi, selalu diterapkan dalam bentuk bullying, atau dalam film tersebut di gambarkan, bagaimana kelas belajar bagi murid yang memiliki keterbatasan atau yang memiliki kelebihan baik harta ataupun fisik dan mental terpisah dalam ruang kelas yang berbeda.***

 

Penulis: Ibrahim Rangga M
Editor: Ahmad Mukhlis .H

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.