Sebuah Catatan: Mereka yang Terusir

Seorang warga sedang mengangkut bahan pakan ternak sapi di salah satu jalur masuk Dusun Mapung, Desa Tabbinjai, Kec. Tombolo Pao, Kab. Gowa, (29/12/18). (doc.jendelapost.com/Emmang)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

DI DATARAN tinggi Kabupaten Gowa terdapat sebuah perkampungan kecil dan lumayan berjarak dari ibukota kabupaten. Kampung itu adalah Dusun Mapung. Malam hari saya tiba di kampung yang dingin itu setelah berjibaku dengan jalanan yang menanjak. Sangat melelahkan bagi saya sebab tidak cukup terbiasa dengan rute dan kontur jalan seperti itu. Saya terbiasa dengan jalan lurus dengan ruas yang luas, landai sekaligus macet dan dipenuhi suara kendaraan yang bising. Ya, saya terbiasa dengan tipikal jalanan di kota-kota. Terutama di Kota Makassar.

Cukup melelahkan untuk sampai di Mapung mengingat kondisi jalan mengharuskan kami berjalan kaki. Kendaraan roda empat yang kami sewa tak cukup mampu untuk melaluinya. Mendengar medannya dijelaskan orang-orang rasanya sudah sangat melelahkan apalagi untuk menjalaninya. Ajakan untuk menghadiri deklarasi organisasi pemuda tani Garda Batara, Sekolah Alternatif Pattaneteang dan Festival Pangan adalah godaan tersendiri yang pada akhirnya mendorong saya mengikuti teman-teman Konsorsium Pembaruan Agraria Wilayah Sulawesi Selatan untuk menempuh Mapung.

Dusun Mapung secara administrasi adalah bagian dari Desa Tabbinjai Kecamatan Tombolo Pao sejak pemerintahan kolonial Belanda. Jarak Dusun Mapung dari pusat administrasi Desa Tabbinjai kurang lebih tujuh kilometer dengan kondisi jalan penuh bebatuan dan tanah yang  bergelombang. Jaraknya sekitar 3 jam jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sedangkan dari Malino ke Desa Tabbinjai kurang lebih sejam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Jarak dari Makassar kurang lebih tiga jam hingga tiba di Malino. Kiranya perjalanan tujuh jam harus ditempuh sebelum akhirnya tiba.

Namun rasa lelah itu terurai dan perlahan hilang setelah mendapati keramahan warga yang didominasi petani itu seolah mendekap kami. Sambutan hangat atas kedatangan kami di kampung itu sedikit membenarkan nuansa kampung yang kerap ramah pengunjung. Tetapi saya tiba-tiba berpikir. Apakah semua pengunjung yang berdatangan bisa berlaku sama? Jawaban atas pertanyaan ini bisa saja menghadirkan cerita lain.

Di sebuah bale-bale atau sejenis gazebo yang sepertinya berada tepat di tengah-tengah kampung tengah diramaikan beberapa pemuda-petani yang berkumpul. Bale-bale yang kira-kira berukuran 4×5 meter itu merupakan tempat yang dibuat warga untuk pertemuan atau musyawarah bagi para petani di Mapung. Sebagai orang yang baru pertama kali berkunjung, saya merasa beruntung bisa ke tempat tersebut untuk bersua dan saling berbagi cerita.

Angin menghembus sejuk. Kopi hitam hangat segera tersaji. Saya dan pemuda-pemuda setempat mengepulkan asap tembakau lebih sering. Ucapan terima kasih spontan keluar dari mulut saya dan ditanggapi ramah. Lalu, mulailah mereka bercerita. Saya hanya lebih sering mendengarkan cerita-cerita mereka.  Saya merasa tidak memiliki hak istimewa sama sekali untuk bercerita banyak apalagi mendikte perihal banyak hal. Merekalah yang lebih banyak tahu sebagai subjek utama dalam mengarungi serta menjalani kehidupannya masing-masing. Lebih lanjut, saya hanya ingin berguru dan belajar lebih banyak dari mereka. Rasanya menyenangkan meski sering diinterupsi kegetiran-kegetiran yang hadir dari cerita-cerita mereka.

Di penghujung malam, cerita-cerita para petani di Mapung justru kian beralih ke hal yang lebih serius. Wajah-wajah itu kemudian saya lihat mulai menunjukkan beragam ekspresi. Kadang tawa hadir, lalu tetiba lenyap berganti kemurungan.  Rupanya masalah yang dihadapi warga, terutama tetua-tetua di puluhan tahun silam masih membekas hingga saat ini.

Cerita itu terus mengalir. Saya memberanikan diri menggeser posisi duduk sedikit lebih ke samping, lebih dekat lagi ke seorang petani. Ia mengenakan jaket berwarna biru dengan sebuah senter di genggamannya. Bapak bersarung dengan aneka warna itu kemudian bercerita lebih banyak.

Namanya Pak Tuo. Ia biasa disapa Puang Tuo oleh warga kampung. Ia adalah salah seorang petani yang sekaligus beternak. Umurnya kini 69 tahun. Ia berbagi cerita mengenai perjalanan hidupnya, bagaimana warga tinggal, bertahan dan tetap berkelindang di kampung yang saat ini mereka tempati. Cerita itu berlanjut hingga status kepemilikan dan penguasaan tanah garapan mereka yang dinilai masih harus atau penting diperjuangkan.

Menurut keterangan Pak Tuo, di kisaran tahun 1975 saat ia dan orang tuanya serta sebagian besar petani masih bermukim di perkampungan Lappara’na Mapung (lokasi hunian awal), mereka diberikan bibit pinus dan jati putih oleh seseorang yang datang lalu mendaku sebagai pegawai kehutanan. Warga lalu disuruh untuk menanamnya di tanah garapannya masing-masing. Para petani diiming-imingi bahwa bibit ini hanya untuk para petani dan untuk kepentingan warga setempat. Warga yang mendapat iming-iming seperti itu langsung saja menerima dan menanamnya. Pak Tuo mengakui bahwa ia serta beberapa petani lainnya memperlakukan pinus dan jati putih itu sebagaimana telatennya merawat tanaman-tanaman lainnya.

Dua tahun berselang, pasca pembibitan, kedua jenis bibit pohon yang dirawatnya sudah tumbuh membesar dan siap untuk ditanam. Di penghujung tahun 1978 itu proses penanaman dimulai, tapi, Pak Tuo dan tiga puluh keluarga petani lainnya justru diusir dari kampung halamanya itu. Menurut Pak Tuo, sekiranya ada tiga puluh keluarga petani lainnya yang terusir dan terpencar di beberapa desa tetangga untuk memulai kembali hidupnya dari nol. Tempat yang ditinggali dan tanah yang digarap sebelumnya sebagian besar telah diklaim masuk ke dalam kawasan peruntukan program penghijauan kehutanan saat itu.

Apa yang terjadi di Dusun Mapung adalah hal yang serupa terjadi hampir di setiap dusun-dusun di dataran tinggi Kabupaten Gowa, terutama yang hidup di sekitar hutan. Salah satu hal serupa terjadi di Dusun Matteko yang juga masih termasuk dalam wilayah Kecamatan Tombolo Pao. Berdasarkan temuan Mongabay tahun 2013,  hutan adat Matteko dipenuhi tanaman pinus dengan modus serupa.

“Upaya perampasan tanah adat Matteko berawal dari Dinas Kehutanan (Diskhut) Gowa tahun 1977 masuk program pembibitan pinus. Awalnya, Dishut membagikan bibit pinus untuk dikelola warga. Karena ada upah dan iming-iming pengelolaan pinus kelak jika sudah besar, warga pun sukarela proses pembibitan itu.” (Sapariah Saturi, 2013, mongabay.co.id, Masyarakat Adat Matteko, Berjuang Mengembalikan Hutan yang Terampas, 30 Juli 2013).

Di dataran tinggi, kejadian seperti ini menjadi sesuatu yang kerap terjadi bahkan hingga saat ini. Pengusiran, intimidasi hingga kekerasan adalah sesuatu yang masih digelisahkan, ditentang dan dihadapi. Pak Tuo dan warga lain yang saat ini bertani, beternak, dan berkebun di Dusun Mapung yang berjarak sekitar 4 kilometer dari kampung lamanya (Lappara’na Mapung) justru belum benar-benar bisa membenamkan sejarah pahit itu.

Pak Tuo yang telah terusir dari tempat ia hidup, kini tetap terancam dan terus dibayang-bayangi rezim kehutanan. Karena hingga kini pun, tanah garapannya adalah bagian dari klaim kawasan hutan. Ia dan pemuda pemudi masa depan dusun itu hidup di atas ketidakpastian kepemilikan tanah garapan.

Hari itu Pak Tuo bercerita sambil mengepul-ngepulkan asap tembakau yang dilentingnya sendiri. Sesekali ia meminum kopi yang disajikan istrinya, sesekali melihat ke kami, lalu kemudian sesekali tersenyum. Dari raut wajah dan sorot matanya, seolah ada hal yang susah direlakan untuk hilang tapi pada saat yang bersamaan sejarah pahit berpotensi berulang dan geliatnya lalu-lalang di hadapan mata.[*]

 


Reporter: Surahmat Tiro
Editor: Suherman JF


 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.