Setelah Sarjana Esok Apa Lagi?

Ulustrasi: Seaksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

“Ada kalanya bertahan hidup saja sudah merupakan tindakan berani”, (Lucius saneka)

“SELAMAT datang di pasar dunia kerja kak”, ujar seorang kawan kepada salah seorang senior yang baru saja kembali dari sebuah acara Wisuda, Nampak rasa bahagia dan senyuman dari wajah senior yang  telah berjuang menyelesaikan kuliahnya selama kurang lebih empat tahun. “Bakwan dulu kak”, celetuk seorang kawan. “Silahkan ambil dinda, ambil saja”. Tentu atraksi yang dilakukan senior ini membuat kami merasa senang sekaligus berfikir, andai saja setiap hari ada senior ataupun kawan yang wisuda, pasti tiap hari juga kita akan makan gratis.

Coba kalian perhatikan  tetangga, sahabat ataupun keluargamu yang memiliki title sarjana dan akhirnya pulang ke kampung halaman dengan menenteng selembar ijazah sarjana, sebulan, dua bulan mungkin masih terasa baik-baik saja, bulan ketiga  berlalu masih akan seperti biasa, dan ketika memasuki bulan keempat dan kamu masih lalu-lalang ke tempat nongkrong bermain gitar dan begadang setiap malam hingga tak tahu arah jalan pulang, mungkin akan mulai terdengar nada-nada nyinyir dari tetangga yang akan menjadikanmu sebagai trending topic di komunitasnya.

“We ibu Sitti, liatki bede itu anaknya Hj. Nurlela”,

“Yang mana ibu Ramlah?”

“Itu yang sarjana eh”,

“Oh, Irahing?”

“Iye, masa lamami sarjana baru belum adapi yang nakerja, malah toh setiap malam pergiji nongkrong sama anak-anak yang tidak sekolah bikin ribut-ribut lagi”.

“Iyo di’. itumi saya anakku nda mauja kasi kuliahki, lebih baik kusuruh pergi saja di Kalimantan kerja kelapa sawit,lebih menghasilkanji, ada tommi yang bisa nakirimkanka’ satu juta per bulan, dari pada ku kasi kuliahki, lebih banyakji namakan biaya, belumpi lagi uang SPP yang semakin mahal, biaya kostnya, ditambah lagi uang bulanannya, makanya kusuruh langsung kerja, karena itumi, kalo kuliahki juga belum tentupi dapat kerja, nda tau mau di apa itu ijazahnya, nda adaji gunanya”.

Baca juga:  Ketimpangan Dalam Kebijakan Negara

“Itumi juga ibu, anakku ini mau sekali kuliah tapi ku bilang sama dia, jangan mako kuliah nak, liat itu Irahing eh sarjana tapi nda adaji juga pekerjaannya”.

Percakapan Ibu-ibu diatas merupakan pernyataan sarkastik dan menohok namun realistis. Irahing adalah salah satu sarjana pengangguran dari sekian banyak sarjana yang tidak memilki kerjaan, bukan karena Irahing tidak mau bekerja, ia juga ingin bekerja bahkan sangat ingin. Ia pernah mengikuti seleksi menjadi pegawai di salah satu Instansi di Kabupaten tempat ia menetap, namun tak terpilih karena kalah bersaing dengan anak pejabat, sementara dirinya hanyalah anak seorang pegawai honorer yang penghasilannya pas-pasan. Terakhir ia juga mengikuti tes masuk di salah satu Bank swasta, namun lagi-lagi dia terpaksa harus menerima kenyataan tidak dapat diterima karena alasan yang sepele, Ia kurang tampan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, jumlah lulusan perguruan tinggi yang bekerja adalah 12,24 persen. Jumlah tersebut setara 14,57 juta dari 118,41 juta pekerja di seluruh Indonesia. Sementara pengangguran lulusan perguruan tinggi mencapai 11,19 persen, atau setara 787 ribu dari total 7,03 orang yang tidak memiliki pekerjaan. Kementerian Riset, Tehnologi, dan pendidikan Tinggi mencatat, saat ini ada 3.221 Universitas di seluruh Indonesia. Selain itu, masih ada 1.020 perguruan tinggi agama di seluruh provinsi. Saat ini setiap tahun rata-rata ada 750 ribu lulusan pendidikan tinggi baru dari berbagai tingkatan, (Harian Nasional,2016).

Jumlah sarjana pengangguran yang semakin meningkat dari tahun ke tahun semakin mengokohkan anggapan umum masyarakat yang menganggap ijazah sarjana tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan mendapatkan pekerjakaan dimasa depan. Perguruan tinggi kelabakan dengan menyeruaknya pengangguran yang bertitle sarjana, itulah mengapa nyaris disemua perguruan tinggi negeri maupun swasta menetapkan mata kuliah kewirausahakan untuk dijadikan sebagai mata kuliah wajib. Seminar kewirausahaan dan training motivasi yang semakin dimasifkan, Hal ini menurut Bernhard yang merupakan seorang aktifis dan pengelola jurnal wildcat, ia mengatakan Negara sudah tidak mampu mengakomodir ledakan lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya. Maka wajar saja bila kita menyaksikan banyak sekali sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan disiplin ilmunya, sarjana peternakan bekerja di Bank, sarjana hukum bekerja di kantor pos, lulusan ilmu hadis bekerja sebagai tim pemenangan calon gubernur. Akhirnya bekerja sebagai petani sebagai pekerjaan yang pokok yang menopang kehidupan manusia diabaikan karena dianggap sebagai pekerjaan yang kuno yang tidak layak dikerjakan oleh sarjana sebagaimana yang pernah dijelaskan sebelumnya pada tulisan Surahmat Tiro “Mengikisnya generasi petani”. Malu-maluta itu kalau jadi petani, sarjana ini kau eh masa jadi petaniji. kata salah seorang kawan yang pernah saya ajak berdiskusi masalah petani.

Baca juga:  Sastra dan Pelacur yang Terhomat

Pasar tenaga kerja yang dipandu oleh neoliberalisme akhirnya memaksa kita untuk mengikuti aturan main mekanisme pasar.Bukankah dengan merebaknya pengangguran akan semakin memperkuat bargaining position dari kelas kapitalis, ia kan? kalau tidak percaya, terserah anda. Lalu kemanakah Irahing? Alih-alih mencari kerja, Irahing lebih memilih untuk belajar ternak ikan lele sebagai jalan keluar untuk menghindari cibiran, cemoohan, hinaan, celaan dan makian dari ibu-ibu lorong. Lha! terus kalau sudah begini, apa yang harus kita lakukan? sudah, jangan banyak tanya, belajar dulu sana.

Mungkin pertanyaan terakhirnya adalah, “Apa sih, yang kalian harapkan dari selembar ijazah sarjana?”

[*]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.