Sunario, Sosok Penasehat Panitia di Balik Perumusan Sumpah Pemuda

Sunario, Sosok Penasehat Panitia di Balik Perumusan Sumpah Pemuda
Ilustrasi: Seaksi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

PEMUDA ADALAH aset bangsa,mungkin itu adalah sebuah pernyataan yang menggambarkan betapa pemuda memilikiperan yang cukup penting dalam upaya menuai kesejahteraan dalam suatunegara-bangsa, khususnya di Indonesia yang sama-sama kita cintai.

Sepak terjang pemuda di tanah air ini memiliki posisi strategis dalam sejarah membangun bangsa ini dari kelamnya kolonialisme hingga kemerdekaan yang hari ini kita rasa dan nikmati. Meski demikian, kita tahu hari ini ada ratusan bahkan ribuan kepentingan yang ingin merenggut kembali apa sudah diperjuangkan pendahulu kita. Yah, perjuangan belum berakhir.

Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo adalah salah seorang yang berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah negeri ini karena keseriusannya dan kegigihannya dalam menata kehidupan bangsa lebih baik lagi ke depannya, beliau lahir di Madiun, Jawa Timur pada tanggal 28 Agustus 1902. Ia adalah buah hati dari Sutejo Sastrowardoyo dan Suyati Kartokusumo.

Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo merupakan anak pertama dari 14 bersaudara. Ia juga terhubung secara kekeluargaan dengan Dian Sastrowardoyo, salah satu sosok perempuan yang cukup kita kenal dalam lingkup seni peran di negeri ini. Dian Sastro merupakan cucu Sumarsono Sastrowardoyo yang adalah saudara kandung atau adik ke-11 Sunario.

Sebagai pemuda, Sunario terlibat langsung dalam dua peristiwa yang menjaditonggak sejarah nasional di negeri ini. Pertama, Manifesto 1925 yang berisiprinsip perjuangan, yakni unity (persatuan), equality (kesetaraan),dan liberty (kemerdekaan) dan kedua, Kongres Pemuda II 27-28Oktober 1928 yang menjadi forum perumusan Sumpah Pemuda. Manifesto Politik 1925dicetuskan oleh organisasi mahasiswa Perhimpunan Indonesia di Leiden, Belanda.Saat itu ia berumur 23 tahun. 

Jenjang Pendidikan Sunario Sastrowardoyo

Pada tahun 1908, Sunario masuk ke Frobelschool (sekolah taman kanak-kanak) di Madiun. Di sekolah tersebut, ia diajar oleh guru-guru wanita  di antaranya yang bernama Acherbeek dan Mejuffrouw Tien.

Setelah ia lulus dari Frobelschool, ia masuk ke Europeesche Lagere School (ELS), yang merupakan Sekolah Dasar, Sunario tinggal di rumah kakeknya yang merupakan pensiunan Mantri Kadaster yang bernama Sastrosentono.

Baca juga:  Baharuddin Lopa, Sang Jaksa Legendaris yang Melawan Korupsi

Setelah menyelesaikan pendidikan di ELS, Sunario melanjutkan sekolahnya ke MULO, yang merupakan singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (sejenis dengan Sekolah Menengah Pertama) di Madiun. Ia bersekolah di sini hanya 1 tahun, dan pada tahun 1917 ia pindah ke Rechtschool  (Sekolah Menengah Kejuruan Hukum) di Batavia. Di Batavia, ia tinggal di rumah pamannya, yang bernama Kusman dan Kunto. DiRechschool, ia belajar hukum dan belajar bahasa Perancis. Sewaktu ia bersekolah disitu, ia menjadi anggota Jong Java.

Setelah ia menyelesaikan pendidikannya di Rechtschool, ia melanjutkan pelajarannya ke Belanda. Ia berangkat ke Belanda dengan biaya sendiri dengan menggunakan kapal sampai ke Genoa, lalu meneruskan perjalanan dengan kereta api ke Brussel, Belgia dan menginap di sana semalam. Setelah itu, ia pergi ke Den Haag dan mengganti kereta api menuju Leiden.

Di Leiden, ia diterima di Universitas Leiden dan mengikuti kuliah untuk program doktoral, sehingga pada tahun 1925 ia meraih gelar Meester in de Rechten (Mr) yang artinya ahli dalam ilmu hukum. Ia memutuskan untuk pulang ke tanah air dan menjadi pengacara untuk aktivis gerakan yang dikriminalisasi oleh rezim Hindia-Belanda. Saat berada di Belanda, Sunario juga merupakan salah satu anggota di Perhimpunan Indonesia.

Pada tahun 1926 di Bandung, ia berpartisipasi dalam pendirian NationalePatvinders-Organisatie bersama Rahim (ayah Rahmi Hatta) yang saat itusemua pandu diwajibkan memakai kacu merah-putih.

Kongres Pemuda

“Kerapatan Besar Pemuda” atau dikenal dengan Kongres Pemuda I dilaksanakan di Batavia (Jakarta) 30 April – 2 Mei 1926, yang diketuai oleh Muhammad Tabrani. Kongres Pemuda I ini dihadiri oleh wakil organisasi pemuda Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Studerenden Minahasaers, kemudian Jong Bataks Bond dan Pemuda Kaum Theosofi.

Baca juga:  Nelson Mandela: Penyingkir Bayang-Bayang Gelap Apartheid

Tujuan kongres pemuda pertama ini ialah membentuk sentral pembinaan perkumpulan pemuda dengan tujuan memajukan persatuan dan kebangsaan dan menguatkan hubungan antara sesama perkumpulan pemuda kebangsaan. Pembahasan yang dibahas di Kongres Pemuda I belum dapat diselesaikan dan disepakati untuk dibahas di kongres pemuda selanjutnya.

Sunario Sastrowardoyo merupakan perwakilan dari Jong Java pada Kongres Pemuda II yang dilaksanakan pada tgl 27-28 Oktober 1928 dan bertempat di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Ketua Kongres Pemuda II dipimpin oleh Sugondo Joyopuspito (PPPI) dan wakilnya Joko Marsaid (Jong Java), sedangkan Sunario dipercaya mengemban amanah sebagai Penasehat Panitia Kongres Pemuda II.

Selain itu, ia juga menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Pemuda II yang terbagi menjadi tiga sesi itu. Di sesi yang terakhir, Sunario mengemukakan isi makalahnya yang berjudul “Pergerakan Pemuda dan Persatuan Indonesia” di hadapan ratusan pemuda yang hadir di kongres tersebut. Sosok Sunario yang memiliki gagasan kebangsaan yang menjunjung tinggi pentingnya kekuatan persaudaraan mengemukakan bahwa “Kongres ini bersendi atas persatoean dan ketjintaan. Tapi persatuan itu tidak cukup di kalangan intelek saja. Maka ia menganjurkan mendukung gerakan kepanduan. Djika akan meninggikan ra’jat Indonesia, sokonglah kita poenja Pandoe baik dengan wang, maoepoen anak-anak, poetra-poetra, poetri-poetri menjadi kita empoenja Pandoe”.

Pada tanggal 18 Mei 1997 Sunario Sastrowardoyo meninggal dunia di usia 94 tahun di RS Medistra, Jakarta. Konsistensinya terhadap perjuangan dan kegandrungannya pada persatuan serta kesederhanaan pribadinya adalah suri tauladan bagi generasi masa kini maupun yang akan datang.***


Penulis: Rahmat Hidayat
Editor: Suherman JF


Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin
Share on print

Dukung kami, untuk terus membangun suatu konsep penyajian informasi yang kritis dan menyegerakan perubahan sosial.

Artikel Terkait

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.