Soroti Bagaimana Tambang Merusak Alam dan Korbankan Masyarakat, Simposium Gelar Bedah Film Sexy Killers

Suasana pemutaran film dokumenter sexy killers dalam kegiatan bedah film dan diskusi oleh simposium sul-sel, pada kamis (11/04/19). (jendelapost/ical)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

JENDELAPOST.COM, GOWA – Serikat Penggiat Konstitusi dan Hukum (Simposium) Sulawesi Selatan, menggelar diskusi dan bedah film dokumenter Sexy Killers. Kegiatan yang dilangsungkan di Sekretariat Simposium bertepat di kompleks perumahan Paccinongan Harapan, kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, pada kamis malam (11/04/19).

Film dokumenter produksi Watchdoc ini telah diputar diberbagai lokasi di Indonesia, kegiatan ini pula kerap dipadukan dengan diksusi pasca pemutaran film. Pada 11 April 2019, setidaknya terdapat 51 lokasi diberbagai daerah, menggelar kegiatan yang sama, semangat membedah dan mendiskusikan film dokumenter tersebut tampak mulai dari Mahasiswa demikian juga masyarakat umum.

Diksusi dan pemutaran film ini dipantik oleh Muhammad Ridha dan Firman Rusyaid dan di pandu oleh Muhammad Fathonadin sebagai miderator. “Negara ada atau tidak ada, pasar tetap bekerja” kata Muhammad Ridha. Menegaskan kajian Politik Ekonomi terhadap perampasan lahan yang cenderung dilakukan oleh Negara demi kepastian ruang produksi para pemodal. “Dibawah kapitalisme kehidupan akan terus memburuk, karena kapitalisme kerap menggunakan segala cara dalam mendulang akumulasi kekayaannya”, lanjutnya.

Potret kemiskinan yang mendera masyarakat sekitaran tambang batubara menjadi lanskap kehidupan yang kontradiktif, dihadapan perusahaan tambang batu bara, di samarinda, Kalimantan Timur. Tak jarang masyarakat disekitaran pertambangan berangsur kembali ke kampung halamannya akibat lahan transmigrasi yang dikelola mulai dimasuki dan dirusak oleh aktifitas pertambangan. Mereka yang bertahan akan hilang secara perlahan, akibat galian dari pertambangan yang mempegaruhi daya tahan tanah hingga membuat rumah warga banyak yang roboh dan bergeser.

Sejak dimulainya pada pukul 19.00 malam, antusias peserta begitu terlihat dalam proses diksusi pasca nonton bareng dilakukan. Salah seorang peserta diskusi, Muhammad Taqwin mengatakan, “dokumenter ini menjadi media yang memberikan kita sudut pandang yang berbeda untuk melihat suasana politik yang lagi berlangsung sekarang ini. Kita melihat di media mainstream, bahwa para pendukung pasangan calon presiden 01 dan 02 seakan bertarung, padahal para kandidat itu telah ketemu dalam dunia bisnis. Kedua kandidat dan para elit modal dilingkarannya membuat kita berfikir apakah mereka akan memprioritaskan kepentingan masyarakat atau para penambang yang telah ada di lingkarannya”.

Baca juga:  Menolak Privatisasi Waduk Sepat

Bisnis batubara yang begitu merugikan lingkungan dan kehidupan masyarakat di area pertambangan, ini pun merupakan tuntutan yang dihasilkan oleh industri keruk ini. Belum lagi bentuk relasi kuasa yang condong bermain dibalik kelangsungan bisnis batubara ini menunjukkan kuatnya hubungan pemodal dalam intervensi kebijakan pemerintah.

Dokumenter Sexy Killers juga mencoba mununjukkan jalan untuk menjelaskan oligarki bisnis batubara secara visual. Terlibatnya beberapa elit pemerintahan kedalam bisnis pertambangan batubara yang ada di kalimantan menunjukkan jaringan oligarki begitu massif di aktor para pemangku kebijakan. Tidak hanya itu, para aktor ini malahan aktif mendulang kekayaan demi pembiayaan politik demokrasi elektoral di Indonesia. Masing-masing kandidat presiden serta lingkarannya yang kini bertarung untuk memperebutkan kursi kepresidenan malah tercatat sebagai pemilik tambang batubara di Kalimantan. Rantai bisnis yang berlangsung disektor pertambangan batubara malah dikatakan telah menunggangi demorasi elektoral kita.

Meskipun Negara Kita Demokrasi, dimana keputusan politiknya dilahirkan oleh para perwakilan rakyat, namun demikian hanyalah formalitas yang kerap dilakukan dalam setiap tahunnya. Demokrasi yang harusnya mengakomodir kepentingan mayoritas masyarakat malahan tergantikan dengan nominal uang yang dimiliki oleh segelintir orang. Politik transaksionil menjadi fenomena nyata dalam sistem pergantian pejabat publik kita. Bagaimana tidak bila ongkos Politik Elektoral kita masih bergantung pada uang serta modal Investasi para kapitalis dalam suksesi politik demokrasi.

“Negara demokrasi dan tidak demokrasi, sama berbahayanya bila dikendalikan oleh pasar. Dimana kebijakan negara telah disetir oleh pada pemodal maka negara telah ketergantungan terhadal kepentingan para pemodal”, kata Ridha.

Menurut Firman, kemiskinan merupakan hasil  kostruksi pembangunan, pembangunan yang direduksi hanya sebatas material saja, menjadikan pembangunan itu terlepas dari kehidupan sosial, ekonomi masyarakat disekitarnya. Hingga kemiskinan tercipta berkat pembangunan kapitalistik yang mengedepankan akumulasi kekayaan dan perampasan dan berujung pemiskinan masyarakat yang tergusur dan didominasi oleh sistem produksi modern ala kapitalis.

Baca juga:  Dukungan Psikososial untuk Anak-Anak Desa Kumbasa

“Kemiskinan merupakan konstruk dari pembangunan yang dominan dalam kehidupan kita. Maka pelru mendevinisikan ulang gagasan pembangunan yang kini berlangsung”, ujar Firman.

Malah pembangunan berkelanjutan tak ditemukan didalam skema produksi yang kapitalistik ini. Logika yang mengedepankan akumulasi kekayaan dilakukan dengan cara perampasan dimana aktornya tak lain adalahN sebagai aspek legal bagi keberlangsungan modal.

Bisnis batu bura yang kini berlangsung secara massif didaerah penambagan hanya satu dari sederatan dampak yang ditimbulkan. Bisnis ini kembali mencatat korban yang terpapar asap sisa pembakaran batu bara. Pembangkit Listrik tenaga Uap sebagai tujuan dari aktifitas penambangan  batubara justru kembali mengancam masyarakat. Mereka yang hidup disekitaran PLTU malah terbalut abu sisa pembakaran batu bara, yang dikeluarkan justru dihirup oleh manusia hingga mendatangkan penyakit kanker dan gangguan pernapasan. Kandungan asap pembakaran batu bara yang tidak ramah terhadap tubuh juga membunuh tumbuhan disekitarnya.

“Awalnya kita mengira bahwa Bisnis batu bara ini hanya melahirkan perampasan lahan dan kubangan kolam bekas galian tambang, ternyata di dalam dokumenter ini lebih jauh menceritakan bahwa sepanjang proses produksi batu bara hingga ke tujuan akhir yakni PLTU menciptakan dampak yang sangat merugikan baik kehidupan manusia dan lingkungan”, tutup Firman.

 


Reporter: Rizal Karim
Editor: Ahmad Mukhlis H


 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.