Selamat Ulang Tahun, Bung Pram!

Ilsutrasi: jendelapost (mukhlis alyo)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

SOSOK pengarang yang tak kenal menyerah dan telah membawa sastra Indonesia ke panggung dunia internasional. Seorang yang terus konsisten pada sastra yang mengarah pada kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kebebasan. Melalui kuartet buru-nya: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, namanya diganjar nominasi sebanyak tujuh kali sebagai kandidat peraih penghargaan Nobel Sastra. Namun, penghargaan bagi orang yang sebagian usianya berada dalam jeruji besi itu beranggapan bahwa ini “hanyalah sebagai anugerah, bukan untuk tujuan sesungguhnya”.[sic]

Sikap tegas yang berkecamuk terhadap orang-orang yang merendahkan harkat martabat manusia, yang tertuang, baik di dalam lisan maupun tulisannya itu bagaikan kobaran api menyala-nyala untuk menentang tetek-bengek. Demikianlah, Pramoedya Ananta Toer, yang arti namanya saja penuh kontradiksi identitasnya, meski ia adalah keturunan jawa, namun tak ada sekalipun niat keluarga memberi nama yang identik pada orang-orang jawa, sebab di tengah keluarga yang menggandrungi rasa kemerdekaan, baginya “jawasentrisme hanyalah sistem feodal”. Mungkin inilah suatu takdir akan namanya yang berbeda dari watak-watak masyarakat jawa.

Tepat bulan Februari, tahun 1925. Hari Jumat. Untuk menyatakan harapan patriotik, Ayah menghadiahi dengan nama: Pramoedya. Ibu pernah terangkan bahwa “pra” berarti yang terutama atau yang paling pertama sedang “moedya” berarti peperangan. Jadi, Pramoedya, artinya yang paling pertama dalam peperangan.

Para pengarang sastra ada yang menyukai dan ada pula yang tak menyukai karya-karyanya diakibatkan oleh perlawanan dalam kata-katanya yang bersikap jujur. Ia menyembunyikan perasaan skeptis dan kebencian pada kaum seniman atau sastrawan yang menciptakan karya hanya sebagai pemandangan estetik yang tidak mempunyai nilai kemanusiaan dalam karyanya. Makanya ia pernah berkata “Seorang avant garde bukan seorang penghibur, seorang avant garde selamanya berada pada berontak terhadap sesuatu yang mengurangi harkat martabat manusia. Yang menindas, yang tidak adil dan melawan kejahatan dalam tulisan-tulisannya. Kalau takut, jangan jadi pengarang!”. Karena itulah dari kalimat keberaniannya tersemat kesunyian, ketidakadilan, yang menghantui dirinya sendiri.

Dari sebuah kisahnya yang bernasib menjadi penulis, penjara Belanda dan Jepang sudah ia lewati, penjara Orde Lama diakibatkan memihak kaum Tionghoa di Indonesia juga pernah dari penangkapan angkatan darat, bahkan usia mudanya dihabiskan di sel penjara dan kamp konsentrasi di pulau Buru di bawah kekuasaan diktator Orde Baru Suharto, membuat ia kenyang pada kesunyian hidup akibat konsekuensi seorang pengarang yang terus berani menentang kebodohan. Dan hanya kesunyian pula yang menjadi karib-akrabnya semenjak dilahirkan ke dunia. Kesunyian perlahan-lahan mengajarkan padanya untuk bertahan hidup dan terus melawan, kesunyian mengajarkan padanya berani menentang tirani! Meski perlawanan itu membuatnya terus kalah tapi berkali-kali ia bangkit dan bangkit kembali. Karena itulah hakikat hidupnya adalah bangkit untuk melawan.

Itulah Pram, sosok pengarang yang bercirikan keberanian. Seorang individualis yang jujur, yang dalam setiap sesi wawancara senantiasa duduk di depan mesin ketik keramatnya, memakai sarung, dan tak luput asap rokok  mengepul di ruang perpustakaannya.

Baca juga:  Belajar dari Kepemimpinan Vladimir Lenin dan Fidel Castro

Proses Kreatif Seorang Pengarang

Saya penasaran bagaimana proses kreatif seorang Pramoedya Ananta Toer sehingga bisa memenangkan penghargaan Magsaysay Award Filipina. Sampai-sampai di dalam negeri hal itu memunculkan polemik tersendiri, satu menentang karena tindakan masa lalu Pram yang mengekang kebebasan berekspresi dan berpedendapat di masa paling gelap bagi kreativitas pada zaman demokrasi terpimpin dan lain mengemukakan bahwa tindakan masa lalu semustinya bukan menjadi tolak ukur dari sebuah karya. Tapi itu di luar pembahasan.

Mungkin kita bisa mengikuti kerja sehari-hari Pram; mengklipping, atau mengingat-ingat kesalahan sehari-hari yang dilakukan dan berjanji tidak mengulangi, sebab bagi Pram proses kreatif terletak pada “persoalan bawah sadar”. Karena “menulis itu memang kerja intelek. Jadi mesti ada perancanaan. Ada bahan. Ada yang hendak dicapai,” sedangkan riset yang diperlukan adalah banyak membaca. Namun tulisannya bukan sekedar menulis (picisan), melainkan tulisannya tetap berkait dengan kemanusiaan. Tulisan kemanusiaan adalah materi terbesar.

Disitulah titik penting karya Pram, pengalaman. Tak bisa disangkal bahwa masa lalu Pram benar-benar mengiris perasaan sehingga ia mampu membuat tokoh-tokoh dalam novelnya terasa begitu hidup bagaikan orang yang menghantui para pembacanya. Kemelaratan hidup mengantarnya jadi bagian dari sejarah kepenulisan. Belum lagi pekerjaan menterjemahkan novel, seperti John Steinbeck, Maxim Gorky, Leo Tolstoi dan lain-lain, pula turut memengaruhi proses kreatifnya sebagai pengarang. Bagi Pram, “Mengutak-atik bahasa” bukanlah rumusan menulis. Melainkan bagaimana karya tersebut dapat dipahami oleh pembaca.

Pengaruh dari diktum Maxim Gorky, bahwa “rakyat harus memahami sejarahnya” menjadi pegangan hidup Pram. Arus Balik, Arok Dedes, dan Mata Pusaran, misalnya, yang bercerita tentang kerajaan Majapahit melintasi suatu peristiwa sejarah masyarakat Jawa. Karena tujuan utama Pram pada pembacanya, adalah bagaimana seorang pembaca mengerti akan suatu peristiwa sejarah. Dan alangkah lebih hebatnya lagi jikalau pembacanya paham dan mampu membuat peristiwa bersejarah.

Walaupun tak bisa disangkal profesi kepenulisan Pramoedya adalah mata pencahariannya, namun tanggung-jawab kepenulisan Pram terus menghindari kerugian pada pihak pembacanya — akibat tulisan klise yang berdampak pada dekadensi pemikiran — tetap berusaha menghindari melalui tangan dan pikiran dari kejujurannya. Wajar seorang Gus Dur memerintahkan untuk menjadikan karya-karya Pram sebagai “bacaan wajib” diakibatkan konsistensi seorang Pram yang berbeda dengan penulis lainnya yang motif utama hanyalah bagaimana ia meraup keuntungan tidak memikirkan ‘apakah karya saya layak dimuat? Sehingga pembaca saya paham akan maksud tulisan ini sebenarnya’. Sebab itu seseorang yang tidak mempunyai prinsip kepenulisan seperti itu (tidak memandang fungsionalitas akan karya tersebut mempengaruhi bacaan), ia bukanlah seorang penulis ulung dan cermat, kata kasarnya tak perlu dianggap!

Ada lagi keajaiban Pram dalam kreativitas menulis yaitu menghadirkan intonasi. Jadi, ritme bacaan disajikan oleh Pram kepada pembanya. Makanya ketika ia membacakan karyanya, intonasinya seperti dalang wayang. Ini menunjukkan ada ciri khas antara pembacanya dan dia yang melekat. Bagi saya, pentingnya intonasi bukan hanya sekedar pembeda gaya sastra yang berciri puiti. Melainkan ada nuansa jiwa penulis yang turut terbayang-bayang ketika nada bacaan mengikuti seorang pencipta.

Baca juga:  Cerita Lain, Jejak Benda Tulisku

Intonasi amat penting untuk mengikuti ekspresi pengarang melukiskan alur cerita, seperti kutipan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, “surat ini takkan bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu-kau, yang sedang berbahagia dalam suasan pengantin baru”. Kutipan tersebut tidak boleh sekedar terucap dalam hati tanpa ritme bacaan, sebab yang dibutuhkan adalah spontanitas pembaca saat mengikuti gaya ucapan Pram untuk ekspresi langsung. Agar pembaca ikut-serta merasakan kekecewaan Pram saat anaknya menikah di waktu pengasingannya. Dan mengantarkan kepada pembaca bahwa perasaan “permenungan dan pengapungan” salah satu pikiran Pram membayangkan keluarganya. Sebab itulah terpakainya intonasi, mulai dari paragraf awal sampai akhir terekspresikan atau terpahami. Bukan cuman terletak di baris ide pokok semata yang terekspresikan oleh pembaca.

Juga metode pulau buru salah satu hal yang efektif bisa dilakukan. Jadi, metode itu mengajarkan seni-kepenulisan dengan memberikan argumentasi dan pernyataan pada kawan, guru dsb. Kemudian lawan bicara memberikan sebuah komentar apa-apa saja yang kurang sebelum dituliskan. Dan metode ini dilakukan oleh Pram untuk mengingat kembali dokumentasinya yang tersimpan dan dibakar oleh angkatan darat yang sebagai alternatif pengingatnya lewat komentar-komentar kawan-kawannya, karena itu hal ini mengajarkan betapa pentingnya saran-saran atau kritikan seorang di dalam kepenulisan.

Pram dan Kaum Muda

Pram semasa hidupnya tak henti memberi strategi untuk kaum muda. Baginya “kaum muda harus memimpin” demi melanjutkan semangat revolusioner dari pengalaman kaum muda angkatan ‘28 dan ‘45. Strategi tersebut diungkapkan dengan “kaum muda musti memutuskan perkara negara dan melanjutkan pergerakan yang diimpikan. Sebab esok atau lusa mereka akan memimpin”.

Mengapa Pram memihak kaum muda sepenuhnya? alasan tersebut dilatar-belakangi, sejatinya kaum muda bebas dari sistem politik serta tindakannya tidak terbatasi oleh kebebasan bertindak ke hal yang lebih baik. Karenanya cuman angkatan muda memiliki semangat revolusioner dibanding dengan angkatan tua yang terkekang akibat sistem perpolitikan negara dan alih-alih terpatok ke hal-hal kepentingan individual dan dunia semata dari kebutuhan hidupnya.

Dari usia belia sampai usia tua Pram, ia amat mengharapkan negara dijalankan oleh angkatan muda. Sebabnya “Indonesia mau begini, mau begitu, terserah angkatan muda, mau hijau, mau putih, silahkan. Asal lebih baik dari sebelumnya”.

Namun angkatan muda bagi saya hari ini, mengalami kemunduran. Dahulu angkatan muda tak pernah menyerah untuk berjuang meraih kemerdekaan. Maka lahirnya seperti Soekarno, Sjahrir, Hatta, di usia mudanya untuk menghentikan imperialisme dan kolonialisme mempunyai tujuan yang sama. Bahkan sekelas D.N Aidit memimpin partai negara di usia 27 tahun, salah satu cerminan kaum muda di seluruh dunia mempunyai sejarah yang baik.

Baca juga:  Nelson Mandela: Penyingkir Bayang-Bayang Gelap Apartheid

Hal itulah menjadikan kemunduran bagi Indonesia dikarenakan kesadaran sosial pemuda yang pada taraf rendah semakin hari semakin terkekang oleh sistem kenegaraan karena hilangnya organisasi pemuda yang menjadi basis utama meruntuhkan keterasingan kehidupan manusia, kini terpecah-belahlah pemikiran organisasi pemuda akibat hegemonik Negara lewat perantara jam kehidupan akademis dan jam kerja kaum muda, yang melatarbelakangi lenyapnya kesadaran bawah sadar akan situasi sosial yang terjadi, makanya Pram pernah berkata: “Lupakan kuliah 2 tahun, tindakan itu lebih mulia…” kini negara melakukan suatu hegemonik pada kaum muda lewat perantara waktu dan kompetensi akademis yang padat dengan suatu ungkapan yang dibangga-banggakan, ‘orang yang sukses ketika ia berhasil dalam urusan pendidikan formal’. Sebuah ironi yang berlangsung.

Mari kita memperjelas kembali, kaum muda yang semakin asik dengan kehidupan akademis yang menurut mereka suatu kendaraan masa depan agar mencapai cita-citanya sendiri. Impian dunia yang bahagia secara bersama-sama dilupakan akibat lemahnya mereka pada kehidupan kontradiktif. Ini adalah pukulan telak tersendiri bagi mereka, tunduk pada sebuah sistem dan menyembunyikan pemikiran atau ide-ide yang besar kemungkinan merubah haluan politik lewat kritikannya yang cadas.

Dengan ironi tersebut negara makin menutupi diri sebab penyerahan kehidupan angkatan muda ke tangan angkatan tua memaksakan jati dirinya bernasib sama nasibnya angkatan tua yang mementingkan kehidupan individual semata sehingga ia dibuat ikut dan manut saja oleh kebijakan angkatan tua. Karenanya pula, watak-watak angkatan muda yang berani menyatakan kebenaran dahulu, kini menuju pada ambang kepunahan akibat fetisme (pemberhalaan materi) di segala penjuru negara yang bercorak kapitalisme.

Dari buku, Maxim Gorky, Ibunda, kita bisa bercermin kembali bagaimana perjuangan kaum muda kalah dan bangkit kembali: “kami kaum sosialis. Artinya, kami menentang kekayaan perseorangan, yang menyebabkan orang terenggut satu sama lain dan yang menciptakan adanya pertentangan-pertentangan kepentingan yang tak kenal damai.  Kekayaan perseorangan ini berjuang semakin lama semakin kuat dan mencoba sepenuh tenaga untuk menyembunyikan permusuhan ini dan karena itulah seluruh dunia menjadi busuk. Akhlak seluruh rakyat menjadi rusak —dirusakkan oleh kebohongan, kepura-puraan, dan kejahatan”. Begitulah penciptaan watak dari pelopor realisme sosialis oleh Maxim Gorky, lewat impian kaum muda di Uni Soviet atau belahan dunia lainnya lewat terjemahan Pramoedya Ananta Toer. Kaum muda harus kembali ke arah perjuangan sebelum penindasan ke arahnya dari faktor kaum muda salah satu pedang dunia untuk menentang kebusukan, kebohongan, yang tidak menjurus kepada kebahagian manusia.

Sebagai akhir pembahasan, saya akan mengutip karya Pramoedya Ananta Toer, Larasati, untuk kaum muda, “berkhianat pada revolusi ini berarti berkhianat pada diri sendiri, pada publik yang membayarnya”. Dan kutipan yang populer hari ini meskipun tidak seluruhnya dipraktekkan, “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”.[*]


Penulis: Pramudya Ananda Kelvin
Editor: Ahmad Mukhlis H


 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.