Sastra dan Pelacur yang Terhomat

Ilustrasi: Seaksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

PELACUR bisa terhormat dalam sastra. Jarang ada pandangan negatif dalam sastra. Para sastrawan berusaha mendalami sisi batin, pergolakan sosial psikologis, dan peran terhomat para pelacur dalam sastra. Para pelacur dalam beberapa abad lalu adalah wanita-wanita tangguh penakluk zaman. Seperti pada abad ke-6 dalam novel berjudul Wanita (2005), pelacur bukan hanya berurusan dengan ranjang. Theodora adalah seorang pelacur sekaligus wanita yang sangat cerdas hingga dapat menduduki posisi penting di Konstatinopel. Ketika itu bekerja sebagai wanita pelacur menjadi pertaruhan besar bagi mereka. Kecerdasan dan pengetahuan yang luas akan menunjukkan eksistensi pada masyarakat. Ditengah banyaknya persaingan dalam dunia pelacuran, Theodora medobrak dirinya untuk mampu menghadapi berkali-kali pengusiran demi ambisi menjadi wanita nomor satu di Konstatinopel. kegetiran hidup menempanya menjadi sosok kuat menuju puncak tertinggi perjalanan hidupnya.

Menilik Indonesia pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, tepatnya di Surabaya, pernah berdiri tempat pelacuran bernama Shinju. Diceritakan dalam novel Kembang Jepun (2003) wanita-wanita penghibur di Shinju disebut geisha. Untuk menjadi seorang geisha tidaklah mudah, para calon geisha harus dilatih seni Jepang selama bertahun-tahun seperti bermain musik, membaca puisi, bernyanyi, seni menyeduh dan menghidangkan teh, dan seni membuka kimono. Waktu ke waktu menghantarkan mereka pada rasa kecemasan akan semakin menuaya usia, menjadi geisha dengan pelanggan terbanyak adalah kehormatan besar bagi mereka, seringkali para geisha harus mengesampingkan perasaan mereka, sekedar menampilkan ekspresi tidak suka adalah aib. Ditengah kerasnya persaingan sebagai geisha rasa hampa merasuk. Cinta dan membentuk sebuah keluarga adalah tabu. Berporos pada pelayanan adalah mandat yang harus dijalani. Geisha tak punya ruang sekedar melabuhkan lelahnya hati menjalani hidup. Pelayanan adalah nafas yang harus dihirup geisha walau penuh debu yang menyesakkan paru-paru.

Baca juga:  Bagaimana Kapitalisme Menciptakan Kemiskinan dan Merawatnya?

Bahkan dalam novel fiksi karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (2011) juga mengisahkan pelaku seni yaitu penari ronggeng atau disebut dengan Nyai. Kembali menjadi ronggeng tidaklah mudah, tokoh Srintil harus melewati berbagai syarat untuk menjadi penari ronggeng, dari berlatih tari. Merawat tubuh hingga prosesi adat puncak pengukuhannya menjadi ronggeng adalah Ritual Bukak-klambu, di mana srintil harus rela memberikan keperawanannya pada lelaki yang mampu membayar paling mahal. Usia belia menyandang gelar penari ronggeng menjadi amanah besar bagi Srintil, tak di ijinkan untuknya tumbuh menjadi wanita seutuhnya. Srintil memiliki cinta dihatinya, memiliki naluri seorang  wanita namun itu harus terbunuh karna gelarnya. Berdiri kokoh mengemban mandat dan menikam perasaannya berkali-kali menjadi jalan hidup srintil. Semakin terkenallah sosok Srintil hingga emosi, tangis, cinta dan rindu kian dijauhkan dari hidupnya, ada banyak penyebutan-penyebutan yang digunakan oleh masyarakat untuk pelacur.

Namun, kini pelacur kerap mendiami titik nista. Pada buku Dolly (2011) yang menceritakan kisah-kisah para wanita yang memutuskan menjadi seorang pelacur karena tuntutan keadaan, ekonomi, dan tertipu iming-iming pekerjaan. Seringkali, para pelacur tersebut adalah korban keadaan yang menyulitkan mereka untuk memilih pilihan hidup yang lain. Sungguh sangat tidak adil memandang profesi pelacur tanpa mengetahui alasan mengapa seseorang mengambil keputusan melakoni hidup dalam pekerjaan itu. Pelacuran selalu dipadang negatif oleh masyarakat. Seperti yang dikutip dalam buku Agama Pelacur (2010) bahwa “Selama ada nafsu seksual maka selama itu pula akan ada institusi yang menyediakannya”. Ironinya, di satu sisi masyarakat menghujat, namun di sisi lainnya masyarakat pun membutuhkan. Berbagai tulisan menyuarakan pandangan soal pelacuran dari banyak sisi yang berbeda, akibatnya ekspresi dan instrument dalam memaknai pelacur pun semakin meluas.

Baca juga:  Dalil dan Etika Terhadap Lingkungan

Seperti pada novel Remy Sylado berjudul Ca Bau Kan (2002) juga mengangkat kisah pelacuran yang berlatar di Kalijodo. Tinung kini menjadi Ca Bau Kan di Kalijodo setelah sebelumnya berlatih Huang Mei Tiau, seni Tiongkok yang mempelajari bagaimana menyanyikan syair-yair Tiongkok. Berpisahnya Tinung dengan Tan Pen Liang membawanya kembali menjadi Ca Bau Kan dan bertemu dengan Tjia Wan Sen. Laki-laki itu berambisi memiliki Tinung seutuhnya, namun ajakan hidup berumah tangga Tjia Wan Sen ditolak Tinung dengan alasan masih mencitai Tan Pen Liang. “ Gampang juga Nung, ganti cinta gua”. Tinung tertawa “Mana bisa?”. “Bisa saja, buktinya selama ini Nung bisa saja berhubungan dengan sembarang orang yang memberi cinta buat Nung”. “Itu bukan cinta”. “Lantas apa?” “itu Cuma badan”. Keterpaksaan Nung menjadi pelacur di Kalijodo akibat paksaan ibunya menimbulakn tafsiran lain di pikiran Tjie Wan Sen, memperlihatkan bagaimana pandangan masyarakat masih sangat lekat menghubungkan antara cinta dan seks. Sedangkan pada cerita ini ekonomi dan paksaan orang tua lah yang menyebabkan Nung mau bekerja sebagai pelacur. Dan pada saat itu, masyarakat tidak mempermasalahkan ketika seseorang di anggota masyarakatnya memutuskan untuk menjadi pelacur dan hal itu di anggap lumrah.

Sastra mengungkap sisi lain mengenai pelacuran bukan hanya dipandang dari persetubuhan. Budaya juga menempati peran yang secara tersirat dalam beberapa kasus ikut menghantarkan pada profesi pelacuran. Sastra tidak takut mengungkap banyak sisi dalam penokohan sosok pelacur. Ironisnya kini pelacur sangat berbeda, dulu meskipun menjadi wanita penghibur, meskipun kerapkali kisahnya berawal dari ketragisan hidup. Tetapi pekerjaan pelacur tidak menghalangi mereka untuk tetap menunjukkan kemampuan dengan segala pengetahuannya. Jika dibandingkan dengan pelacuran saat ini sungguh berbanding terbalik, tak sedikit dari mereka adalah korban dari ketidakberdayaan melawan kesulitan ekonomi. Dan semangat para wanita penghibur saat ini dalam mencerdaskan dirinya sudah sangat langka ditemui.***

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.